Gawat! Separuh Lebih Penduduk Malaysia Hidup dengan Obesitas
Cerupon.web.id – Malaysia tengah menghadapi tantangan kesehatan yang tidak hanya penyakit infeksi. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang semakin serius.
Masalahnya bukan hanya meningkatnya jumlah orang yang mengalami kelebihan berat badan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Salah satu perhatian utama adalah diabetes melitus. Penyakit ini dapat berkembang secara perlahan dan dalam banyak kasus tidak langsung menimbulkan gejala yang jelas. Tanpa pengendalian yang baik, kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, hingga masalah penglihatan.
Diabetes dan Penyakit Kronis Menjadi Tantangan di Malaysia.
Berdasarkan pernyataan yang dikutip dari otoritas kesehatan Malaysia, diabetes menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Dalam data yang disampaikan Dr. Veronica Lugah, Direktur Departemen Kesehatan Negara Bagian Sarawak, sekitar satu dari enam warga Malaysia telah didiagnosis diabetes.
Selain diabetes, tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol yang tinggi juga menjadi persoalan besar. Kondisi-kondisi tersebut sering kali dapat ditemukan secara bersamaan pada seseorang dan saling memperburuk risiko penyakit kardiovaskular.
Artinya, persoalan yang dihadapi bukan sekadar meningkatnya angka diabetes, tetapi sebuah kombinasi faktor risiko metabolik yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung.
Benarkah Lebih dari Separuh Penduduk Malaysia Mengalami Obesitas?
Angka 54,4 persen yang disebut dalam laporan tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Dalam pemberitaan mengenai status berat badan masyarakat Malaysia, istilah kelebihan berat badan (overweight) dan obesitas (obesity) tidak selalu memiliki arti yang sama. Keduanya merupakan kategori berdasarkan indeks massa tubuh (IMT), tetapi batas kategorinya berbeda.
Seseorang dengan IMT yang masuk kategori overweight belum tentu dapat disebut mengalami obesitas. Padahal, angka yang dilaporkan merupakan gabungan kelompok overweight dan obesitas. Perbedaan istilah ini penting karena angka prevalensi obesitas sangat bergantung pada definisi, kelompok usia, metode pengukuran, dan populasi yang diteliti.
Mengapa Berat Badan Berlebih Berkaitan dengan Diabetes?
Obesitas bukan penyebab tunggal diabetes, tetapi merupakan salah satu faktor risiko penting, terutama untuk diabetes tipe 2. Salah satu mekanisme yang dapat terjadi adalah meningkatnya resistensi insulin.
Insulin merupakan hormon yang membantu glukosa dari aliran darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Ketika tubuh mengalami resistensi insulin, sel menjadi kurang responsif terhadap hormon tersebut.
Pada tahap awal, pankreas dapat meningkatkan produksi insulin untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Namun, jika kondisi resistensi insulin berlangsung dalam waktu lama, kemampuan tubuh mempertahankan kadar gula darah normal dapat semakin menurun.
Akibatnya, kadar glukosa dalam darah dapat meningkat dan pada akhirnya berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua orang dengan obesitas akan mengalami diabetes, dan seseorang yang tidak obesitas pun tetap dapat terkena diabetes tipe 2. Faktor genetik, usia, riwayat keluarga, pola makan, aktivitas fisik, distribusi lemak tubuh, serta kondisi kesehatan lainnya juga dapat berperan.
Kurang Bergerak Ikut Memperbesar Risiko.
Perubahan gaya hidup juga menjadi bagian penting dari persoalan ini. Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan energi dan meningkatkan sensitivitas insulin. Sebaliknya, kebiasaan sedentari atau terlalu banyak menghabiskan waktu dengan duduk dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko obesitas dan gangguan metabolisme.
Kurangnya aktivitas fisik juga tidak selalu berarti seseorang sama sekali tidak pernah berolahraga. Seseorang mungkin melakukan olahraga selama beberapa puluh menit, tetapi tetap menghabiskan sebagian besar hari dengan duduk di depan komputer, mengendarai kendaraan, atau menggunakan perangkat digital.
Karena itu, aktivitas fisik sehari-hari secara keseluruhan juga penting diperhatikan.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150–300 menit aktivitas fisik aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas dengan intensitas berat, disertai aktivitas penguatan otot sesuai rekomendasi. Aktivitas fisik juga dapat membantu menurunkan risiko sejumlah penyakit tidak menular.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menurunkan Risiko?
Tidak ada satu tindakan yang dapat menghilangkan seluruh risiko diabetes atau obesitas. Namun, beberapa perubahan gaya hidup dapat memberikan manfaat bagi kesehatan metabolik.
1. Lebih banyak bergerak.
Aktivitas fisik tidak harus selalu berupa olahraga berat. Berjalan kaki, menggunakan tangga, melakukan pekerjaan rumah, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik lainnya dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif. Yang penting adalah mengurangi waktu sedentari dan membangun aktivitas fisik secara konsisten.
2. Memperhatikan pola makan.
Pola makan yang sehat dapat membantu menjaga berat badan sekaligus mengendalikan berbagai faktor risiko metabolik. Pilihan makanan dapat lebih banyak diarahkan pada sayuran, buah, biji-bijian utuh, sumber protein yang baik, serta makanan dengan kandungan lemak jenuh, gula tambahan, dan garam yang lebih rendah. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda. Orang yang sudah memiliki diabetes atau penyakit tertentu sebaiknya mendapatkan saran pola makan dari tenaga kesehatan.
3. Menjaga berat badan tetap sehat.
Menurunkan berat badan dalam jumlah tertentu pada orang yang mengalami overweight atau obesitas dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan metabolik. Target penurunan berat badan juga tidak harus ekstrem. Bahkan perubahan berat badan yang relatif moderat dapat memberikan manfaat pada sebagian orang.
4. Melakukan pemeriksaan kesehatan.
Diabetes dan hipertensi dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara berkala dapat membantu menemukan masalah lebih awal, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Kesimpulan.
Malaysia menghadapi tantangan serius akibat tingginya beban penyakit tidak menular, termasuk diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan masalah berat badan. Obesitas dan kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko penting yang berkaitan dengan diabetes tipe 2, tetapi keduanya bukan satu-satunya penyebab. Faktor genetik, usia, pola makan, distribusi lemak tubuh, riwayat keluarga, serta berbagai faktor lingkungan juga dapat memengaruhi risiko seseorang.
Yang tidak kalah penting, diabetes dan penyakit metabolik bukan semata-mata masalah orang lanjut usia. Pencegahan melalui aktivitas fisik yang cukup, pola makan seimbang, pengelolaan berat badan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu menurunkan risiko dan menemukan gangguan metabolik lebih awal.
Sumber & Referensi.
- Ministry of Health Malaysia. Clinical Practice Guidelines: Management of Obesity 2nd Edition (2023). moh.gov.my.
- Ministry of Health Malaysia. National Health and Morbidity Survey (NHMS) 2023 – Overweight or Obesity and Sedentary Lifestyle. infosihat.moh.gov.my.
- World Health Organization (WHO). Physical Activity – Recommendations for Adults. who.int.
- World Health Organization (WHO). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. who.int.
- World Health Organization (WHO). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour: At a Glance. who.int.
- World Health Organization (WHO). Global Report on Diabetes – Risk Factors for Type 2 Diabetes. iris.who.int.
- World Health Organization (WHO). Obesity, Cardiovascular Disease and Type 2 Diabetes. iris.who.int.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














