Panduan Deteksi Dini, Cara Membedakan Mata Juling Asli vs Semu pada Anak

Cerupon.web.id – Mata anak yang terlihat tidak sejajar sering membuat orang tua khawatir. Namun, kondisi tersebut belum tentu merupakan mata juling atau strabismus. Pada sebagian anak, mata sebenarnya berada dalam posisi normal tetapi terlihat juling akibat bentuk wajah. Kondisi ini disebut pseudostrabismus atau juling semu.

Masalahnya, kedua kondisi tersebut memang bisa terlihat sangat mirip. Padahal, strabismus yang tidak ditangani dapat mengganggu perkembangan penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas. Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda awal tanpa menjadikan pemeriksaan di rumah sebagai pengganti pemeriksaan dokter.

Coba Perhatikan Pantulan Cahaya pada Mata Anak.

Salah satu pemeriksaan sederhana yang dapat membantu melihat kesejajaran mata adalah Hirschberg test atau pemeriksaan refleks cahaya kornea.

Caranya cukup sederhana. Arahkan senter atau lampu kilat ponsel dari depan dan minta anak melihat ke arah sumber cahaya. Setelah itu, perhatikan posisi titik pantulan cahaya pada kornea kedua mata.

Dokter Subspesialis Mata Anak dan Mata Juling JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Florence Meilani Manurung, Sp.M (K), juga menjelaskan cara pengamatan tersebut.

“Coba pakai flash light di HP atau pakai senter biasa, terus lihat pantulan dari lampu tersebut jatuhnya di mana dari mata,” jelas dr. Florence dalam konferensi pers peresmian Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC, Jakarta Pusat.

Dalam kondisi mata yang sejajar, pantulan cahaya biasanya berada pada posisi yang relatif sama di kedua mata. Sebaliknya, refleks cahaya yang tampak berbeda dapat menjadi petunjuk adanya penyimpangan posisi mata. AAPOS menyebut pemeriksaan cahaya tersebut sebagai salah satu cara sederhana untuk melihat apakah mata sejajar, sedangkan EyeWiki menjelaskan Hirschberg sebagai metode untuk memperkirakan posisi penyimpangan.

Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC, dr. Gusti Gede Suardana, Sp.M (K), mengingatkan:

“Kalau tidak simetris, segeralah mencari pertolongan ke rumah sakit untuk dilihat.”

Pantulan Simetris Belum Berarti Normal.

Ada satu hal penting yang perlu dipahami orang tua. Tes senter hanya merupakan pemeriksaan awal, bukan alat untuk memastikan diagnosis. EyeWiki dari American Academy of Ophthalmology menjelaskan bahwa cover test merupakan pemeriksaan yang lebih diutamakan bila anak cukup kooperatif.

Baca Juga:  Kupas Tuntas Mitos Operasi Mata Juling yang Bikin Orang Takut

Hirschberg digunakan terutama sebagai perkiraan awal atau ketika anak belum mampu mengikuti pemeriksaan lain dengan baik. Karena itu, hasil pantulan yang tampak simetris tidak seharusnya diterjemahkan sebagai “pasti tidak juling”.

Sebaliknya, bila pantulan tampak berbeda, orang tua sebaiknya membawa anak ke dokter mata untuk pemeriksaan lebih lengkap.

Kenapa Mata Anak Bisa Terlihat Juling Padahal Sebenarnya Lurus?

Kondisi tersebut disebut pseudostrabismus. AAPOS menjelaskan bahwa juling semu sering terjadi pada bayi karena jembatan hidung masih datar dan lebar, ditambah lipatan kulit di sudut dalam mata yang disebut epicanthal folds. Kombinasi tersebut dapat menutupi sebagian putih mata di dekat hidung sehingga mata terlihat seperti mengarah ke dalam.

Artinya, yang berubah sebenarnya bukan posisi bola mata, melainkan kesan visual yang ditimbulkan oleh bentuk wajah. Kondisi tersebut biasanya semakin tidak terlihat ketika struktur wajah anak berkembang. Namun, anak dengan pseudostrabismus tetap bisa mengalami strabismus sebenarnya di kemudian hari. Karena itu, orang tua tetap perlu memantau perkembangan mata anak.

Apa Bedanya Juling Asli dan Juling Semu?

Pada strabismus, kedua mata benar-benar tidak sejajar. Salah satu mata dapat menyimpang ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Penyimpangan tersebut dapat terjadi terus-menerus ataupun hanya pada kondisi tertentu. Sementara pada pseudostrabismus, bola mata sebenarnya sejajar. Secara sederhana:

  • Strabismus: posisi kedua mata memang tidak sejajar.
  • Pseudostrabismus: mata sejajar, tetapi terlihat tidak sejajar karena bentuk hidung atau kelopak mata.

