Pola Makan Tinggi Lemak Berisiko Kanker Usus? Ini Pembuktiannya

Cerupon.web.id – Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang banyak ditemukan di berbagai negara. Selain faktor genetik, usia, dan gaya hidup, pola makan juga telah lama menjadi perhatian para peneliti karena dapat memengaruhi kondisi saluran pencernaan serta risiko kanker pada usus besar dan rektum.

Salah satu pola makan yang banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal adalah pola makan ala Barat. Pola makan ini umumnya ditandai dengan konsumsi makanan tinggi lemak dan daging, terutama jika disertai rendahnya asupan serat.

Meski hubungan antara pola makan dan kanker kolorektal telah banyak diamati, mekanisme biologis yang menjembatani keduanya masih terus diteliti. Salah satu bagian yang kini mendapat perhatian adalah mikrobioma usus, yaitu komunitas bakteri dan mikroorganisme lain yang hidup di dalam saluran pencernaan.

Sebuah penelitian terbaru memberikan petunjuk mengenai bagaimana pola makan tinggi lemak dapat memengaruhi bakteri tertentu di usus. Bakteri tersebut diketahui mampu menghasilkan senyawa deoxycholic acid (DCA) yang diduga dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan tumor kolorektal.

Apa Hubungan Pola Makan Tinggi Lemak dengan Kanker Kolorektal?

Pola makan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi lingkungan di dalam saluran pencernaan. Komposisi makanan yang dikonsumsi secara terus-menerus dapat memengaruhi metabolisme tubuh, produksi asam empedu, serta komposisi mikroorganisme yang hidup di usus.

Pola makan ala Barat umumnya memiliki kandungan lemak dan daging yang relatif tinggi, sementara konsumsi serat dari buah, sayuran, dan biji-bijian utuh cenderung lebih rendah.

Kondisi tersebut telah lama dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal. Namun, pertanyaan pentingnya adalah bagaimana makanan yang dikonsumsi seseorang dapat berhubungan dengan perubahan biologis yang akhirnya mendukung perkembangan tumor.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Gut memberikan salah satu kemungkinan jawabannya, yakni melalui perubahan metabolisme asam empedu yang melibatkan bakteri usus tertentu.

Mengenal Mikrobioma Usus.

Mikrobioma usus merupakan komunitas kompleks yang terdiri atas bakteri dan berbagai mikroorganisme lain yang hidup di saluran pencernaan.

Mikroorganisme tersebut tidak hanya berada di dalam tubuh tanpa fungsi. Mereka terlibat dalam berbagai proses biologis, termasuk metabolisme komponen makanan dan perubahan sejumlah senyawa yang berada di saluran pencernaan.

Karena komposisi mikrobioma dapat dipengaruhi oleh pola makan, gaya hidup, lingkungan, serta berbagai faktor lainnya, perubahan komunitas bakteri usus menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan manusia.

Dalam konteks kanker kolorektal, perhatian peneliti tidak hanya tertuju pada jumlah bakteri, tetapi juga pada fungsi yang dilakukan oleh bakteri tersebut. Hal ini penting karena dua orang dapat memiliki mikroorganisme yang serupa, tetapi aktivitas metaboliknya belum tentu sama.

Apa Itu Deoxycholic Acid atau DCA?

Deoxycholic acid atau DCA merupakan salah satu jenis asam empedu sekunder.

Asam empedu sendiri memiliki fungsi penting dalam proses pencernaan. Senyawa ini dibuat dari kolesterol di hati dan kemudian dilepaskan ke usus halus untuk membantu tubuh mencerna serta menyerap lemak. Sebagian besar asam empedu kemudian diserap kembali dan dikembalikan ke hati. Namun, sebagian kecil dapat mencapai usus besar.

Di dalam usus besar, bakteri tertentu memiliki kemampuan melakukan proses kimia yang disebut 7-alpha-dehydroxylation. Proses tersebut memungkinkan bakteri mengubah asam empedu primer menjadi asam empedu sekunder, termasuk DCA.

Dengan demikian, keberadaan bakteri tertentu di usus dapat memengaruhi jumlah dan jenis metabolit asam empedu yang terbentuk di saluran pencernaan.

Mengapa DCA Menjadi Perhatian dalam Penelitian Kanker?

