Gagal Ginjal Kronis, Silent Disease yang Sering Terlambat Disadari

Cerupon.web.id – Penyakit ginjal kronis (PGK) atau chronic kidney disease (CKD) merupakan salah satu kondisi yang sering berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal. Seseorang dapat tetap bekerja, beraktivitas, dan merasa sehat meskipun fungsi ginjalnya mulai mengalami penurunan. Inilah alasan penyakit ginjal kronis kerap disebut sebagai silent disease.

WHO menyebut penyakit ginjal sering tidak menimbulkan gejala sampai memasuki tahap lanjut. Ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan berat, barulah keluhan seperti kelelahan, pembengkakan, sesak napas, gatal, mual, atau muntah dapat muncul.

Masalahnya, pada tahap tersebut kerusakan mungkin sudah cukup signifikan. Karena itu, mendeteksi penyakit ginjal melalui pemeriksaan laboratorium sebelum muncul gejala menjadi sangat penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.

Apa Sebenarnya Penyakit Ginjal Kronis?

Ginjal merupakan dua organ yang berada di bagian belakang rongga perut. Keduanya bekerja terus-menerus untuk menyaring darah dan membantu membuang zat sisa serta kelebihan cairan melalui urine.

Selain menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, ginjal juga berperan dalam pengaturan tekanan darah, produksi hormon yang membantu pembentukan sel darah merah, serta menjaga kesehatan tulang.

Ketika ginjal mengalami kerusakan atau fungsi penyaringannya menurun, seseorang dapat mengalami penyakit ginjal kronis. Menurut pedoman KDIGO, CKD didefinisikan sebagai kelainan struktur atau fungsi ginjal yang berlangsung tiga bulan dan memiliki implikasi terhadap kesehatan.

Salah satu indikatornya adalah penurunan estimated glomerular filtration rate (eGFR). Namun, eGFR bukan satu-satunya parameter. Adanya albumin dalam urine secara menetap juga dapat menjadi tanda kerusakan ginjal.

Mengapa Penyakit Ginjal Sering Tidak Disadari?

Ginjal memiliki cadangan fungsi yang cukup besar. Ketika sebagian kemampuan penyaringan mulai menurun, tubuh masih dapat menjalankan banyak fungsi secara normal. Karena itu, seseorang mungkin belum merasakan perubahan apa pun.

National Kidney Foundation menyebut CKD tahap awal biasanya tidak menimbulkan gejala, sehingga pemeriksaan eGFR dan urine sangat penting untuk menemukan penyakit lebih dini. Inilah yang membuat pemeriksaan menjadi penting bagi kelompok berisiko. Jangan menunggu tubuh memberikan sinyal berupa bengkak, mual, atau sesak untuk mulai memeriksa ginjal.

Diabetes dan Hipertensi Adalah Dua Faktor Risiko Utama.

Dua kondisi yang sangat erat kaitannya dengan penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan hipertensi. Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil pada ginjal. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak sistem penyaringan dan menyebabkan albumin masuk ke urine. WHO menyebut diabetes dapat menyebabkan gagal ginjal dan merupakan salah satu penyebab utama di dunia penyakit ginjal.

Baca Juga:  Cek Urine Anda! Ini Tanda Ginjal Mulai Mengalami Kerusakan

Sementara itu, tekanan darah tinggi dapat memberikan tekanan terus-menerus pada pembuluh darah di ginjal. Hubungannya bahkan berlangsung dua arah. Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan ginjal, sedangkan penyakit ginjal juga dapat menyebabkan atau memperburuk hipertensi. Karena itu, mengendalikan kedua kondisi tersebut merupakan salah satu langkah terpenting untuk melindungi fungsi ginjal.

Faktor Lain yang Bisa Meningkatkan Risiko.

Selain diabetes dan hipertensi, penyakit ginjal kronis dapat berkaitan dengan berbagai kondisi lain. Beberapa di antaranya adalah:

  • Penyakit jantung dan pembuluh darah.
  • Obesitas.
  • Riwayat keluarga penyakit ginjal.
  • Penyakit autoimun.
  • Kelainan ginjal bawaan.
  • Batu ginjal atau gangguan saluran kemih tertentu.
  • Beberapa jenis infeksi.
  • Penggunaan obat tertentu dalam kondisi atau dosis yang tidak tepat.
  • Paparan zat yang dapat merusak ginjal.

WHO menyebut penyebab CKD dapat mencakup diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, glomerulonefritis, kondisi genetik, obat atau toksin tertentu, dan infeksi.

Gejala Bisa Muncul Saat Penyakit Sudah Lebih Lanjut.

Karena tahap awal sering tidak bergejala, keluhan yang muncul kemudian tidak boleh diabaikan. Gejala penyakit ginjal kronis tahap lanjut dapat meliputi:

1. Mudah lelah.

Penurunan fungsi ginjal dapat berhubungan dengan anemia dan penumpukan zat sisa sehingga tubuh terasa lebih lemah.

2. Kaki atau tangan membengkak.

Ginjal yang bermasalah dapat mengalami kesulitan mengatur keseimbangan cairan dan garam. Akibatnya, cairan dapat menumpuk di tubuh.

3. Lebih sering atau lebih jarang buang air kecil.

Perubahan pola buang air kecil dapat terjadi pada penyakit ginjal, meskipun keluhan ini juga memiliki banyak kemungkinan penyebab lain.

4. Urine berbusa.

Urine yang berbusa terus-menerus dapat berkaitan dengan peningkatan protein dalam urine atau albuminuria. Namun, urine berbusa sesekali tidak berarti penyakit ginjal.

5. Kulit terasa sangat gatal.

Pada penyakit ginjal tahap lanjut, penumpukan zat tertentu dalam tubuh dapat berkontribusi terhadap rasa gatal.

