Messi 39 Tahun Tetap Prima Berkat 12 Tahun Stop Fast Food!
Cerupon.web.id – Lionel Andrés Messi lahir 39 tahun silam di Rosario, Provinsi Santa Fe, Argentina, dari pasangan Jorge dan Celia. “La Pulga” kini berada di usia yang bagi mayoritas pesepakbola profesional adalah sinyal pensiun, namun performanya justru tetap berkobar di panggung sepak bola paling prestisius.
Kenapa Usia 39 Ini Sebenarnya Luar Biasa Secara Ilmiah?
Untuk memahami seberapa istimewa pencapaian ini, penting melihat apa kata riset ilmiah soal kurva penuaan atlet sepak bola profesional. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Functional Morphology and Kinesiology (2025), menganalisis 5.203 data performa pertandingan dari 98 pemain profesional usia 18-39 tahun, menemukan performa fisik puncak pesepakbola terjadi jauh lebih muda dari yang dikira banyak orang, kecepatan puncak di usia 25,7 tahun, daya tahan puncak di 24,8 tahun, dan eksplosivitas puncak di usia 26 tahun. Setelah usia 32 tahun, penurunan eksplosif dan intensitas mulai terjadi secara signifikan.
Dengan kata lain, berdasarkan kurva biologis rata-rata, Messi seharusnya sudah melewati puncak performanya lebih dari satu dekade lalu dan sudah mengalami penurunan signifikan sejak tujuh tahun lalu. Bahwa ia masih tampil di level profesional di usia 39 bukan sekadar keberuntungan genetik semata, melainkan hasil kombinasi disiplin dan latihan.
Menariknya, perjalanan fisik Messi memang tidak pernah “biasa” sejak awal. Sebagai remaja di Argentina, Messi didiagnosis defisiensi hormon pertumbuhan (growth hormone deficiency) dan menjalani terapi suntik hormon selama bertahun-tahun, kondisi yang jadi salah satu alasan klub-klub Argentina ragu mendanai perawatannya, hingga akhirnya Barcelona yang membiayai pengobatannya saat merekrutnya di usia 13 tahun.
Fondasi Nutrisi Lima Pilar.
Sejak 2014, tim nutrisi Messi merancang protokol yang berfokus mengeliminasi gula olahan dan karbohidrat, dibangun di atas lima pilar yakni hidrasi optimal (air murni dalam volume besar), minyak zaitun extra virgin sebagai minyak masak utama (kaya asam oleat untuk regulasi kolesterol), biji-bijian utuh berindeks glikemik rendah, buah-buahan segar kaya antioksidan, dan sayuran segar sumber serat serta asam lemak esensial.
12 Tahun Menjauhi Fast Food.
Titik balik terjadi 2014, ketika mantan manajernya di Barcelona, Pep Guardiola, memberi peringatan tegas, larangan permanen terhadap soda dan pizza adalah harga yang harus dibayar jika ingin mempertahankan di papan atas. Sejak saat itu, Messi secara signifikan menyingkirkan kedua godaan tersebut, meski seperti dibahas lebih detail di artikel kami sebelumnya disini, realitanya soal pengurangan konsisten tanpa pengecualian selama 12 tahun penuh.
Sebagai pengganti pizza, Messi kini lebih memilih hidangan ayam panggang yang disajikan dengan sayuran (wortel, bit, atau parsnip), dimasak minimalis dengan sedikit garam dan sentuhan minyak zaitun, mencerminkan filosofi Poser soal makanan yang sederhana namun padat nutrisi, bukan menu diet rumit dipertahankan jangka panjang.
Latihan Melawan Penurunan.
Mengingat riset di atas menunjukkan eksplosivitas adalah salah satu kapasitas fisik yang paling cepat menurun seiring usia, program latihan Messi secara spesifik menargetkan area ini. Ia rutin menggunakan perangkat latihan yang mengaktifkan otot penstabil jaringan dalam (deep stabilizing muscles) yang sering terabaikan dalam latihan konvensional, dengan gerakan inti seperti sit-up jadi fondasi memperkuat punggung, perut, dan bokong.
Kombinasi ini menciptakan “pusat gravitasi rendah” yang jadi ciri khasnya, fondasi stabilitas yang memungkinkan akselerasi eksplosif dan dribel memukau, bahkan saat mengungguli bek-bek yang usianya jauh lebih muda.
Kesimpulan.
Data sains olahraga menunjukkan performa fisik puncak pesepakbola seharusnya sudah menurun di usia 39 tahun. Bahwa Messi masih kompetitif di level tertinggi bukan anomali tanpa penjelasan, melainkan hasil nyata dari disiplin dan latihan yang secara sengaja dirancang, dibangun fondasi fisik sejak remaja penuh tantangan. Kisah ini jadi pengingat bahwa usia biologis dan performa fisik, sampai batas tertentu, bisa dinegosiasikan lewat konsistensi jangka panjang, meski faktor genetik dan bakat alami tetap jadi fondasi yang tidak bisa ditiru semua orang.
Sumber & Referensi.
- “The Aging Curve: How Age Affects Physical Performance in Elite Football.” Journal of Functional Morphology and Kinesiology, 2025. doi.org.
- The Standard, “How Lionel Messi defies age”.
- Riwayat medis defisiensi hormon pertumbuhan Messi, biografi yang telah dipublikasikan luas oleh berbagai media olahraga internasional.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














