Terungkap! Psikiater Bongkar Ciri Psikopat Kasus Penyekapan Sadis Viral Bandung

Cerupon.web.id – Belakangan ini, istilah “psikopat” kembali ramai diperbincangkan publik menyusul sejumlah kasus kekerasan dalam hubungan asmara yang mencuat di media. Di tengah perbincangan ini, spesialis kedokteran jiwa dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, memberikan penjelasan klinis penting soal apa yang sebenarnya dimaksud dengan “kecenderungan psikopatik,” sekaligus mengingatkan agar istilah ini tidak digunakan sembarangan.

Peringatan Penting Sebelum Melangkah Lebih Jauh.

Ini poin krusial yang justru ditekankan sendiri oleh dr. Lahargo, penilaian seseorang sebagai psikopat tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan informasi yang beredar di publik atau media sosial. Untuk menentukan seseorang benar-benar memiliki gangguan kepribadian antisosial dengan ciri psikopatik, dibutuhkan pemeriksaan psikiatri lengkap, meliputi wawancara klinis terstruktur, penelusuran riwayat hidup, dan tes kepribadian oleh profesional yang kompeten.

“Kita perlu juga memahami bahwa tidak semua perilaku kekerasan dilakukan oleh seorang psikopat,” tegasnya.

Artikel ini karenanya bukan untuk “mendiagnosis” pasangan, mantan, atau siapa pun, melainkan panduan mengenali pola perilaku yang layak diwaspadai dan didiskusikan lebih lanjut dengan profesional jika muncul berulang.

Psikopat, Antisosial, atau Sosiopat Apa Bedanya?

Ini kerap membingungkan karena ketiganya sering dipakai bergantian di percakapan awam, padahal secara klinis tidak identik.

Gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder/ASPD) adalah diagnosis resmi yang tercantum dalam DSM-5 (manual diagnostik American Psychiatric Association) maupun PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Indonesia). Ditandai pola perilaku yang mengabaikan atau melanggar hak orang lain secara terus-menerus, disertai nurani yang rendah, impulsivitas, dan kecenderungan agresif.

“Psikopat” di sisi lain, secara teknis bukan diagnosis resmi tersendiri di DSM-5, melainkan istilah yang menggambarkan bentuk gangguan kepribadian antisosial yang lebih berat dan dingin secara emosional, sering dinilai lewat instrumen klinis khusus seperti Hare Psychopathy Checklist. Dengan kata lain, semua yang memenuhi kriteria psikopatik pada dasarnya masuk kategori antisosial, tapi tidak semua orang dengan gangguan kepribadian antisosial otomatis seorang psikopat.

Baca Juga:  5 Cara Efektif agar Anak Nyaman Terbuka dan Bercerita pada Orang Tua

“Sosiopat” pun bukan istilah diagnostik resmi, dan dalam praktiknya sering dianggap tumpang tindih dengan antisosial, meski sebagian klinisi menganggap sosiopat cenderung lebih dipengaruhi faktor lingkungan (pola asuh, trauma masa kecil), sementara psikopat dinilai punya komponen bawaan yang lebih kuat.

Karakteristik.

Menurut dr. Lahargo, karakteristik dingin dan sadis pada individu dengan kecenderungan psikopatik umumnya melibatkan perilaku kekerasan ekstrem tanpa rasa empati, disertai kontrol yang sangat dominan terhadap orang di sekitarnya, pola yang mencerminkan pelanggaran berat terhadap hak asasi orang lain tanpa mempertimbangkan konsekuensinya sama sekali. Ciri-ciri yang patut diwaspadai dalam konteks hubungan asmara yaitu:

1. Minim empati.

Menunjukkan sedikit atau bahkan tidak ada empati sama sekali terhadap penderitaan dan rasa sakit orang lain, termasuk terhadap pasangannya sendiri.

2. Tanpa penyesalan.

Tidak pernah benar-benar merasa bersalah, menyesal, atau berdosa setelah menyakiti orang lain, meski di permukaan bisa terlihat meminta maaf demi mempertahankan hubungan.

3. Manipulatif.

Sangat lihai memanipulasi situasi dan pandai membangun citra baik di hadapan publik, sering kali orang di sekitarnya (termasuk keluarga/teman pasangan) tidak menyadari sisi lain yang ditunjukkan secara privat.