DCA menjadi perhatian karena kadar senyawa ini serta keberadaan bakteri yang mampu memproduksinya sebelumnya juga ditemukan lebih tinggi pada sebagian orang dengan kanker kolorektal.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Immunity pada 2024 juga memberikan petunjuk bahwa DCA dapat menurunkan aktivitas sel kekebalan tubuh yang berperan dalam melawan tumor serta mendorong pertumbuhan tumor kolorektal pada tikus.

Baca Juga:  Rahasia Hidup 100 Tahun: Riset Ungkap Satu Kebiasaan Ini

Meski demikian, penelitian sebelumnya belum dapat memastikan apakah produksi DCA oleh bakteri merupakan penghubung langsung antara pola makan ala Barat dan perkembangan kanker kolorektal. Penelitian terbaru kemudian mencoba menguji hubungan tersebut melalui beberapa pendekatan sekaligus.

Penelitian Hubungan Bakteri Usus dan Kanker Dilakukan?

Tim peneliti internasional yang dipimpin sejumlah institusi di Jerman menggunakan beberapa model penelitian. Peneliti melakukan eksperimen pada:

  • Babi yang dimodifikasi secara genetik dan memiliki kecenderungan mengalami polip pada usus besar;
  • Tikus, termasuk tikus bebas kuman atau germ-free mice;
  • organoid usus besar manusia yang dikembangkan di laboratorium; serta
  • data mikrobioma dari ribuan manusia dengan dan tanpa kanker kolorektal.

Penggunaan beberapa model tersebut memungkinkan peneliti melihat fenomena yang sama dari berbagai sudut. Eksperimen pada hewan membantu menguji kemungkinan hubungan sebab-akibat, sedangkan analisis sampel manusia digunakan untuk melihat apakah pola yang sama juga ditemukan pada manusia.

Pola Makan Ala Barat Meningkatkan DCA pada Model Hewan.

Pada tahap awal penelitian, peneliti mengamati babi yang secara genetik memiliki kecenderungan mengalami polip pada usus besar. Ketika hewan tersebut diberikan pola makan ala Barat, perkembangan tumor di usus mengalami peningkatan.

Kondisi tersebut juga disertai dengan peningkatan kadar DCA dalam feses dan peningkatan proliferasi sel epitel yang melapisi usus besar. Proliferasi sel merupakan proses ketika sel mengalami pembelahan dan bertambah jumlahnya. Proses ini sebenarnya merupakan bagian normal dari pemeliharaan jaringan.

Namun, proliferasi yang berlebihan atau tidak terkendali dapat menjadi salah satu karakteristik penting dalam perkembangan tumor. Temuan tersebut membuat peneliti kemudian menguji apakah pengurangan asam empedu dapat memengaruhi perubahan yang terjadi pada usus.

Bakteri Penghasil DCA Diuji pada Tikus.

Peneliti kemudian menggunakan tikus bebas kuman atau germ-free mice.

Model ini memungkinkan peneliti mengendalikan komunitas mikroba yang berada di dalam saluran pencernaan dengan lebih presisi. Ketika bakteri penghasil DCA, termasuk Clostridium scindens dan Extibacter muris, ditambahkan ke komunitas mikroba tertentu, bakteri tersebut menghasilkan DCA dan jumlah tumor usus besar meningkat pada dua model tikus kanker kolorektal yang berbeda.

Temuan ini memberikan petunjuk yang lebih spesifik bahwa bukan sekadar keberadaan mikrobioma yang menjadi perhatian. Kemampuan bakteri tertentu untuk melakukan metabolisme asam empedu dan menghasilkan DCA juga dapat menjadi bagian dari mekanisme yang berhubungan dengan perkembangan tumor.

Bagaimana dengan Jaringan Usus Manusia?

Penelitian juga menggunakan organoid usus besar manusia. Organoid merupakan model miniatur jaringan yang dikembangkan di laboratorium untuk membantu peneliti mempelajari perilaku sel dan jaringan dalam kondisi tertentu.

Ketika bakteri hasil modifikasi yang tidak mampu menghasilkan DCA digunakan dalam eksperimen tersebut, proliferasi sel epitel usus besar manusia menjadi lebih rendah. Hasil ini memberikan tambahan bukti eksperimental bahwa jalur metabolisme yang berkaitan dengan DCA dapat memengaruhi perilaku sel pada jaringan usus.

Namun, organoid tetap merupakan model laboratorium dan tidak dapat sepenuhnya menggambarkan kompleksitas tubuh manusia.

