Terbukti! Orang Kesepian Lebih Berisiko Tinggi Serangan Jantung

Cerupon.web.id – Sebuah laporan penting dari American Heart Association (AHA) kembali menggarisbawahi bahwa kesepian dan isolasi sosial bukan sekadar masalah emosional, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan kardiovaskular. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan risiko penyakit serius seperti serangan jantung hingga stroke.

Riset yang Menggabungkan Empat Dekade Data.

Tim penyusun laporan, dipimpin Dr. Crystal Wiley Cené, dokter penyakit dalam sekaligus Chief Administrative Officer for Health Equity di UC San Diego Health, menggali data dari lebih empat dekade penelitian untuk menemukan keterkaitan yang jelas antara minimnya koneksi sosial dan dampak kesehatan yang luas.

“Riset selama lebih dari empat dekade dengan jelas menunjukkan bahwa isolasi sosial dan kesepian sama-sama berkaitan dengan kesehatan yang buruk,” ujar Cené.

Laporan ini diterbitkan sebagai pernyataan ilmiah resmi di Journal of the American Heart Association pada Agustus 2022, disusun oleh kelompok penulis yang meninjau seluruh penelitian observasional dan isolasi sosial yang dipublikasikan Juli 2021.

Membedakan Isolasi Sosial dan Kesepian.

Isolasi sosial didefinisikan sebagai kondisi ketika seseorang memiliki sangat sedikit kontak sosial secara langsung, misalnya dengan keluarga, teman, atau anggota komunitas/kelompok keagamaan yang sama. Sementara itu, kesepian adalah perasaan tertekan yang timbul ketika seseorang merasa dirinya terputus atau terasing dari orang lain, atau memiliki koneksi yang lebih sedikit dari yang diinginkannya.

“Meski isolasi sosial dan perasaan kesepian saling berkaitan, keduanya bukan hal yang sama, seseorang bisa saja menjalani hidup terisolasi tanpa merasa kesepian, dan sebaliknya, orang dengan banyak kontak sosial pun tetap bisa mengalami kesepian,” jelas Cené.

Baca Juga:  Waspada! 4 Kebiasaan Harian Ini Diam-diam Rusak Jantung Anda

Pembedaan ini penting karena menunjukkan bahwa solusi bagi keduanya tidak selalu sama, menambah jumlah interaksi sosial belum tentu otomatis menghilangkan rasa kesepian jika kualitas koneksinya tidak bermakna.

Temuan Paling Mengejutkan: Gen Z, Bukan Lansia.

Salah satu temuan paling mengejutkan dari laporan ini adalah identifikasi orang remaja berusia 18-22 tahun sebagai generasi yang paling kesepian, berbeda dari anggapan umum yang sering mengaitkan kesepian dengan lansia atau mereka yang baru pensiun. Temuan ini merujuk pada survei Harvard University yang mengidentifikasi Generasi Z sebagai kelompok paling kesepian sekaligus paling terisolasi secara sosial.

Generasi muda ini cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial dan lebih sedikit terlibat dalam interaksi tatap muka dibandingkan generasi sebelumnya. Data juga menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memperburuk situasi ini secara khusus di kalangan remaja usia 18–25 tahun, lansia, perempuan, dan kelompok berpenghasilan rendah.

Temuan ini selaras dengan tren yang mulai terlihat di dalam negeri. Survei DataIndonesia.id mencatat kesepian sebagai salah satu pemicu masalah kesehatan mental yang diakui Gen Z Indonesia, sementara data BPS 2024 mencatat lebih dari 37% Gen Z Indonesia mengalami gejala gangguan mental terkait tekanan akademik, pekerjaan, dan sosial.

Pola hiperkonektivitas digital yang disebut berbagai riset sebagai salah satu pemicu justru berpotensi memperbesar rasa terisolasi, bukan menguranginya. Meski perlu dicatat data ini mengukur kesehatan mental secara umum, bukan secara spesifik mereplikasi metodologi survei kesepian Harvard.