4. Sering berbohong.

Terbiasa berbohong demi keuntungan pribadi atau kepuasan diri, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditutupi.

5. Kontrol berlebihan.

Memiliki hasrat kuat mengontrol pasangan secara total, mulai dari membatasi pertemanan, memantau komunikasi, hingga mengatur keputusan sehari-hari pasangan.

6. Egois.

Memandang orang lain bukan sebagai manusia seutuhnya, melainkan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pribadi.

7. Pesona palsu di awal hubungan.

Ini yang membuat pola ini sangat berbahaya dan sulit dideteksi sejak dini, di tahap perkenalan, individu dengan kecenderungan ini bisa tampil sangat perhatian, romantis, protektif, bahkan posesif dengan cara yang awalnya terasa seperti tanda cinta yang besar, bukan tanda bahaya.

Kenapa Topeng di Awal Hubungan Begitu Meyakinkan?

Fenomena ini dalam psikologi relasi sering disebut sebagai fase idealisasi atau love bombin, perhatian, kedekatan emosional, dan keintiman yang dibangun jauh lebih cepat dari kewajaran, sehingga pasangan merasa “ditemukan jodoh sejati” dalam waktu singkat. Pola kontrol dan posesif yang muncul di fase ini pun sering disalahartikan sebagai bentuk kepedulian atau cemburu karena cinta, alih-alih dikenali sebagai sinyal awal kontrol yang lebih besar di kemudian hari.

Baca Juga:  10 Negara Terbaik untuk Work-Life Balance, Bikin Hidup Lebih Tenang

Ini mengapa dr. Lahargo menekankan pentingnya kewaspadaan sejak dini, bukan menunggu pola kekerasan sebelum mengenali tanda-tanda lainnya.

Jika Anda Mengenali Pola Ini pada Pasangan

Mengenali satu atau dua ciri di atas secara sesekali tidak serta-merta berarti pasangan Anda seorang psikopat, semua orang punya momen egois atau kurang empati. Yang perlu diwaspadai adalah pola yang konsisten dan berulang, terutama saat dikombinasikan dengan kontrol yang meningkat dari waktu ke waktu. Jika Anda mengenali pola ini dalam hubungan Anda sendiri:

  • Bicarakan dengan orang yang benar-benar Anda percaya, teman atau keluarga yang bisa melihat situasi dari luar, karena manipulasi seringkali membuat korban kehilangan perspektif objektif.
  • Konsultasikan ke psikolog atau psikiater, baik untuk diri sendiri maupun untuk memahami dinamika hubungan yang sedang dijalani.
  • Jika sudah mengarah ke kekerasan fisik, verbal, atau kontrol yang membahayakan, hubungi layanan SAPA 129, hotline resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk pengaduan kekerasan, tersedia melalui telepon 129 atau WhatsApp 08111129129.

Kesimpulan.

Istilah “psikopat” sering dipakai pada percakapan sehari-hari, padahal secara klinis punya definisi yang jauh lebih spesifik dan hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan profesional, bukan dari jarak jauh berdasarkan cerita atau unggahan media sosial. Yang lebih penting bagi siapa pun yang sedang menjalin hubungan adalah mengenali pola perilaku berisiko sejak dini, kontrol berlebihan, minim empati, dan manipulasi terutama karena pelakunya kerap tampil menawan di awal hubungan.

Sumber & Referensi.

  • Wikipedia Bahasa Indonesia, “Gangguan Kepribadian Antisosial”, sejarah kriteria diagnostik DSM. id.wikipedia.org.
  • Kementerian PPPA RI, layanan pengaduan SAPA 129. laporsapa129.
  • Liputan6.com, “Istilah Psikopat Muncul dalam Kasus Dugaan Penyekapan di Bandung, Ini Kata Psikiater”, penjelasan dr. Lahargo soal syarat diagnosis psikiatri lengkap. kesehatan.liputan6.com.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada liputan mendalam dan berita medis terkini. Berbekal pemahaman mengenai administrasi rumah sakit dan alur kerja klinis, artikel-artikelnya menyajikan informasi yang akurat seputar inovasi fasilitas pelayanan pasien, standar keperawatan, dan isu-isu krusial di dunia medis.