Waspada, Ini Efek Kanker Serviks Stadium Lanjut Menurut Dokter

Cerupon.web.id – Kanker serviks merupakan jenis kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim (serviks), yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan ke vagina. Hampir seluruh kasus penyakit ini dipicu oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), sekelompok virus yang umumnya menular melalui kontak seksual.

Pada fase awal, kanker serviks sering kali berkembang tanpa menunjukkan gejala sama sekali, sehingga baru disadari ketika sudah memasuki stadium lanjut atau menyebar ke organ lain.

Mengenal Tingkatan atau Stadium Kanker Serviks

Merujuk pada data dari Cancer Research UK, perkembangan kanker serviks dibagi menjadi empat tahapan atau stadium utama berdasarkan tingkat penyebarannya:

Stadium 1 (Kanker Terlokalisir di Leher Rahim).

Pada fase ini, sel kanker masih berada sepenuhnya di dalam leher rahim dan belum menyebar ke jaringan atau organ tubuh lainnya.

Stadium 1A: Ukuran kanker sangat kecil sehingga hanya bisa dideteksi menggunakan alat bantu seperti mikroskop atau kolposkop.

Stadium 1B: Kanker masih terbatas pada serviks, tetapi invasinya lebih luas dibandingkan stadium IA dan dapat dibagi lagi berdasarkan ukuran tumor.

Stadium 2 (Mulai Menyebar ke Sekitar Serviks).

Kanker mulai menyebar ke luar leher rahim menuju jaringan di sekitarnya, tetapi belum mencapai dinding panggul atau bagian bawah vagina.

Stadium 2A: Kanker telah menyebar ke dua pertiga bagian atas vagina tetapi belum menginvasi jaringan di sekitar rahim (parametrium).

Stadium 2B: Kanker mulai menginvasi jaringan lunak di sekitar leher rahim (parametrium).

Stadium 3 (Penyebaran ke Area Panggul dan Kelenjar Getah Bening).

Pada tahapan ini, kanker telah menyebar lebih jauh ke struktur panggul atau kelenjar getah bening terdekat.

Baca Juga:  Kabar Baik! Kematian Kanker Serviks Muda Inggris Nyaris Nol Berkat Vaksin HPV

Stadium 3A: Kanker telah mencapai sepertiga bagian bawah vagina, namun belum sampai ke dinding panggul.

Stadium 3B: Sel tumor telah menembus dinding panggul dan/atau menyebabkan penyumbatan pada salah satu atau kedua saluran kemih (ureter) yang mengalirkan urine dari ginjal.

Stadium 3C: Kanker telah terdeteksi di kelenjar getah bening panggul atau para-aorta, namun belum menyebar ke organ tubuh yang jauh.

Stadium 4 (Metastasis atau Stadium Akhir).

Kanker telah menyebar luas ke organ tubuh lainnya di luar area panggul.

Stadium 4A: Kanker telah menyebar ke organ panggul yang berdekatan, seperti kandung kemih atau rektum..

Stadium 4B: Kanker telah menyebar ke organ tubuh yang jauh, misalnya paru-paru.

Gejala Kanker Serviks yang Perlu Diwaspadai.

Ketika penyakit ini berkembang ke stadium yang lebih parah, tubuh akan mulai menunjukkan tanda-tanda yang signifikan. Berikut adalah beberapa gejala kanker serviks stadium lanjut:

1. Keputihan yang Tidak Biasa dan Berbau Menyengat.

Menurut penjelasan medis dari Cleveland Clinic, keputihan abnormal, seperti bertekstur encer, bercampur darah, jumlahnya sangat banyak, dan berbau tidak sedap, bisa menjadi indikasi kanker serviks, baik di fase awal maupun lanjut.

Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Yudi Mulyana Hidayat, SpOG, Subsp. Onk, menegaskan bahwa perubahan pada keputihan merupakan alarm penting yang harus diwaspadai.

Keputihan yang normal biasanya berwarna bening. Jika sudah berubah warna menjadi putih pekat, kekuningan, apalagi disertai aroma busuk dan bercak darah, hal itu mengindikasikan adanya infeksi bakteri atau bahkan pertumbuhan jaringan kanker yang merusak,” jelasnya dalam sebuah konferensi pers.