Membedakan keduanya hanya dari foto atau pengamatan sekilas tidak selalu mudah. EyeWiki bahkan menyebut diagnosis pseudostrabismus seharusnya ditegakkan setelah strabismus sebenarnya terlebih dahulu disingkirkan.

Perhatikan Kebiasaan Anak Saat Melihat.

Orang tua juga dapat memperhatikan perubahan perilaku anak ketika melihat objek. Dalam laporan konferensi pers JEC, dr. Devina Nur Annisa, Sp.M (K) menjelaskan bahwa anak yang sering menutup atau memicingkan satu mata ketika berusaha melihat dengan jelas dapat menunjukkan adanya gambaran strabismus. Beberapa hal yang patut diperhatikan antara lain:

  • Salah satu mata tampak sering menyimpang.
  • Anak sering memiringkan kepala ketika melihat.
  • Anak sering menutup atau memicingkan satu mata.
  • Posisi mata tampak berubah ketika anak lelah atau melihat dalam kondisi tertentu.
  • Anak tampak kesulitan mempertahankan fokus pada suatu objek.

Tanda-tanda tersebut bukan diagnosis. Namun, bila muncul berulang, sebaiknya tidak diabaikan.

Mengapa Strabismus Perlu Dideteksi Lebih Awal?

Pada anak, sistem penglihatan masih berkembang. Ketika posisi kedua mata tidak sejajar, otak dapat menerima informasi visual yang tidak sama dari kedua mata. Dalam kondisi tertentu, otak kemudian dapat menekan informasi dari salah satu mata untuk menghindari kebingungan visual.

Baca Juga:  Kupas Tuntas Mitos Operasi Mata Juling yang Bikin Orang Takut

Jika berlangsung selama perkembangan penglihatan, kondisi tersebut dapat berhubungan dengan ambliopia. AAPOS menegaskan bahwa strabismus sebenarnya pada anak perlu ditangani lebih awal untuk mencegah gangguan penglihatan permanen. Itulah sebabnya orang tua tidak dianjurkan hanya menunggu dengan harapan mata akan lurus sendiri.

Pemeriksaan Dokter Tetap Menjadi Penentu.

Jika anak diduga mengalami strabismus, dokter mata dapat melakukan beberapa pemeriksaan. Selain mengamati refleks cahaya, dokter dapat melakukan cover-uncover test dan alternate cover test, mengukur besar penyimpangan dengan prisma, memeriksa ketajaman penglihatan, mengevaluasi refraksi, serta menilai kemampuan kedua mata bekerja bersama.

Pada anak yang belum kooperatif, Hirschberg test dapat menjadi salah satu pemeriksaan yang membantu memperkirakan kesejajaran mata. Dengan demikian, tes senter di rumah lebih tepat digunakan sebagai alat kewaspadaan awal, bukan sebagai pemeriksaan diagnosis mandiri.

Kesimpulan.

Mata anak yang tampak juling belum tentu menunjukkan strabismus. Pseudostrabismus dapat membuat mata terlihat tidak sejajar akibat bentuk jembatan hidung dan lipatan kulit di sekitar mata, terutama pada bayi dan anak kecil.

Orang tua dapat melakukan pengamatan awal menggunakan senter atau lampu kilat dengan melihat apakah pantulan cahaya pada kedua kornea tampak simetris. Namun, hasil pemeriksaan tersebut tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Hirschberg hanya merupakan pemeriksaan awal, sedangkan pemeriksaan cover test dan evaluasi mata secara menyeluruh lebih penting untuk memastikan ada atau tidaknya strabismus.

Bila pantulan cahaya tidak simetris atau anak sering memiringkan kepala, menutup satu mata, atau memicingkan mata ketika melihat, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata anak. Deteksi lebih awal penting karena strabismus yang tidak ditangani dapat mengganggu perkembangan penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia.

Sumber & Referensi.

  • Kompas.com. Benarkah Mata Minus, Silinder, dan Plus Menyebabkan Juling? – 20 Oktober 2023. Kompas.com.
  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Pseudostrabismus. AAPOS.
  • American Academy of Ophthalmology – EyeWiki. Sensory and Motor Testing. EyeWiki.
  • Kompas.com. Konferensi pers peresmian Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC, 10 Agustus 2026. Kompas.com.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Mengkaji secara kritis dampak kehidupan siber terhadap psikologi modern. Artikel-artikelnya berfokus pada fenomena kecemasan akibat validasi media sosial (seperti obsesi terhadap metrik engagement dan click-through rate), bahaya doomscrolling, serta panduan detoks digital untuk menjaga kesehatan mental.