Bahaya Rhabdomyolysis di Marathon: Otot Rusak, Ginjal Gagal!

Cerupon.web.id – Fenomena lari marathon semakin menggaung sebagai simbol kesadaran akan gaya hidup sehat dan aktif. Namun, di balik semangat sportivitas dan upaya meningkatkan kebugaran fisik, tersembunyi sebuah potensi risiko yang dapat berujung fatal jika tidak diantisipasi.

Kasus kolapsnya seorang pelari yang viral di media sosial baru-baru ini, hingga memerlukan cuci darah akibat gangguan fungsi ginjal, menjadi pengingat serius akan bahaya melampaui batas kemampuan tubuh.

Para ahli medis mengaitkan insiden tersebut dengan kondisi serius bernama Rhabdomyolysis. Ini adalah situasi di mana sel-sel otot mengalami kerusakan parah, yang pada akhirnya membebani kerja ginjal dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal hipertensi, dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menekankan bahwa Rhabdomyolysis, khususnya yang dipicu oleh olahraga ekstrem, sebenarnya bisa dicegah. Kunci utamanya adalah mengenali sinyal-sinyal peringatan dari tubuh.

“Kelelahan akut” adalah tanda paling umum dan krusial yang seharusnya tidak diabaikan.

“Jika sudah merasa sangat lelah namun tetap dipaksakan, ini adalah alarm yang wajib diperhatikan,” ujar dr. Tunggul.

Memahami Apa Itu Rhabdomyolysis.

Dikutip dari Cleveland Clinic, Rhabdomyolysis didefinisikan sebagai kondisi medis serius yang timbul akibat kerusakan atau kematian cepat pada jaringan otot rangka. Proses ini menyebabkan zat-zat vital dari dalam sel otot, seperti protein mioglobin dan berbagai elektrolit, bocor dan masuk ke dalam aliran darah.

Baca Juga:  Hati-hati Pelari Pemula! Dokter Jelaskan Risiko Rhabdomyolysis Anda

Ketika mioglobin ini sampai ke ginjal, ia dapat menyumbat dan merusak nefron (unit penyaring ginjal), memicu gangguan fungsi ginjal atau bahkan gagal ginjal akut.

Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh aktivitas fisik berat seperti marathon, tetapi juga bisa dipicu oleh trauma fisik, kondisi medis tertentu, atau penggunaan obat-obatan tertentu.

Dengan demikian, kegiatan yang menuntut daya tahan fisik ekstrem seperti lari jarak jauh sangat berisiko memicu Rhabdomyolysis jika tidak dilakukan dengan persiapan dan pemahaman yang memadai.

Tanda-tanda Peringatan Rhabdomyolysis.

Gejala Rhabdomyolysis bervariasi mulai dari tingkat ringan hingga berat, dan umumnya muncul satu hingga tiga hari setelah cedera otot terjadi. Menariknya, tidak semua penderita akan merasakan nyeri otot yang signifikan. Beberapa tanda dan gejala lain yang patut diwaspadai meliputi:

1. Kelelahan Akut.

Rasa lelah yang tidak proporsional dengan aktivitas, bahkan setelah istirahat singkat.

2. Dehidrasi.

Tubuh mengalami kekurangan cairan yang parah.

3. Penurunan Frekuensi Buang Air Kecil.

Ini bisa menjadi indikator awal gangguan fungsi ginjal.

4. Mual.

Perasaan tidak nyaman di perut yang dapat disertai muntah.

5. Penurunan Kesadaran.

Dalam kasus yang parah, penderita bisa mengalami kebingungan atau bahkan pingsan.

Bisakah Rhabdomyolysis Disembuhkan?

Kabar baiknya, Rhabdomyolysis, yang seringkali berujung pada Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut, memiliki peluang untuk pulih. Menurut dr. Tunggul, tingkat keparahan AKI memengaruhi prospek pemulihan.

Misalnya, AKI grade 1 dan 2, itu sebagian besar dapat pulih (reversible) tanpa perlu tindakan dialisis atau cuci darah, jelasnya. Namun, jika kondisi sudah mencapai AKI grade 3, intervensi dialisis menjadi langkah yang tidak terhindarkan untuk membantu fungsi ginjal.

Intinya, kecepatan penanganan sangat memengaruhi hasil akhir.

“Semakin cepat tindakan medis diambil sesuai dengan indikasi, maka peluang pemulihan akan semakin besar,” tutup dr. Tunggul.

Ini menggarisbawahi pentingnya mendengarkan tubuh dan mencari bantuan medis segera saat merasakan gejala mencurigakan setelah aktivitas fisik berat. Berlari marathon memang menyehatkan, namun mengenal dan menghormati batas tubuh adalah esensi dari olahraga yang bertanggung jawab.

Baca Juga:  Gagal Ginjal Kronis, Silent Disease yang Sering Terlambat Disadari

Kesimpulan.

Rhabdomiolisis merupakan kondisi serius yang dapat terjadi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan berat sehingga berbagai komponen sel, termasuk mioglobin dan elektrolit, masuk ke dalam aliran darah. Pada kasus yang berat, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan elektrolit dan meningkatkan risiko cedera ginjal akut (acute kidney injury/AKI). Aktivitas fisik yang sangat berat, terutama ketika seseorang melakukan latihan yang jauh melebihi kemampuan atau tingkat kebiasaannya, merupakan salah satu faktor yang dapat memicu kondisi tersebut.

Pelari maraton dan peserta olahraga endurance tidak perlu menghindari olahraga karena takut mengalami rhabdomiolisis. Risiko lebih berkaitan dengan kombinasi intensitas dan durasi latihan, peningkatan beban yang terlalu cepat, kondisi panas, dehidrasi, serta faktor individual. Karena itu, latihan yang dilakukan secara bertahap, waktu pemulihan yang memadai, dan perhatian terhadap kondisi tubuh menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko.

Pada akhirnya, olahraga endurance tetap memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Tantangannya adalah memastikan peningkatan latihan dilakukan secara bertahap dan tidak mengabaikan tanda-tanda tubuh. Mengenali gejala yang mencurigakan dan mendapatkan evaluasi medis lebih awal dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius pada otot, ginjal, dan organ lainnya.

Sumber & Referensi.

  • Pubmed. Exertional Rhabdomyolysis in Athletes: Systematic Review and Current Perspectives. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
  • Pubmed. Exertional rhabdomyolysis and acute kidney injury in endurance sports: A systematic review. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Mengkaji secara kritis dampak kehidupan siber terhadap psikologi modern. Artikel-artikelnya berfokus pada fenomena kecemasan akibat validasi media sosial (seperti obsesi terhadap metrik engagement dan click-through rate), bahaya doomscrolling, serta panduan detoks digital untuk menjaga kesehatan mental.