Jangan Makan Berat Sebelum Tidur, Ini Dampak Buruknya bagi Ginjal

Cerupon.web.id – Makan malam terlalu dekat dengan waktu tidur sering dianggap hanya dapat membuat perut begah atau mengganggu kualitas tidur. Namun, pola makan yang tidak teratur, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan dalam porsi besar pada larut malam, kini juga banyak diteliti kaitannya dengan kesehatan metabolik dan ginjal.

Ginjal memang tidak langsung “rusak” hanya karena seseorang makan malam sekali pada pukul 22.00 atau 23.00. Yang lebih perlu diperhatikan adalah kebiasaan makan larut malam yang berlangsung terus-menerus, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi kalori, gula, garam, atau lemak.

Dr. Himesh Gandhi, konsultan uro-onkologi dan direktur bedah robotik di Ruby Hall Clinic, menjelaskan bahwa makan dalam porsi besar terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu ritme sirkadian yang mengatur metabolisme, hormon, dan fungsi organ.

“Makan terlalu banyak dekat dengan waktu tidur, bisa mengganggu ritme sirkadian alami tubuh, dimana waktu yang mengontrol metabolisme, hormon, dan fungsi organ,” jelas Dr. Himesh Gandhi.

Mengapa Waktu Makan Bisa Berpengaruh?

Tubuh memiliki ritme sirkadian, yaitu sistem biologis sekitar 24 jam yang membantu mengatur tidur, hormon, metabolisme, dan berbagai fungsi tubuh. Karena itu, waktu seseorang makan juga dapat berhubungan dengan bagaimana tubuh menangani glukosa dan energi.

Beberapa penelitian menemukan bahwa pola makan pada waktu yang lebih larut berkaitan dengan kontrol gula darah yang kurang baik, resistensi insulin, kenaikan berat badan, dan tekanan darah tinggi. Kondisi-kondisi tersebut merupakan faktor risiko penting penyakit ginjal kronis.

Jadi, masalahnya bukan sekadar makanan berada di dalam perut ketika seseorang tidur, melainkan dampak pola makan tersebut terhadap kesehatan metabolik apabila menjadi kebiasaan.

Hubungannya dengan Penyakit Ginjal.

Diabetes dan hipertensi merupakan dua faktor risiko utama penyakit ginjal kronis. Ketika kadar gula darah tinggi berlangsung lama, pembuluh darah kecil yang berperan dalam penyaringan ginjal dapat mengalami kerusakan. Tekanan darah tinggi juga dapat merusak pembuluh darah ginjal secara perlahan.

Baca Juga:  Jangan Keliru! 4 Kondisi Ini Sinyal Ginjal Mulai Bermasalah

Penelitian berbasis data NHANES yang diterbitkan pada 2024 menemukan adanya hubungan antara waktu makan yang lebih larut dan prevalensi penyakit ginjal diabetik pada orang yang memiliki diabetes. Namun, penelitian tersebut bersifat cross-sectional, sehingga tidak dapat membuktikan bahwa makan larut malam secara langsung menyebabkan kerusakan ginjal.

Penelitian lain yang diterbitkan pada 2025 juga menemukan bahwa konsumsi makanan pada malam hari dalam jumlah besar berkaitan dengan peningkatan albuminuria serta sejumlah perubahan metabolik dalam studi terkontrol terhadap orang dewasa sehat. Temuan ini masih merupakan bukti awal dan tidak berarti makan malam larut sekali akan menyebabkan penyakit ginjal.

Makan Berat Larut Malam Lebih Bermasalah Jika Menjadi Kebiasaan.

Dr. Himesh Gandhi menjelaskan bahwa makan dalam porsi besar pada malam hari dapat membuat kadar gula darah dan trigliserida tetap tinggi lebih lama. Jika pola tersebut berlangsung dalam jangka panjang, risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi dapat meningkat.

Ketiga kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan beban terhadap ginjal. Artinya, seseorang tidak perlu panik hanya karena sesekali makan malam terlambat. Yang lebih penting adalah memperhatikan pola makan secara keseluruhan, ukuran porsi, kualitas makanan, serta kesehatan metabolik.

