Lari Marathon Berujung Ginjal Kolaps? Waspada Dehidrasi!

Cerupon.web.id – Ketika berbicara tentang fenomena “kolaps” pada pelari maraton, pikiran kita acap kali langsung tertuju pada masalah jantung atau kardiovaskular. Namun, ada bahaya tersembunyi lain yang mengintai organ vital, yaitu ginjal, yang tak jarang ikut tumbang akibat tuntutan aktivitas fisik ekstrem.

Penyebab utama “kolaps” ginjal dalam skenario ini adalah kondisi yang dikenal sebagai rabdomiolisis. Ini merupakan kerusakan parah pada jaringan otot rangka, seringkali dipicu oleh kelelahan ekstrem akibat aktivitas fisik berlebihan seperti lari maraton.

Seperti dijelaskan oleh dr. Jonny, SpPD-KGH, MKes, MM, DCN, FINASIM, seorang spesialis penyakit dalam, pecahnya sel-sel otot ini melepaskan komponen internalnya, terutama protein mioglobin dan elektrolit, ke dalam aliran darah. Kehadiran zat-zat ini dalam jumlah besar sangat berbahaya, berpotensi memicu gagal ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) dan bahkan gangguan irama jantung.

Pada kasus yang berat, cedera ginjal akut dapat berkembang menjadi AKI stadium lanjut dan dalam kondisi tertentu membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti dialisis, suatu tahap yang mungkin menuntut intervensi dialisis atau cuci darah untuk menyelamatkan fungsi ginjal.

Apa Pemicu Rabdomiolisis?

Lantas, apa saja faktor yang dapat memicu rabdomiolisis yang berujung pada kerusakan ginjal ini? Menurut dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, juga seorang spesialis penyakit dalam, ada beberapa faktor risiko yang patut diwaspadai:

Baca Juga:  Investasi Masa Depan: 5 Kebiasaan untuk Menjaga Ginjal Tetap Prima hingga Lansia

1. Pemanasan yang Tidak Tepat.

Memulai aktivitas intens tanpa pemanasan bertahap yang cukup dapat mengejutkan otot dan memicu kerusakan. Tubuh harus disiapkan secara perlahan sebelum digenjot performa puncak.

2. Dehidrasi.

Kekurangan cairan merupakan faktor signifikan. Dehidrasi sendiri sudah dapat menyebabkan cedera ginjal akut (AKI) dan tentunya akan memperparah risiko rabdomiolisis serta komplikasinya.

3. Cuaca Ekstrem.

Berlari dalam kondisi cuaca panas dapat meningkatkan risiko heatstroke dan memperburuk kondisi otot serta ginjal.

4. Memaksakan Diri (Pushing the Limit).

Kondisi ini sering terjadi ketika seseorang “mendorong batas” tubuhnya tanpa mempertimbangkan kapasitas dan risiko yang ada, mengabaikan sinyal kelelahan.

Mengenali tanda-tanda awal sangat krusial. Dr. Tunggul menekankan pentingnya untuk tidak meremehkan rasa lelah akut yang ekstrem. Memaksakan diri untuk terus berlari meskipun tubuh sudah mengirim sinyal kelelahan parah adalah tindakan yang sangat berisiko.

Jika tidak ditangani segera, kelelahan akut ini dapat dengan cepat berkembang menjadi cedera ginjal akut (AKI). Salah satu indikator visual yang jelas adalah perubahan warna urine. Akibat pelepasan mioglobin, urine bisa menjadi sangat gelap, menyerupai warna teh atau cola, dan juga mengandung protein dalam jumlah tinggi.

Kabar baiknya, dr. Tunggul menyebutkan bahwa cedera ginjal akut yang disebabkan rabdomiolisis ini bersifat reversible atau dapat dipulihkan sepenuhnya, asalkan penanganan medis dilakukan dengan cepat dan tepat.

Oleh karena itu, bagi setiap pelari, terutama yang berencana menaklukkan maraton, mendengarkan tubuh, persiapan yang matang, hidrasi yang cukup, dan kesadaran akan batas kemampuan diri adalah kunci untuk menjaga kesehatan ginjal dan seluruh tubuh tetap prima.

Kesimpulan.

Lari maraton dan olahraga endurance pada dasarnya bukan penyebab langsung gagal ginjal, tetapi aktivitas fisik yang sangat berat dan berlangsung lama dapat memberikan tekanan besar pada otot, sistem sirkulasi, serta fungsi ginjal. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika latihan dilakukan secara berlebihan atau disertai paparan panas dan gangguan keseimbangan cairan, dapat terjadi exertional rhabdomyolysis yang berpotensi menyebabkan cedera ginjal akut (AKI).

Baca Juga:  Waspada! Lelah Biasa Bisa Jadi Gejala Ginjal Kronis Terabaikan

Rabdomiolisis terjadi ketika serat otot mengalami kerusakan dan melepaskan berbagai zat ke dalam aliran darah, termasuk mioglobin. Dalam jumlah besar, mioglobin dapat berkontribusi terhadap kerusakan ginjal. Kondisi ini juga dapat disertai gangguan elektrolit dan komplikasi lain yang membutuhkan penanganan medis segera. Urine berwarna gelap seperti teh atau cola, nyeri dan kelemahan otot yang tidak biasa, serta kelelahan berat setelah aktivitas merupakan tanda yang patut diwaspadai, meskipun gejala rabdomiolisis dapat bervariasi.

Karena itu, pelari sebaiknya tidak memaksakan latihan ketika tubuh menunjukkan tanda kelelahan atau gangguan kesehatan. Persiapan latihan yang bertahap, memperhatikan kondisi cuaca, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, serta menyesuaikan strategi hidrasi dengan kebutuhan individu merupakan bagian penting dari pencegahan.

Sumber & Referensi.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada liputan mendalam dan berita medis terkini. Berbekal pemahaman mengenai administrasi rumah sakit dan alur kerja klinis, artikel-artikelnya menyajikan informasi yang akurat seputar inovasi fasilitas pelayanan pasien, standar keperawatan, dan isu-isu krusial di dunia medis.