Kupas Tuntas Mitos Operasi Mata Juling yang Bikin Orang Takut

Cerupon.web.id – Hingga saat ini, sebagian besar masyarakat masih dilingkupi ketakutan yang berlebihan terhadap prosedur bedah mata juling (strabismus). Berbagai anggapan keliru yang beredar di tengah publik sering kali membuat pasien atau orang tua pasien ragu, menunda, bahkan menghindari tindakan medis yang sangat krusial ini.

Padahal, penanganan strabismus sejak dini sangat penting untuk menyelamatkan fungsi penglihatan secara menyeluruh. Salah satu miskonsepsi paling ekstrem yang kerap terdengar adalah kekhawatiran bahwa bola mata akan dikeluarkan dari rongganya selama proses operasi berlangsung.

“Disangkanya kalau orang operasi juling itu matanya dikeluarin kemudian dipasang lagi,” ungkap dr. Gusti Gede Suardana, Sp.M (K), Dokter Spesialis Mata.

Bagaimanakah fakta medis yang sebenarnya? Mari kita bedah secara ilmiah untuk meluruskan mitos operasi mata juling yang menakutkan tersebut.

Bagaimana Operasi Strabismus Sebenarnya Dilakukan?

Secara medis, ketakutan bahwa bola mata akan dilepas dari tempatnya adalah mitos total. Berdasarkan panduan dari American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS), operasi strabismus adalah prosedur yang dilakukan secara eksklusif pada otot-otot ekstraokular yaitu enam otot luar yang berfungsi mengendalikan pergerakan bola mata, tanpa mengusik bagian dalam bola mata itu sendiri.

Dokter bedah mata hanya perlu membuat sayatan kecil pada jaringan konjungtiva (lapisan tipis transparan yang melapisi bagian putih mata) untuk menjangkau otot-otot tersebut. Dr. Gusti Gede Suardana menjelaskan bahwa ada tiga teknik utama dalam memodifikasi otot mata ini:

  • Weakening (Pelemahan): Jika suatu otot bekerja terlalu kuat sehingga menarik bola mata ke satu arah secara berlebihan, posisi otot tersebut akan digeser mundur (disebut juga recession) agar kekuatannya berkurang.
  • Strengthening (Penguatan): Jika otot mata terlalu lemah, dokter akan melakukan tindakan pemotongan sebagian kecil otot (resection) agar otot menjadi lebih pendek dan lebih kuat dalam menarik bola mata ke posisi ideal.
  • Transposition (Reposisi/Transposisi): Pemindahan arah kerja otot untuk mengompensasi otot mata lain yang mengalami kelumpuhan atau kelemahan saraf.
Baca Juga:  5 Cara Efektif agar Anak Nyaman Terbuka dan Bercerita pada Orang Tua

Seluruh tindakan ini dihitung secara presisi menggunakan formula medis khusus (nomogram) yang disesuaikan dengan derajat penyimpangan (sudut juling) masing-masing pasien.

Bukan Sekadar Estetika, Ini Manfaat Fungsionalnya

Banyak orang mengira operasi strabismus hanya bertujuan untuk memperbaiki penampilan fisik atau kosmetik semata. Padahal, manfaat fungsionalnya jauh lebih besar bagi kualitas hidup pasien. Tujuan utama dari intervensi bedah ini meliputi:

  • Mengembalikan Penglihatan Binokuler Tunggal: Melatih otak agar dapat menyatukan gambar dari mata kanan dan kiri menjadi satu bayangan tiga dimensi (persepsi kedalaman/stereopsis).
  • Mengatasi Diplopia (Penglihatan Ganda): Menyelaraskan fokus kedua mata agar pasien tidak lagi melihat bayangan ganda yang sering memicu pusing dan mual.
  • Mencegah Ambliopia (Mata Malas): Terutama pada anak-anak, operasi tepat waktu dapat merangsang perkembangan saraf penglihatan agar tidak mengalami penurunan tajam penglihatan yang permanen.

Mengapa Harus Menggunakan Bius Total?

Berbeda dengan prosedur koreksi refraksi seperti LASIK yang umumnya hanya menggunakan tetes mata mati rasa (anestesi lokal), operasi strabismus pada umumnya memerlukan anestesi umum (bius total).