2. Pendarahan dan Rasa Nyeri saat Berhubungan Seksual.

Prof. Yudi juga menjelaskan bahwa pendarahan spontan yang terjadi setelah berhubungan intim adalah gejala klasik lainnya. Jika aktivitas seksual juga menimbulkan rasa nyeri yang hebat, ini menandakan bahwa sel kanker kemungkinan besar telah menginvasi jaringan sensitif di sekitar leher rahim.

3. Komplikasi Saluran Kemih dan Pencernaan yang Serius.

Pada stadium akhir (Stadium 4), kerusakan jaringan akibat kanker bisa memicu komplikasi yang sangat mengganggu, seperti kebocoran urine (inkontinensia) atau keluarnya feses melalui vagina. Kondisi ini terjadi karena sel kanker telah mengikis dinding pembatas antara vagina dengan kandung kemih atau saluran pencernaan.

Metode Efektif untuk Mendiagnosis Kanker Serviks.

Metode dan jadwal skrining kanker serviks dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, metode pemeriksaan, dan pedoman yang berlaku di masing-masing negara. WHO saat ini merekomendasikan tes HPV DNA sebagai metode utama dalam program skrining kanker serviks, dengan interval pemeriksaan yang disesuaikan dengan kelompok sasaran.

1. Pemeriksaan Pap Smear.

Metode ini dilakukan dengan mengambil sampel sel dari permukaan leher rahim untuk diperiksa di laboratorium. Tujuannya adalah mendeteksi adanya perubahan sel abnormal (prakanker) sebelum berkembang menjadi kanker. Berdasarkan panduan dari National Cancer Institute, wanita berusia 21 tahun ke atas sangat disarankan untuk menjalani Pap Smear secara rutin setiap tiga tahun sekali.

Baca Juga:  Kabar Baik! Kematian Kanker Serviks Muda Inggris Nyaris Nol Berkat Vaksin HPV

2. Skrining IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat).

Skrining IVA adalah pemeriksaan sederhana yang dilakukan dengan mengoleskan cairan asam asetat encer ke leher rahim. Jika terdapat sel abnormal, area tersebut akan berubah warna menjadi putih (acetowhite) dalam waktu satu menit. Pemeriksaan alternatif yang terjangkau ini direkomendasikan untuk wanita usia 35 tahun ke atas dengan frekuensi setiap 3 hingga 5 tahun sekali.

3. Tes HPV DNA.

Sesuai rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tes HPV DNA bertujuan untuk mendeteksi keberadaan materi genetik dari jenis virus HPV berisiko tinggi yang memicu kanker serviks. Sampel sel diambil dari serviks dengan metode yang serupa dengan Pap Smear. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan bagi wanita mulai usia 30 tahun dan dapat dilakukan secara berkala setiap 5 hingga 10 tahun sekali.

Kesimpulan.

Kabar baiknya, kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling dapat dicegah. Vaksinasi HPV, skrining dengan metode yang sesuai, serta tindak lanjut dan pengobatan terhadap lesi prakanker dapat mencegah banyak kasus sebelum berkembang menjadi kanker invasif. WHO saat ini menempatkan tes HPV DNA sebagai metode skrining utama yang direkomendasikan dalam program pencegahan, dengan interval dan usia pemeriksaan yang disesuaikan dengan populasi serta kebijakan kesehatan masing-masing negara.

Karena itu, perubahan seperti perdarahan setelah berhubungan seksual, perdarahan vagina yang tidak biasa, atau keputihan yang menetap dan tidak normal sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi strategi paling penting karena kanker serviks yang ditemukan lebih awal memiliki pilihan penanganan dan peluang pengendalian penyakit yang lebih baik.

Sumber & Referensi.

  • WHO. Cervical Cancer. who.int.
  • NCI. Cervical Cancer Stages. cancer.gov.
  • WHO. Guideline for screening and treatment of cervical pre-cancer lesions. who.int.
  • WHO. HPV DNA Genotyping Guideline 2026. who.int.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Menelusuri kaitan erat antara stabilitas hidup sehari-hari dan kesehatan mental. Liputannya sering mengupas bagaimana tekanan eksternal, seperti perencanaan keuangan pribadi hingga dinamika investasi saham, memengaruhi tingkat stres psikologis, sekaligus membagikan strategi untuk mencapai keseimbangan hidup.