Waspada! Lelah Biasa Bisa Jadi Gejala Ginjal Kronis Terabaikan

Cerupon.web.id – Penyakit Ginjal Kronis (PGK), atau Chronic Kidney Disease (CKD), dijuluki “pembunuh senyap” bukan tanpa alasan. Kerusakannya berkembang perlahan, dan pada tiga stadium pertama, tubuh biasanya tidak memberi peringatan berupa nyeri atau gejala yang jelas. Banyak orang baru menyadari ada masalah setelah fungsi ginjal mereka merosot jauh, pada titik di mana pilihan penanganan sudah jauh lebih terbatas.

“Jika Anda menunggu munculnya gejala, itu berarti sudah terlambat,” kata Dr. Rosnawati Yahya, Konsultan Ahli Nefrologi dan Dokter Transplantasi Ginjal di Sunway Medical Centre, Malaysia, dalam wawancara dengan kantor berita Bernama menjelang Hari Ginjal Sedunia.

Seberapa Besar Masalah Ini di Indonesia?

Di Indonesia, urgensinya tidak kalah nyata. Data BPJS Kesehatan mencatat sekitar 63.489 pasien baru gagal ginjal kronis pada 2022, dan pada 2024 jumlah pasien yang menjalani cuci darah (hemodialisis) mencapai 134.057 orang, hampir dua kali lipat dalam waktu singkat.

Beban pembiayaannya pun melonjak dari Rp6,5 triliun (2019) menjadi Rp11 triliun (2024), menjadikan penyakit ginjal salah satu pos pembiayaan terbesar BPJS Kesehatan setelah penyakit jantung.

Sejalan dengan temuan Dr. Rosnawati di Malaysia, data dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) tahun 2019 juga menunjukkan pola serupa, hipertensi dan diabetes melitus adalah dua penyebab utama gagal ginjal kronis di Indonesia, dengan sekitar 28% pasien diabetes serta 36% hipertensi (tekanan darah tinggi) pada akhirnya mengalami komplikasi ke ginjal.

Baca Juga:  Diet Tinggi Protein Merusak Ginjal? Ini Penjelasan Dokter

Gejala Awal yang Sering Disalahartikan.

Menurut Dr. Rosnawati, salah satu alasan utama keterlambatan diagnosis adalah karena gejala dini PGK sangat mirip dengan kondisi yang dianggap “biasa” yaitu kelelahan, anemia, atau stres. Wanita, menurutnya, cenderung paling sering mengabaikan tanda-tanda ini. Gejala klinis dini yang patut diwaspadai:

  • Kelelahan ekstrem dan lesu berkelanjutan tanpa sebab yang jelas.
  • Peningkatan frekuensi buang air kecil, khususnya di malam hari (nokturia).
  • Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah akibat retensi cairan

Ketiganya kerap dianggap sebagai bagian normal dari stres, penuaan, atau perubahan hormonal terutama oleh wanita sehingga jarang mendorong seseorang untuk memeriksakan diri lebih lanjut.

Dr. Rosnawati juga menyoroti bahwa kadar kreatinin yang tampak “normal” di hasil lab belum tentu mencerminkan fungsi ginjal yang benar-benar optimal khususnya pada wanita, yang umumnya memiliki massa otot lebih rendah dibanding pria. Angka kreatinin yang terlihat normal bisa jadi sebenarnya sudah menyembunyikan penurunan cadangan fungsi ginjal.

Diabetes dan Hipertensi, Penyebab Dominan.

Data Registri Dialisis dan Transplantasi Malaysia yang dirujuk Dr. Rosnawati menunjukkan diabetes bertanggung jawab atas sekitar separuh kasus gagal ginjal baru, diikuti hipertensi. Pola ini konsisten dengan data regional lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana kedua kondisi metabolik ini secara konsisten menempati posisi teratas sebagai penyebab gagal ginjal.

Faktor risiko tambahan yang perlu diwaspadai:

  • Riwayat penyakit autoimun, seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE).
  • Riwayat komplikasi kehamilan seperti preeklamsia atau diabetes gestasional.
  • Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

Tiga Pemeriksaan Sederhana untuk Deteksi Dini

Dr. Rosnawati menekankan bahwa deteksi dini tidak memerlukan prosedur rumit. Tiga pemeriksaan berikut sudah cukup sebagai skrining awal:

  • Tes fungsi ginjal melalui sampel darah (termasuk kadar kreatinin dan estimasi laju filtrasi glomerulus/eGFR).
  • Pengukuran tekanan darah.
  • Tes urine, keberadaan protein dalam urine adalah indikator awal kerusakan ginjal.

“Deteksi dini merupakan kunci karena membuka beragam pilihan penanganan yang tersedia, dengan tujuan utama menjaga fungsi ginjal,” jelas Dr. Rosnawati.

Ia menambahkan bahwa intervensi yang tepat waktu dapat memperlambat laju penurunan fungsi ginjal secara signifikan:

“Jika kita mampu mengurangi tingkat penurunan fungsi ginjal dari 10 persen menjadi hanya 2 persen setiap tahun, banyak pasien mungkin tidak akan pernah memerlukan prosedur dialisis atau cuci darah,” tambahnya.

Siapa yang Sebaiknya Rutin Skrining?

Berdasarkan faktor risiko di atas, kelompok berikut disarankan lebih proaktif melakukan pemeriksaan tahunan, bukan menunggu gejala muncul:

  • Penyandang diabetes atau hipertensi, sekalipun terkontrol.
  • Wanita dengan riwayat preeklamsia, diabetes gestasional, atau PCOS.
  • Individu dengan riwayat keluarga penyakit ginjal.
  • Siapa pun di atas usia 40 tahun sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin
Baca Juga:  Gagal Ginjal Kronis, Silent Disease yang Sering Terlambat Disadari

Kesimpulan.

Penyakit ginjal kronis berbahaya justru karena diam. Ia tidak menunjukkan gejala mencolok sampai kerusakannya sudah signifikan dan gejala yang muncul di tahap awal terlalu mudah disalahartikan sebagai kelelahan biasa.

Dengan angka gagal ginjal di Indonesia yang terus meningkat setiap tahun, pemeriksaan sederhana, tes darah, tekanan darah, dan tes urine adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar, terutama bagi mereka dengan diabetes, hipertensi, atau riwayat komplikasi kehamilan.

Sumber & Referensi.

  • Wawancara Dr. Rosnawati Yahya (Konsultan Nefrologi, Sunway Medical Centre) dengan Bernama, “Kidney Disease Often Detected Too Late As Early Stages Show No Symptoms – Nephrologist.” bernama.com.
  • Profil dan kredensial Dr. Rosnawati Yahya – Sunway Medical Centre. sunwaymedical.com.
  • Data BPJS Kesehatan & tren gagal ginjal kronis Indonesia 2022-2024 (jurnal Unismuh Palu). jurnal.unismuhpalu.ac.id.
  • 30th Report of Dialysis in Malaysia – Malaysian Society of Nephrology (data pembanding regional). msn.org.my.
  • Hasil studi tahun 2019 oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI). repository.universitasalirsyad.ac.id.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis atau gizi profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

gaya hidup yang memiliki ketertarikan khusus pada pemenuhan nutrisi seimbang dari hidangan lokal. Ia aktif menulis tajuk rencana tentang cara menyiasati konsumsi jajanan tradisional dan makanan kaki lima favorit, mulai dari bubur ayam hingga nasi uduk agar tetap sejalan dengan prinsip gaya hidup sehat.