Waspada! Pemilik Golongan Darah Ini Berisiko Stroke Lebih Tinggi
Cerupon.web.id – Setiap individu memiliki golongan darah yang unik, sebuah sistem klasifikasi penting yang menentukan kecocokan darah antar manusia. Secara garis besar, kita mengenal empat golongan darah utama: A, B, AB, dan O.
Penentuan golongan darah ini didasarkan pada ada atau tidaknya antigen A dan antigen B di permukaan sel darah merah. Selain itu, tenaga medis juga memeriksa keberadaan protein khusus yang disebut faktor Rhesus (Rh). Jika protein Rh ini ditemukan, golongan darah dikategorikan sebagai rhesus positif (+). Sebaliknya, ketiadaannya menjadikan golongan darah tersebut rhesus negatif (-).
Jenis-Jenis Golongan Darah Umum
Dengan kombinasi antigen ABO dan faktor Rh, terbentuklah delapan jenis golongan darah yang paling sering kita jumpai:
- A positif (A+)
- A negatif (A-)
- B positif (B+)
- B negatif (B-)
- AB positif (AB+)
- AB negatif (AB-)
- O positif (O+)
- O negatif (O-)
Pentingnya mengetahui golongan darah tidak dapat diremehkan. Informasi ini krusial untuk menjamin keselamatan transfusi darah dan keberhasilan transplantasi organ. Namun, di luar fungsi vital tersebut, penelitian ilmiah juga mulai menguak potensi kaitan golongan darah dengan kerentanan terhadap penyakit tertentu, termasuk salah satunya adalah stroke.
Adakah Kaitan Golongan Darah dengan Risiko Stroke?
Sebuah temuan mengejutkan dari riset terkini telah menyoroti hubungan antara golongan darah tertentu dengan peningkatan risiko stroke pada usia muda. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Neurology pada tahun 2022 mengungkap bahwa individu dengan subkelompok golongan darah A1 menunjukkan kemungkinan lebih tinggi untuk terserang stroke sebelum menginjak usia 60 tahun.
“Temuan penting dan mengejutkan ini memperkaya pemahaman kita mengenai faktor risiko stroke yang tidak dapat dimodifikasi, termasuk golongan darah seseorang,” kata ilmuwan sekaligus dokter dari University of Maryland, Mark Gladwin, seperti yang dikutip dari Science Alert.
Masyarakat umumnya hanya mengenal empat golongan darah utama (A, B, AB, O). Namun, di balik pengelompokan tersebut, terdapat variasi genetik yang lebih spesifik akibat mutasi pada gen tertentu. Dalam konteks medis dan genetika, istilah A1 dan O1 merujuk pada varian genetik (alel) dalam sistem ABO yang lebih detail daripada penggolongan darah umum.
Untuk mendalami hubungan ini, para peneliti menganalisis data ekstensif dari 48 studi genetik. Penelitian tersebut melibatkan sekitar 17.000 pasien stroke dan hampir 600.000 orang yang tidak memiliki riwayat stroke. Seluruh partisipan berusia antara 18 hingga 59 tahun.
Hasil analisis menunjukkan bahwa orang yang memiliki variasi genetik golongan darah A1 memiliki risiko sekitar 16 persen lebih tinggi mengalami stroke sebelum usia 60 tahun dibandingkan dengan mereka yang memiliki golongan darah lain. Sebaliknya, individu dengan variasi genetik golongan darah O1 justru diketahui memiliki risiko stroke sekitar 12 persen lebih rendah.
Mengapa Stroke Usia Muda Semakin Meresahkan?
Fenomena stroke pada usia muda menjadi perhatian serius para ahli. Dr. Steven Kittner, ahli neurologi vaskular dan penulis senior studi tersebut dari University of Maryland, menekankan bahwa insiden stroke di kalangan usia muda terus menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan.
Orang yang mengalami stroke di usia muda menghadapi risiko kematian yang lebih tinggi. Mereka yang berhasil bertahan hidup juga berpotensi menderita disabilitas selama puluhan tahun. Sayangnya, penyebab stroke pada usia muda masih belum banyak diteliti secara mendalam,” ujarnya.
Melalui analisis genom, para peneliti berhasil mengidentifikasi dua lokasi gen yang berkaitan erat dengan risiko stroke dini. Salah satu lokasi tersebut berada tepat pada gen ABO yang berperan dalam menentukan golongan darah seseorang.
Mekanisme yang Diduga dan Keterbatasan Penelitian
Meskipun demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa peningkatan risiko pada pemilik golongan darah A tergolong kecil. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk merasa cemas berlebihan atau menjalani pemeriksaan tambahan hanya berdasarkan golongan darah.
Kami masih belum mengetahui secara pasti mengapa golongan darah A dapat meningkatkan risiko stroke,” kata Kittner. “Namun, kemungkinan besar hal ini terkait dengan berbagai faktor pembekuan darah, seperti trombosit, sel-sel yang melapisi pembuluh darah, serta protein-protein lain dalam sirkulasi darah yang berkontribusi pada proses pembentukan bekuan.
Risiko Tetap Dipengaruhi Banyak Faktor Lain
Hasil penelitian ini memang menarik, namun para peneliti mengingatkan bahwa golongan darah bukanlah satu-satunya atau faktor utama penentu risiko stroke. Setiap tahun, ratusan ribu orang di seluruh dunia mengalami stroke, dengan mayoritas kasus terjadi pada individu berusia 65 tahun ke atas. Risiko ini diketahui meningkat hampir dua kali lipat setiap 10 tahun setelah usia 55 tahun.
