Jangan Abaikan! Red Flag Hubungan Ini Menurut Dokter Jiwa

Cerupon.web.id – Hubungan yang sehat seharusnya membuat kedua pihak merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri. Namun, hubungan dapat berubah menjadi tidak sehat ketika mulai dipenuhi kontrol, ketimpangan, atau perilaku yang membuat salah satu pihak merasa tertekan.

Spesialis kedokteran jiwa dr. Erickson Arthur S, SpKJ mengatakan, dasar hubungan yang sehat adalah kesetaraan dan komunikasi yang baik.

“Relasi harus dibangun atas kesamaan. Semuanya equal, jangan satu merasa superior, satu merasa inferior atau di bawah. Diperlukan juga komunikasi yang baik,” ujar dr. Erick, Jumat (3/7/2026).

Karena itu, tanda-tanda hubungan yang mulai tidak sehat sebaiknya dikenali sejak awal.

Hubungan Terlalu Cepat Bisa Menjadi Red Flag.

Menurut dr. Erick, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketika hubungan berkembang terlalu cepat, terutama pada masa pendekatan. Pasangan mungkin langsung memberikan perhatian berlebihan, melontarkan kata-kata romantis, hingga cepat menyatakan cinta sebelum keduanya benar-benar saling mengenal.

“Hubungan itu terasa begitu cepat, kata-kata yang manis, langsung cepat menyatakan cinta, semuanya seolah terjadi terlalu cepat. Di awal, hal ini harus kita evaluasi,” jelas dr. Erick.

Ia menilai proses mengenal pasangan membutuhkan waktu. Perkembangan hubungan yang sangat cepat tidak otomatis berarti buruk, tetapi tetap layak dievaluasi agar seseorang tidak mengabaikan kemungkinan adanya motif atau pola perilaku yang kurang sehat. Salah satu perilaku yang dapat muncul dalam situasi seperti itu adalah love bombing, yakni pemberian perhatian, pujian, atau kasih sayang secara sangat intens dalam waktu singkat.

Posesif dan Terlalu Mengontrol Juga Perlu Diwaspadai.

Red flag tidak hanya muncul ketika baru berkenalan. Setelah hubungan berjalan, masalah dapat terlihat dari perilaku pasangan yang mulai memaksakan kehendak, membatasi aktivitas, atau ingin mengetahui keberadaan pasangannya setiap saat. Dr. Erick mencontohkan kebiasaan memantau media sosial dan aktivitas pasangan secara berlebihan.

“Media sosial pasangan terus-menerus dipantau. Setiap detik, setiap menit harus tahu keberadaannya. Hal itu sebenarnya harus dievaluasi,” tuturnya.

Perhatian terhadap pasangan tentu berbeda dengan kontrol berlebihan. Dalam hubungan yang sehat, masing-masing tetap memiliki privasi dan ruang pribadi.

Merasa Kehilangan Diri Sendiri.

Tanda lain yang menurut dr. Erick perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai merasa tidak lagi menjadi dirinya sendiri setelah menjalani hubungan.

“Misalnya, kok saat pacaran saya merasa diri saya yang sebelumnya hilang, ya? Itu juga perlu kita evaluasi,” jelasnya.

Perubahan kebiasaan dalam hubungan merupakan hal yang wajar. Namun, jika seseorang merasa harus terus mengubah kepribadian, membatasi pergaulan, atau mengorbankan dirinya hanya demi memenuhi keinginan pasangan, kondisi tersebut patut dipertanyakan.

Red Flag Tidak Otomatis Berarti Harus Putus.

Menemukan tanda bahaya bukan berarti seseorang harus langsung mengakhiri hubungan tanpa mempertimbangkan situasinya. Menurut dr. Erick, red flag dapat dijadikan alarm untuk melakukan evaluasi terhadap hubungan dan membicarakan masalah yang muncul.

“Bukan berarti kita tidak boleh melanjutkan hubungan itu. Namun, jadikan red flag sebagai bahan evaluasi. Anggap itu sebagai alarm peringatan,” pungkasnya.

Namun, situasinya berbeda apabila red flag sudah berkembang menjadi ancaman, kekerasan, atau perilaku yang membahayakan keselamatan. Dalam kondisi tersebut, keselamatan harus menjadi prioritas dan korban perlu mencari dukungan dari orang yang dipercaya maupun tenaga profesional.

Kesimpulan.

Red flag dalam hubungan tidak selalu terlihat sebagai kekerasan sejak awal. Hubungan yang berkembang terlalu cepat, perhatian yang berlebihan, perilaku posesif, kontrol terhadap aktivitas pasangan, hingga perasaan kehilangan jati diri dapat menjadi tanda bahwa sebuah hubungan perlu dievaluasi.

Dr. Erickson Arthur S, SpKJ menekankan bahwa hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas kesetaraan dan komunikasi, bukan dominasi salah satu pihak. Red flag juga tidak harus langsung diartikan sebagai alasan untuk mengakhiri hubungan, tetapi menjadi alarm agar kedua pihak melihat kembali apakah hubungan tersebut masih sehat.

Jika perilaku kontrol sudah berubah menjadi ancaman atau kekerasan, masalahnya bukan lagi sekadar red flag hubungan. Keselamatan diri harus ditempatkan sebagai prioritas.

Sumber & Referensi.

  • dr. Erickson Arthur S, SpKJ – Program detikSore, 3 Juli 2026. health.detik.com.
  • World Health Organization (WHO). Violence against women. who.int.
  • World Health Organization (WHO). Health care for women subjected to intimate partner violence or sexual violence: A clinical handbook. who.int.
  • National Domestic Violence Hotline. What is Emotional Abuse? thehotline.org.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada gaya hidup sehat bagi para profesional di era digital. Memahami tingginya beban mental pada profesi yang menuntut fokus tinggi seperti pengembangan perangkat lunak, liputannya secara khusus membahas pencegahan burnout, ergonomi, dan cara menjaga kesehatan fisik serta mental saat terlalu lama berada di depan layar.