Mengapa Cegukan Terus-menerus Bisa Jadi Tanda Gangguan Otak?
Cerupon.web.id – Cegukan atau singultus biasanya hanya berlangsung beberapa menit dan hilang tanpa pengobatan. Kondisi ini terjadi ketika diafragma berkontraksi secara tiba-tiba dan tidak disengaja, kemudian glotis menutup dengan cepat sehingga muncul suara “hik”.
Pemicu sederhana seperti perut terlalu penuh, makan atau minum terlalu cepat, alkohol, serta makanan atau minuman yang mengiritasi dapat menyebabkan cegukan sementara. Namun, cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam perlu diperhatikan, karena dapat berkaitan dengan masalah di saluran pencernaan, gangguan metabolisme, obat-obatan, maupun sistem saraf.
Mengapa Cegukan Bisa Berkaitan dengan Otak?
Cegukan bukan sekadar refleks yang berasal dari lambung. Refleks ini melibatkan jaringan saraf yang cukup kompleks. Jalur tersebut mencakup saraf vagus dan saraf frenikus, bagian sistem saraf pusat termasuk area batang otak, serta saraf yang mengendalikan diafragma dan otot pernapasan.
Karena melibatkan jalur saraf yang panjang, gangguan di salah satu bagian tersebut berpotensi menyebabkan cegukan berlangsung lebih lama. Konsultan Senior Neurologi Kauvery Hospital, Dr. Shubha Subramanian, menjelaskan bahwa cegukan yang terus berulang atau berlangsung sangat lama tidak selalu berkaitan dengan masalah lambung.
“Cegukan juga bisa disebabkan oleh masalah pada saraf. Saraf memengaruhi cara tubuh merespons cegukan,” jelasnya kepada Times of India.
Cegukan Persisten dan Intractable.
Dokter membagi cegukan berdasarkan lama berlangsungnya. Cegukan akut biasanya berlangsung kurang dari 48 jam dan sebagian besar dapat berhenti sendiri. Cegukan persisten berlangsung lebih dari 48 jam.
Sementara cegukan intractable berlangsung lebih dari satu bulan. Kategori ini penting karena cegukan yang berkepanjangan dapat mengganggu tidur, makan, berbicara, dan kualitas hidup. Tidak semua cegukan persisten disebabkan penyakit otak. Bahkan, penyebab pada saluran pencernaan seperti refluks gastroesofagus termasuk yang perlu dipertimbangkan.
1. Stroke pada Batang Otak.
Stroke merupakan salah satu penyebab neurologis cegukan yang telah dilaporkan dalam literatur medis. Kerusakan pada bagian batang otak yang terlibat dalam refleks cegukan dapat menyebabkan kontraksi diafragma berulang. Beberapa laporan kasus juga menunjukkan cegukan persisten dapat muncul pada stroke di wilayah otak tertentu.
Namun, cegukan saja tidak berarti seseorang terkena stroke. Kecurigaan menjadi lebih besar apabila cegukan disertai gejala neurologis seperti kelemahan tubuh, mati rasa, gangguan keseimbangan, gangguan bicara, atau gangguan penglihatan.
2. Multiple Sclerosis dan Gangguan Demielinisasi.
Gangguan yang merusak selubung mielin saraf juga dapat memengaruhi jalur refleks cegukan. Multiple sclerosis (MS) termasuk kondisi yang pernah dikaitkan dengan cegukan persisten. Selain itu, cegukan dan muntah yang tidak dapat dijelaskan selama setidaknya 48 jam merupakan salah satu gambaran penting area postrema syndrome, yang dapat ditemukan pada neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD).
Hal ini berkaitan dengan lokasi area postrema di bagian medula batang otak yang berperan dalam refleks muntah dan dapat terlibat dalam refleks cegukan.
3. Tumor di Otak.
Tumor otak merupakan penyebab cegukan yang jauh lebih jarang dibandingkan gangguan pencernaan. Namun, bila tumor atau lesi berada di lokasi yang mengganggu jalur refleks cegukan, terutama di sekitar batang otak, kondisi tersebut dapat memicu cegukan persisten. Literatur medis memasukkan tumor dan lesi pada sistem saraf pusat sebagai salah satu kemungkinan penyebab cegukan berkepanjangan.