6. Mual dan muntah.

Ketika fungsi ginjal menurun berat, zat sisa metabolisme dapat menumpuk dan menyebabkan gangguan saluran cerna.

7. Kram otot dan gangguan tidur.

Perubahan keseimbangan cairan serta elektrolit dapat berkontribusi terhadap kram otot, sementara rasa tidak nyaman dan gangguan metabolisme dapat mengganggu tidur.

Gejala-gejala tersebut merupakan tanda yang perlu dievaluasi, tetapi tidak spesifik untuk CKD. Diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan.

Apa yang Diperiksa untuk Mengetahui Kondisi Ginjal?

Pemeriksaan ginjal tidak cukup hanya dengan melihat warna urine. Dua pemeriksaan penting yang sering digunakan adalah:

1. eGFR.

Estimated glomerular filtration rate atau eGFR memperkirakan seberapa baik ginjal menyaring darah. Nilai eGFR dihitung berdasarkan kadar kreatinin darah dan sejumlah karakteristik pasien. Penurunan eGFR dapat menjadi tanda fungsi ginjal yang berkurang. Namun, hasilnya perlu ditafsirkan bersama kondisi klinis dan pemeriksaan lainnya.

2. uACR.

Pemeriksaan urine albumin-to-creatinine ratio (uACR) digunakan untuk mengetahui apakah terdapat albumin dalam urine. Albuminuria yang menetap dapat menjadi tanda kerusakan ginjal, bahkan ketika fungsi filtrasi belum turun secara signifikan. Karena itu, seseorang bisa memiliki masalah ginjal meskipun eGFR belum rendah, apabila terdapat bukti kerusakan ginjal lainnya.

Apakah Penyakit Ginjal Kronis Bisa Disembuhkan?

Untuk banyak jenis CKD, kerusakan yang sudah terjadi tidak dapat dikembalikan sepenuhnya seperti semula. Namun, hal tersebut tidak berarti pasien pasti akan mengalami gagal ginjal. Perkembangan CKD dapat diperlambat dengan mengendalikan penyebab dan faktor risikonya. Misalnya dengan:

  • Mengontrol tekanan darah.
  • Menjaga kadar gula darah.
  • Berhenti merokok.
  • Mempertahankan berat badan yang sehat.
  • Menerapkan pola makan sesuai kondisi.
  • Aktif bergerak.
  • Menggunakan obat sesuai anjuran.
  • Menghindari penggunaan obat yang berpotensi merusak ginjal tanpa pengawasan.
Baca Juga:  10 Makanan Terbaik untuk Menjaga Fungsi Ginjal Sejak Usia Muda

Penanganan harus disesuaikan dengan penyebab serta stadium penyakit.

Jangan Menunggu Sampai Muncul Gejala.

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menunggu sampai tubuh terasa tidak enak sebelum memeriksakan ginjal. Padahal, ketiadaan gejala bukan bukti bahwa ginjal sehat. Seseorang dengan diabetes atau hipertensi dapat merasa baik-baik saja selama bertahun-tahun sementara kerusakan ginjal berkembang secara perlahan.

Karena itu, pemeriksaan sederhana menjadi sangat berarti bagi orang yang berisiko. Seperti halnya tekanan darah yang tidak dapat diketahui hanya dengan “merasakan” apakah tubuh sehat, fungsi ginjal juga tidak bisa dipastikan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan darah dan urine memberikan informasi yang jauh lebih objektif.

Kesimpulan.

Penyakit ginjal kronis dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sebelum menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, istilah “silent disease” lebih tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana CKD sering kali tidak disadari pada tahap awal.

Diabetes dan hipertensi merupakan dua faktor risiko terpenting yang perlu dikendalikan. Selain itu, penyakit jantung, obesitas, riwayat keluarga, penyakit autoimun, gangguan ginjal tertentu, infeksi, serta paparan obat atau toksin tertentu juga dapat berperan.

Perlu dipahami pula bahwa CKD tidak sama dengan gagal ginjal stadium akhir. Penyakit ginjal kronis memiliki beberapa tahap, dan deteksi serta penanganan sejak dini dapat membantu memperlambat perkembangannya.

Karena sebagian besar CKD tahap awal tidak menimbulkan gejala, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu sampai tubuh mengalami pembengkakan, mual, sesak, atau kelelahan berat. Pemeriksaan eGFR dan albumin urine atau uACR dapat membantu menemukan gangguan ginjal lebih awal.

Menjaga tekanan darah dan gula darah, aktif bergerak, menjaga berat badan, berhenti merokok, mengatur pola makan, serta mengikuti pemeriksaan kesehatan sesuai risiko merupakan langkah penting untuk mempertahankan fungsi ginjal.

Sumber & Referensi.

  • KDIGO. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. kdigo.org.
  • World Health Organization (WHO). Kidney Disease. who.int.
  • National Kidney Foundation (NKF). Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR). kidney.org.
  • National Kidney Foundation (NKF). Stages of Chronic Kidney Disease (CKD). kidney.org.
  • National Kidney Foundation (NKF). Kidney Function Tests. kidney.org.
  • World Health Organization (WHO). Diabetes. who.int.
  • World Health Organization (WHO). Hypertension. who.int.
  • National Kidney Foundation (NKF). Chronic Kidney Disease (CKD). kidney.org.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada liputan mendalam dan berita medis terkini. Berbekal pemahaman mengenai administrasi rumah sakit dan alur kerja klinis, artikel-artikelnya menyajikan informasi yang akurat seputar inovasi fasilitas pelayanan pasien, standar keperawatan, dan isu-isu krusial di dunia medis.