Apakah Bakteri Usus Menyebabkan Kanker Kolorektal?

Belum dapat disimpulkan demikian. Penelitian ini memberikan bukti bahwa terdapat hubungan antara pola makan tinggi lemak, perubahan mikrobioma, produksi DCA, dan karakteristik yang berkaitan dengan pertumbuhan tumor.

Eksperimen pada hewan juga memberikan bukti yang lebih kuat mengenai kemungkinan hubungan sebab-akibat. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak berarti bahwa seseorang yang memiliki bakteri penghasil DCA pasti akan mengalami kanker kolorektal.

Kanker merupakan penyakit kompleks yang dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, faktor genetik, kondisi kesehatan, gaya hidup, pola makan, serta lingkungan. Selain itu, penelitian pada manusia dalam studi tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat memastikan bahwa produksi DCA oleh bakteri secara langsung menyebabkan kanker pada peserta penelitian.

Bagaimana Pola Makan Memengaruhi Risiko Kanker Kolorektal?

Pola makan tidak dapat dipandang hanya berdasarkan satu jenis makanan atau satu senyawa. Pola makan secara keseluruhan dapat memengaruhi jumlah dan jenis zat yang masuk ke saluran pencernaan serta kondisi lingkungan tempat mikrobioma usus hidup.

Pola makan tinggi lemak dan rendah serat, misalnya, dapat menghasilkan kondisi metabolik yang berbeda dibandingkan pola makan yang kaya serat dari berbagai sumber makanan nabati. Serat dari buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh juga menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme tertentu di usus.

Karena itu, ketika membahas hubungan makanan dengan kanker kolorektal, penting untuk melihat pola makan secara keseluruhan, bukan menyimpulkan bahwa satu makanan tertentu secara langsung menyebabkan kanker.

Apa Peran Daging Merah dan Daging Olahan?

Daging merah dan daging olahan telah lama menjadi bagian dari penelitian mengenai risiko kanker kolorektal. Namun, hasil penelitian terbaru mengenai DCA bukan berarti seluruh hubungan antara pola makan dan kanker kolorektal hanya disebabkan oleh satu mekanisme.

Pola makan tinggi lemak, konsumsi daging dalam jumlah tertentu, rendahnya asupan serat, perubahan mikrobioma, metabolisme asam empedu, dan berbagai proses biologis lainnya dapat saling berhubungan. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah memperhatikan kualitas pola makan secara keseluruhan.

Apakah Makanan Berserat Dapat Menurunkan Risiko Kanker Kolorektal?

Pola makan yang kaya serat, buah, sayuran, dan biji-bijian utuh diketahui berkaitan dengan risiko kanker kolorektal yang lebih rendah. Serat juga memiliki peran penting dalam menjaga fungsi saluran pencernaan dan berinteraksi dengan mikroorganisme yang hidup di usus.

Baca Juga:  Jangan Sepelekan! Ini 5 Tanda Dini Kanker yang Kerap Terlupakan

Meski demikian, mengonsumsi serat bukan berarti memberikan perlindungan mutlak terhadap kanker. Pencegahan kanker kolorektal tetap membutuhkan pendekatan menyeluruh, termasuk pola makan sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan yang sehat, menghindari rokok, membatasi konsumsi alkohol, serta mengikuti pemeriksaan skrining sesuai usia dan faktor risiko.

Apakah Penelitian Ini Berarti Pola Makan Tinggi Lemak Pasti Menyebabkan Kanker?

Tidak.

Penelitian ini tidak membuktikan bahwa setiap orang yang mengonsumsi makanan tinggi lemak akan mengalami kanker kolorektal. Temuan penelitian menunjukkan mekanisme biologis yang diduga dapat menjelaskan sebagian hubungan antara pola makan ala Barat dan perkembangan tumor.

Penting membedakan antara hubungan, mekanisme yang mungkin, dan bukti sebab-akibat pada manusia. Eksperimen pada hewan memberikan informasi mengenai mekanisme dan kemungkinan hubungan sebab-akibat. Sementara itu, data manusia yang dianalisis dalam penelitian ini masih bersifat observasional.

Karena itu, hasil penelitian belum dapat digunakan untuk menghitung seberapa besar risiko kanker seseorang hanya berdasarkan keberadaan bakteri penghasil DCA.

Apa Keterbatasan Penelitian Ini?