Karena itu, cegukan yang tidak diketahui penyebabnya dan berlangsung lama terkadang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pencitraan otak berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.
4. Infeksi Sistem Saraf.
Infeksi yang memengaruhi otak atau selaput otak, seperti ensefalitis dan meningitis, juga termasuk penyebab yang dapat menimbulkan cegukan persisten.
Kondisi tersebut dapat mengganggu sistem saraf pusat yang terlibat dalam refleks cegukan. Literatur medis juga memasukkan infeksi sistem saraf sebagai salah satu kelompok penyebab cegukan berkepanjangan.
Cegukan Juga Bisa Berasal dari Bukan Otak.
Ini bagian yang tidak kalah penting. Cegukan persisten bukan otomatis tanda penyakit saraf. Menurut Merck Manual, penyebab yang harus dipertimbangkan antara lain:
- Gastroesophageal reflux disease atau GERD.
- Penyakit atau iritasi pada kerongkongan.
- Pneumonia atau gangguan di rongga dada.
- Gangguan metabolik seperti uremia.
- Efek obat tertentu.
- Masalah pada saraf vagus atau frenikus.
Karena itu, dokter perlu mencari penyebabnya, bukan hanya berusaha menghentikan suara cegukan.
Bagaimana Dokter Mencari Penyebabnya?
Dokter biasanya akan menanyakan kapan cegukan dimulai, apakah berhubungan dengan makanan, obat, penyakit sebelumnya, atau tindakan medis tertentu. Pemeriksaan fisik dan neurologis kemudian dilakukan untuk mencari petunjuk penyebab.
Bila diperlukan, pemeriksaan dapat meliputi tes darah, rontgen dada, elektrokardiogram, pemeriksaan saluran cerna, hingga MRI otak atau CT dada sesuai gejala dan hasil pemeriksaan awal.
Jadi, tidak setiap orang yang cegukan selama dua hari langsung membutuhkan MRI. Pemeriksaan ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam sebaiknya diperiksakan, terutama jika tidak diketahui penyebabnya. Pemeriksaan menjadi semakin penting bila cegukan disertai:
- Sakit kepala hebat.
- Kelemahan atau mati rasa.
- Sulit berjalan atau kehilangan keseimbangan.
- Gangguan bicara atau penglihatan.
- Sulit menelan.
- Muntah berulang.
- Nyeri dada atau sesak.
Gejala neurologis tersebut termasuk tanda peringatan yang memerlukan evaluasi medis lebih cepat.
Kesimpulan.
Cegukan biasanya merupakan refleks tubuh yang tidak berbahaya dan dapat menghilang sendiri dalam waktu singkat. Namun, cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam atau terus berulang tanpa penyebab jelas perlu mendapat perhatian medis.
Gangguan pada sistem saraf pusat memang dapat menyebabkan cegukan persisten, termasuk stroke, penyakit demielinisasi seperti MS atau NMOSD, tumor, dan infeksi sistem saraf. Akan tetapi, gangguan pencernaan, metabolisme, obat-obatan, dan berbagai kondisi lain juga dapat menjadi penyebab.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan cegukan sebagai tanda penyakit otak. Yang lebih penting adalah memperhatikan durasinya dan gejala lain yang menyertai. Bila muncul tanda neurologis seperti kelemahan, mati rasa, gangguan bicara, atau kehilangan keseimbangan, segera cari pertolongan medis.
Sumber & Referensi.
- Times of India Health. Hiccups that keep coming back? Doctor explains when they could signal a neurological problem (2026). Times of India.
- Merck Manual Professional Edition. Hiccups. Review April 2026. Merck Manual.
- Merck Manual Consumer Version. Hiccups. Review April 2026. Merck Manual Consumer.
- BMJ / PMC. Hiccups: a common problem with some unusual causes and cures (2016). PMC.
- Journal of Neurogastroenterology and Motility / PubMed. Hiccup: mystery, nature and treatment (2012). PubMed.
- Journal of Clinical Medicine / PubMed. Hiccups: A Non-Systematic Review (2020). PubMed.
- Current Neurology and Neuroscience Reports / PubMed. Intractable hiccups as a brainstem red flag: demyelinating disorders with emphasis on neuromyelitis optica spectrum disorder and area postrema syndrome (2026). PubMed.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