Kapan Sebaiknya Makan Malam?

Tidak ada satu jam makan malam yang cocok untuk semua orang. Namun, Dr. Himesh Gandhi menyarankan agar makan malam, bila memungkinkan, diselesaikan sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur.

Jeda tersebut dapat membantu memberikan waktu bagi tubuh sebelum tidur, terutama jika makanannya cukup besar. Yang juga penting adalah memperhatikan isi piring. Pilihan makanan dapat lebih banyak mengutamakan sayuran, sumber protein, biji-bijian utuh, serta lemak sehat, sambil membatasi makanan ultra-proses, makanan tinggi garam, dan minuman berpemanis.

Bagi orang yang sudah memiliki penyakit ginjal, diabetes, atau kondisi medis tertentu, pengaturan makanan dan cairan perlu disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan. National Kidney Foundation menekankan bahwa kebutuhan diet pada pasien penyakit ginjal berbeda-beda menurut stadium penyakit, hasil laboratorium, diabetes, tekanan darah, dan kondisi lainnya.

Jangan Lupa Faktor yang Lebih Penting bagi Ginjal.

Mengatur waktu makan hanyalah salah satu bagian dari gaya hidup sehat. Untuk menjaga ginjal, hal yang jauh lebih penting adalah mengendalikan tekanan darah dan gula darah, mempertahankan berat badan sehat, aktif bergerak, menghindari rokok, membatasi natrium, serta menggunakan obat secara tepat.

Baca Juga:  Investasi Masa Depan: 5 Kebiasaan untuk Menjaga Ginjal Tetap Prima hingga Lansia

Pemeriksaan fungsi ginjal juga penting bagi orang yang memiliki faktor risiko. Dengan demikian, jangan menganggap makan sebelum tidur sebagai satu-satunya penyebab penyakit ginjal. Penyakit ginjal kronis biasanya berkembang melalui kombinasi berbagai faktor dalam waktu panjang.

Kesimpulan.

Makan berat tepat sebelum tidur tidak otomatis menyebabkan kerusakan ginjal. Namun, kebiasaan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dan sangat larut malam dapat berkaitan dengan gangguan metabolisme seperti kontrol gula darah yang buruk, resistensi insulin, obesitas, dan hipertensi. Kondisi-kondisi tersebut merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal.

Dr. Himesh Gandhi menyarankan, bila memungkinkan, menyelesaikan makan malam sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur serta memilih makanan yang seimbang dan tidak berlebihan.

Namun, menjaga ginjal tidak cukup hanya dengan memajukan waktu makan. Mengendalikan gula darah dan tekanan darah, menjaga berat badan, aktif bergerak, membatasi garam dan makanan ultra-proses, serta melakukan pemeriksaan kesehatan bila memiliki faktor risiko tetap menjadi langkah yang lebih penting.

Sumber & Referensi.

  • Dr. Himesh Gandhi, Consultant Uro-Oncologist and Director of Robotic Surgery, Ruby Hall Clinic. hindustantimes.com.
  • Journal of Renal Nutrition. The Association Between Circadian Eating Behaviors and Diabetic Kidney Disease in Diabetes Mellitus Patients: A Cross-Sectional Analysis – Tao et al. (2026). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
  • Nutrition Journal. A late eating midpoint is associated with increased risk of diabetic kidney disease: a cross-sectional study based on NHANES 2013-2020 – Lu et al. (2024). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
  • Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases. Effects of Nighttime Eating Behavior on Cardiometabolic Health and Sleep: A Crossover Study (2025). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
  • National Kidney Foundation. Creating a Kidney Friendly Plate (2026). kidney.org.
  • National Kidney Foundation. Chronic Kidney Disease (CKD). kidney.org.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada liputan mendalam dan berita medis terkini. Berbekal pemahaman mengenai administrasi rumah sakit dan alur kerja klinis, artikel-artikelnya menyajikan informasi yang akurat seputar inovasi fasilitas pelayanan pasien, standar keperawatan, dan isu-isu krusial di dunia medis.