Hal ini diterapkan demi kenyamanan dan keselamatan pasien. Prosedur penyesuaian otot mata membutuhkan keheningan dan kepresisian yang tinggi. Dengan bius total, pasien terutama anak-anak, tidak akan merasakan nyeri, cemas, atau melakukan gerakan refleks mata yang dapat mengganggu jalannya operasi.

Proses Pemulihan, Filosofi Menanam Pohon.

Setelah operasi selesai, posisi mata yang lurus tidak langsung bersifat permanen seketika itu juga. Jaringan otot yang baru saja digeser atau diperpendek membutuhkan waktu untuk menyatu dan melekat kuat pada dinding bola mata (sklera).

Dr. Gusti memberikan analogi yang sangat mudah dipahami terkait fase pemulihan ini. Beliau mengibaratkan proses ini seperti menanam sebuah pohon baru.

“Ketika kita menanam pohon, mereka tidak langsung mengeluarkan akar yang kuat saat itu juga. Meskipun posisinya tegak, ia masih rapuh. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika akarnya sudah tumbuh dan mencengkeram tanah dengan kuat, penyangganya dilepas pun pohon tersebut akan tetap berdiri tegak,” jelasnya.

Oleh karena itu, pasien pasca-operasi sangat disarankan untuk mengikuti instruksi dokter, seperti menghindari aktivitas fisik berat dan tidak mengucek mata selama masa penyembuhan jaringan otot berlangsung.

Pentingnya Deteksi Dini dan Edukasi.

Hingga saat ini, kesadaran masyarakat Indonesia mengenai penanganan mata juling masih perlu ditingkatkan. Dr. Referano Agustiawan, Sp.M (K), menegaskan bahwa kampanye edukasi yang berkelanjutan adalah kunci utama untuk mengikis stigma negatif seputar strabismus.

Baca Juga:  Panduan Deteksi Dini, Cara Membedakan Mata Juling Asli vs Semu pada Anak

Kesimpulan.

Operasi mata juling tidak dilakukan dengan mengeluarkan bola mata dari rongganya. Prosedur tersebut berfokus pada otot-otot ekstraokular yang berada di luar bola mata. Dokter dapat melemahkan, memperkuat, atau mengubah posisi otot tertentu untuk memperbaiki kesejajaran mata.

Selain membantu memperbaiki posisi mata, operasi strabismus pada kondisi tertentu juga dapat membantu mengatasi penglihatan ganda dan mendukung fungsi penglihatan binokuler. Pada anak, penanganan juga perlu memperhatikan risiko ambliopia dan perkembangan penglihatan.

Jenis anestesi berbeda menurut usia dan kondisi pasien. Anak umumnya menjalani anestesi umum, sedangkan pada orang dewasa anestesi lokal dengan sedasi juga dapat menjadi pilihan. Jadi, mitos bahwa bola mata akan dikeluarkan saat operasi mata juling tidak perlu ditakuti. Yang terpenting adalah mendapatkan pemeriksaan dan penanganan dari dokter spesialis mata yang berpengalaman menangani strabismus.

Sumber & Referensi.

  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Strabismus Surgery. aapos.org.
  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Anesthesia for Children Having Eye Surgery. aapos.org.
  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Anesthesia for Adults Having Eye Surgery. aapos.org.
  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Adult Strabismus (Adult Eye Misalignment). aapos.org.
  • American Academy of Ophthalmology – EyeWiki. Anesthesia in Strabismus Surgery. eyewiki.aao.org.
  • American Academy of Ophthalmology – EyeWiki. Adjustable Sutures for Strabismus Surgery. eyewiki.aao.org.
  • American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Enucleation. aapos.org.
  • American Academy of Ophthalmology – EyeWiki. Strabismus Surgery Complications. eyewiki.aao.org

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Mengkaji secara kritis dampak kehidupan siber terhadap psikologi modern. Artikel-artikelnya berfokus pada fenomena kecemasan akibat validasi media sosial (seperti obsesi terhadap metrik engagement dan click-through rate), bahaya doomscrolling, serta panduan detoks digital untuk menjaga kesehatan mental.