Selain itu, mayoritas peserta penelitian ini berasal dari wilayah seperti Amerika Utara, Eropa, Jepang, Pakistan, dan Australia. Hanya sekitar 35 persen partisipan yang berasal dari kelompok non-Eropa, sehingga penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih beragam sangat dibutuhkan untuk menggeneralisasi temuan ini.
Para peneliti juga membandingkan pasien stroke usia muda (di bawah 60 tahun) dengan mereka yang mengalami stroke setelah usia 60 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara golongan darah A dan peningkatan risiko stroke tidak lagi signifikan pada kelompok usia lanjut.
Temuan ini mengindikasikan adanya perbedaan mekanisme stroke antara usia muda dan usia lanjut. Menurut peneliti, stroke pada orang yang lebih muda cenderung lebih sering dipicu oleh gangguan pembentukan bekuan darah, bukan oleh penumpukan plak lemak di pembuluh darah (aterosklerosis) seperti yang banyak terjadi pada lansia.
Selain golongan darah A, penelitian ini juga menemukan bahwa pemilik golongan darah B memiliki risiko sekitar 11 persen lebih tinggi mengalami stroke dibandingkan orang dengan golongan darah lain, terlepas dari usia mereka.
Sejumlah studi sebelumnya juga telah menunjukkan bahwa gen ABO yang menentukan golongan darah berkaitan dengan peningkatan risiko pengapuran pembuluh darah koroner, serangan jantung, serta trombosis vena atau terbentuknya bekuan darah di pembuluh vena.
Apa Itu Stroke?
Stroke adalah kondisi darurat medis serius yang timbul saat suplai darah ke otak terputus, baik karena adanya sumbatan maupun perdarahan. Kurangnya aliran darah ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel otak dan memicu komplikasi yang fatal.
Neurolog Dr. Ricky Gusanto Kurniawan, SpN, SubspNIIO (K), FINR menjelaskan bahwa secara umum, stroke terbagi menjadi dua tipe utama: iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otak.
Sementara itu, stroke hemoragik timbul ketika pembuluh darah pecah, menyebabkan darah terkumpul dan menekan jaringan otak di sekitarnya. Perdarahan ini bisa terjadi di dalam jaringan otak atau di antara lapisan otak (perdarahan subaraknoid).
Jika jaringan otak di sekitarnya tertekan (akibat perdarahan), apa yang terjadi? Pembengkakan, dan pembengkakan jaringan otak akan semakin parah. Ketika darah menekan batang otak, fungsi vital seperti pernapasan akan terganggu, pasien dapat kehilangan kesadaran, bahkan kekuatan ototnya bisa hilang seluruhnya, jelas Dr. Ricky saat berbincang dengan salah satu media.
Kondisi ini seringkali terjadi secara mendadak, diawali dengan keluhan nyeri kepala hebat. Pada kasus stroke hemoragik, sakit kepala parah biasanya disertai mual, muntah, hingga kehilangan kesadaran.
“Stroke itu memang sangat mengejutkan. Bisa saja tadi orangnya lagi makan, baik-baik saja, bahkan sedang mengobrol, tiba-tiba ibunya mengeluh nyeri kepala hebat lalu tidak sadar, Dok. Itu kan kejadiannya sangat mendadak,” pungkasnya.
Kesimpulan.
Golongan darah tidak hanya berperan dalam menentukan kecocokan transfusi darah, tetapi juga diduga memiliki kaitan dengan risiko beberapa penyakit, termasuk stroke. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neurology, individu dengan variasi genetik golongan darah A1 diketahui memiliki risiko sedikit lebih tinggi mengalami stroke sebelum usia 60 tahun, sedangkan variasi O1 cenderung memiliki risiko yang lebih rendah. Meski demikian, peningkatan risiko tersebut relatif kecil sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Para ahli menegaskan bahwa golongan darah bukanlah faktor utama penyebab stroke. Risiko penyakit ini tetap lebih banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti usia, tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol, kebiasaan merokok, obesitas, serta gaya hidup yang kurang sehat.
Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat dan mengendalikan faktor risiko yang dapat diubah tetap menjadi langkah paling efektif untuk mencegah stroke, terlepas dari apa pun golongan darah yang dimiliki.
Sumber & Referensi.
- Neurology. Contribution of Common Genetic Variants to Risk of Early-Onset Ischemic Stroke – Jaworek et al. (2022). neurology.org.
- PubMed. Contribution of Common Genetic Variants to Risk of Early-Onset Ischemic Stroke – Jaworek et al. (2022). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- PMC / National Library of Medicine. Contribution of Common Genetic Variants to Risk of Early-Onset Ischemic Stroke – Jaworek et al. (2022). pmc.ncbi.nlm.nih.gov.
- Neurology. Common Genetic Variants and Early Onset Stroke: Clues but No Answers – Majersik & Lacaze (2022). neurology.org.
- World Health Organization (WHO). Stroke – Fact Sheet (2025). who.int.
- World Health Organization (WHO). Cardiovascular Diseases (CVDs). who.int.
- American Stroke Association. Stroke Risk Assessment. stroke.org.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














