Waspada! Rhabdomyolisis Mengintai Pelari Maraton dan Olahraga Ekstrem.

Cerupon.web.id – Fenomena lari jarak jauh, khususnya maraton, telah bertransformasi dari sekadar aktivitas rekreasional menjadi pilar gaya hidup modern di tengah masyarakat urban. Di balik popularitasnya, seringkali kesadaran akan risiko kesehatan dan persiapan medis yang memadai masih tertinggal.

Banyak pelari pemula, terinspirasi oleh semangat juang, meyakini bahwa modal utama untuk menaklukkan lintasan puluhan kilometer hanyalah tekad baja dan mental pantang menyerah. Padahal, berbekal semangat membara saja ternyata belum cukup; ketidaktahuan dan ketidaksiapan justru bisa menjadi pintu masuk berbagai masalah kesehatan yang serius.

Mengintai: Ancaman Rhabdomyolysis

Memaksakan tubuh melampaui batas kemampuan fisik di lintasan maraton tanpa persiapan yang matang bisa berakibat fatal. Salah satu bahaya tersembunyi yang mengintai adalah rhabdomyolysis, kondisi medis serius yang ditandai dengan kerusakan ekstrem atau kematian sel-sel otot rangka secara cepat.

Kerusakan ini menyebabkan zat-zat berbahaya seperti protein mioglobin dan elektrolit dari dalam otot bocor dan mengalir ke aliran darah, menimbulkan ancaman serius bagi organ vital, terutama ginjal.

Pada dasarnya, olahraga memang sengaja dirancang untuk menciptakan ‘kerusakan’ mikro pada otot (mikrotrauma). Robekan kecil ini, selama fase istirahat dan pemulihan, akan diperbaiki oleh tubuh sehingga otot tumbuh lebih kuat. Ini adalah proses adaptasi alami yang bermanfaat.

Namun, ketika latihan melampaui ambang batas aman, dilakukan terlalu intens, memaksa, dan bahkan di bawah kondisi cuaca ekstrem, proses adaptasi alami di atas akan gagal total. Yang terjadi bukan lagi perbaikan mikro, melainkan kehancuran sel-sel otot secara massal dan masif.

Baca Juga:  Lari Marathon Berujung Ginjal Kolaps? Waspada Dehidrasi!

Sinyal Bahaya Kerusakan Otot dan Ginjal

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal hipertensi, dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan bahwa dalam konteks rhabdomyolysis, tubuh sebenarnya telah mengirimkan sinyal bahaya secara alami.

“Dia kelelahan (akut). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia,” ujar dr. Tunggul.

Sayangnya, banyak pelari yang cenderung menyepelekan rasa lelah akut dan memilih untuk terus melanjutkan aktivitasnya.

Dr. Tunggul menambahkan bahwa jika diabaikan atau terlambat ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi Acute Kidney Injury (AKI) atau cedera ginjal akut mendadak. Salah satu tanda yang bisa diamati adalah perubahan pada urine.

“Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya,” katanya.

Warna gelap pada urine ini disebabkan oleh mioglobin, pecahan protein dari otot yang kini terbuang melalui ginjal. Kabar baiknya,

“Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu,” sambung dr. Tunggul, menegaskan pentingnya penanganan dini.

Risiko Melampaui Lari: Semua Olahraga Ekstrem Berpotensi

Penting untuk dipahami bahwa risiko kerusakan sel otot yang mengancam ginjal ini tidak eksklusif hanya pada lari maraton. Menurut dr. Tunggul, segala bentuk latihan fisik intensitas tinggi atau ekstrem, yang melibatkan penggunaan otot secara masif, berpotensi menimbulkan risiko serupa jika tidak diimbangi dengan kesadaran untuk memahami dan mendengarkan sinyal-sinyal tubuh.

“Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga,” jelasnya, merujuk pada jenis olahraga fungsional intensitas tinggi seperti Hyrox.

Baik itu angkat beban berat, latihan ketahanan, atau olahraga fungsional lainnya, prinsipnya tetap sama: kenali batas tubuh.

Kunci Pencegahan: Pemanasan dan Hidrasi

Untuk meminimalkan potensi ancaman rhabdomyolysis dan Acute Kidney Injury, Dr. Tunggul Situmorang menekankan dua pilar utama yang tak boleh disepelekan: pemanasan yang memadai dan hidrasi yang optimal.

“Pemanasannya menjadi kunci juga. Jadi warming up-nya, makannya seluruh olahraga berat itu kan di-warming up dulu, apalagi olahraga berat,” tegasnya.

Pemanasan bukan sekadar ritual, melainkan proses krusial untuk mempersiapkan otot dan sistem kardiovaskular secara bertahap menghadapi beban kerja berat.

Selain itu, asupan cairan yang cukup, bahkan lebih dari biasanya saat berolahraga ekstrem, menjadi benteng pertahanan vital.

“Tentu cukup minum, harus malah lebih saya kira,” tutupnya.

Hidrasi yang baik membantu menjaga fungsi ginjal dan memfasilitasi proses metabolisme otot dengan lebih lancar, mengurangi risiko kerusakan sel.

Baca Juga:  Bahaya Rhabdomyolysis di Marathon: Otot Rusak, Ginjal Gagal!

Pada akhirnya, semangat untuk menyelesaikan tantangan fisik memang patut diacungi jempol. Namun, kebijaksanaan dalam mempersiapkan tubuh dan mendengarkan setiap sinyalnya jauh lebih penting daripada sekadar tekad membabi buta. Lari maraton atau aktivitas fisik intens lainnya haruslah menjadi perjalanan yang memberdayakan, bukan membahayakan.

Kesimpulan.

Rhabdomiolisis akibat aktivitas fisik (exertional rhabdomyolysis) merupakan komplikasi yang jarang tetapi serius dari olahraga dengan intensitas sangat tinggi, terutama ketika seseorang melakukan aktivitas yang berat atau belum terbiasa dengan beban tersebut. Kerusakan sel otot menyebabkan berbagai komponen intraseluler, termasuk kreatin kinase dan mioglobin, masuk ke dalam aliran darah. Pada kondisi berat, proses ini dapat disertai gangguan elektrolit dan meningkatkan risiko cedera ginjal akut (AKI).

Pencegahan sebaiknya dilakukan dengan meningkatkan beban latihan secara bertahap, memberikan waktu pemulihan yang cukup, memperhatikan kondisi panas dan kelembapan, serta menerapkan strategi hidrasi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Dengan persiapan yang baik dan kemampuan mengenali tanda bahaya, olahraga seperti lari maraton dan latihan intensitas tinggi tetap dapat dilakukan secara lebih aman. Yang terpenting bukan sekadar menyelesaikan latihan atau perlombaan, melainkan mengetahui kapan tubuh membutuhkan pengurangan beban, istirahat, atau pertolongan medis.

Sumber & Referensi.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada gaya hidup sehat bagi para profesional di era digital. Memahami tingginya beban mental pada profesi yang menuntut fokus tinggi seperti pengembangan perangkat lunak, liputannya secara khusus membahas pencegahan burnout, ergonomi, dan cara menjaga kesehatan fisik serta mental saat terlalu lama berada di depan layar.