Penelitian tersebut memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan sebelum hasilnya diterapkan pada manusia. Pertama, eksperimen yang memberikan bukti mengenai hubungan sebab-akibat dilakukan pada hewan yang memang telah memiliki kecenderungan mengalami penyakit atau tumor. Kondisi tersebut berbeda dengan populasi manusia secara umum.

Kedua, penelitian pada manusia bersifat observasional. Artinya, peneliti dapat melihat adanya perbedaan antara kelompok dengan kanker kolorektal dan kelompok tanpa kanker, tetapi tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Ketiga, mikrobioma manusia merupakan ekosistem yang sangat kompleks. Keberadaan satu bakteri atau satu gen metabolik tidak dapat berdiri sendiri ketika menjelaskan risiko kanker. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana pola makan, mikrobioma, metabolisme asam empedu, sistem kekebalan tubuh, serta faktor genetik berinteraksi dalam perkembangan kanker kolorektal.

Apa Arti Temuan Ini bagi Pencegahan Kanker Kolorektal?

Walaupun penelitian tersebut belum menghasilkan penemuan baru, hasilnya memberikan kemungkinan penjelasan biologis mengenai hubungan pola makan dan kanker kolorektal yang telah diamati dalam penelitian sebelumnya. Temuan tersebut juga membuka peluang penelitian untuk mengidentifikasi individu yang memiliki komposisi atau aktivitas mikrobioma tertentu sehingga mungkin lebih rentan terhadap dampak pola makan tidak sehat.

Untuk saat ini, hasil penelitian tersebut tetap sejalan dengan prinsip pencegahan kanker yang telah ada: mengutamakan pola makan sehat dan seimbang serta mengurangi konsumsi makanan yang berlebihan dalam lemak, daging olahan, dan daging merah.

Cara Menjaga Kesehatan Usus dan Mengurangi Risiko Kanker Kolorektal.

Tidak ada satu cara yang dapat menjamin seseorang terbebas dari kanker kolorektal. Namun, sejumlah kebiasaan dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan dan berkaitan dengan risiko kanker yang lebih rendah. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Perbanyak makanan berserat, seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
  2. Batasi konsumsi daging olahan dan jangan mengonsumsi daging merah secara berlebihan.
  3. Kurangi pola makan tinggi lemak dan makanan ultra-proses secara berlebihan.
  4. Pertahankan berat badan yang sehat.
  5. Lakukan aktivitas fisik secara rutin.
  6. Hindari merokok.
  7. Batasi konsumsi alkohol.
  8. Perhatikan pemeriksaan skrining kanker kolorektal sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Langkah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kanker kolorektal, tetapi juga mendukung kesehatan metabolik dan kesehatan tubuh secara umum.

Kesimpulan.

Penelitian terbaru memberikan petunjuk mengenai kemungkinan hubungan antara pola makan tinggi lemak, bakteri usus, asam empedu, dan kanker kolorektal. Pola makan ala Barat pada model hewan dikaitkan dengan peningkatan DCA dan proliferasi sel pada usus besar. Eksperimen selanjutnya menunjukkan bahwa bakteri seperti Clostridium scindens dan Extibacter muris dapat menghasilkan DCA dan berkaitan dengan peningkatan jumlah tumor pada model tikus.

Meski demikian, penelitian ini belum membuktikan bahwa DCA atau bakteri penghasil DCA secara langsung menyebabkan kanker kolorektal pada manusia. Penelitian pada manusia masih bersifat observasional, sedangkan eksperimen sebab-akibat dilakukan pada model hewan.

Karena itu, temuan ini sebaiknya dipandang sebagai petunjuk baru mengenai mekanisme kanker kolorektal, bukan sebagai dasar untuk melakukan pengobatan sendiri. Untuk saat ini, langkah yang tetap relevan adalah menerapkan pola makan seimbang yang kaya serat dari buah, sayuran, dan biji-bijian utuh, sekaligus membatasi konsumsi daging olahan, daging merah, dan makanan tinggi lemak secara berlebihan.

Sumber & Referensi.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada liputan mendalam dan berita medis terkini. Berbekal pemahaman mengenai administrasi rumah sakit dan alur kerja klinis, artikel-artikelnya menyajikan informasi yang akurat seputar inovasi fasilitas pelayanan pasien, standar keperawatan, dan isu-isu krusial di dunia medis.