Angka Risiko yang Sebenarnya: 29% dan 32%

“Ada bukti kuat yang mengaitkan isolasi sosial dan kesepian dengan peningkatan risiko kesehatan jantung dan otak secara umum. Namun, data mengenai kaitannya dengan beberapa kondisi spesifik, seperti gagal jantung, demensia, dan gangguan kognitif, masih memerlukan penelitian lebih lanjut,” tambah Cené.

Berdasarkan meta-analisis 19 studi, isolasi sosial dan kesepian berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner dan/atau kematian akibat penyakit jantung sebesar 29%. Sementara itu, meta-analisis terhadap 8 studi longitudinal menemukan peningkatan risiko stroke sebesar 32%, setelah dikontrol dengan faktor usia, jenis kelamin, dan posisi sosioekonomi.

Cené juga memperingatkan bahwa kesepian dapat memperburuk prognosis atau peluang pemulihan bagi individu yang sedang menderita penyakit jantung koroner atau pernah mengalami stroke.

Bagaimana Kesepian Bisa Sampai Merusak Jantung?

Bagaimana perasaan bisa berdampak fisik sampai ke jantung? Menurut Cené, isolasi sosial dan kesepian memengaruhi kesehatan kardiovaskular lewat beberapa jalur sekaligus, terutama lewat pengaruhnya terhadap perilaku kesehatan. Orang yang mengalami isolasi sosial atau kesepian cenderung mengadopsi gaya hidup yang merugikan kesehatan jantung dan otak, di antaranya:

  1. Mengonsumsi lebih sedikit buah dan sayuran.
  2. Kurang melakukan aktivitas fisik.
  3. Terlalu banyak duduk atau menjalani gaya hidup sedentari.
  4. Kualitas tidur yang lebih buruk.
  5. Kecenderungan merokok lebih sering.
  6. Lebih jarang memanfaatkan layanan kesehatan, termasuk layanan pencegahan.
Baca Juga:  Cukup Jalan Kaki 30 Menit Sehari: Hidupmu Akan Berubah Drastis!

Kesimpulan.

Temuan dari laporan ilmiah AHA ini menjadi pengingat penting, koneksi sosial bukan sekadar kebutuhan emosional, melainkan faktor risiko kardiovaskular yang setara pentingnya dengan faktor gaya hidup lain yang selama ini lebih sering dibahas.

Yang mengejutkan, kelompok yang paling perlu diwaspadai bukan cuma lansia yang kehilangan pasangan atau baru pensiun, melainkan juga generasi muda yang secara paradoks tumbuh di era paling terhubung secara digital sepanjang sejarah, namun paling kesepian secara sosial.

Membangun dan menjaga koneksi sosial yang bermakna, bukan sekadar jumlah interaksi digital, adalah langkah nyata yang berdampak langsung pada kesehatan fisik, bukan cuma kesehatan mental.

Sumber & Referensi.

  • Cené CW, dkk. “Effects of Objective and Perceived Social Isolation on Cardiovascular and Brain Health: A Scientific Statement From the American Heart Association.” Journal of the American Heart Association, 4 Agustus 2022. ahajournals.org.
  • American Heart Association Newsroom, siaran resmi laporan ilmiah tersebut. newsroom.heart.org.
  • Medscape, “Social Isolation, Loneliness Tied to Death, MI, Stroke: AHA” – rincian metodologi meta-analisis. medscape.com.
  • The Cardiology Advisor, penjelasan Dr. Cené soal jalur perilaku (pathway) isolasi sosial terhadap risiko kardiovaskular. thecardiologyadvisor.com.
  • DataIndonesia.id, survei pemicu masalah mental Gen Z Indonesia, termasuk kesepian. dataindonesia.id.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dokter atau psikolog profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Menelusuri kaitan erat antara stabilitas hidup sehari-hari dan kesehatan mental. Liputannya sering mengupas bagaimana tekanan eksternal, seperti perencanaan keuangan pribadi hingga dinamika investasi saham, memengaruhi tingkat stres psikologis, sekaligus membagikan strategi untuk mencapai keseimbangan hidup.