Hati-hati Pelari Pemula! Dokter Jelaskan Risiko Rhabdomyolysis Anda

Cerupon.web.id – Manfaat olahraga bagi kesehatan tak terbantahkan, namun di balik setiap aktivitas fisik, tersimpan pula potensi risiko jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa persiapan memadai. Salah satu kondisi serius yang kini semakin sering dibahas adalah rhabdomyolysis, kerusakan jaringan otot parah yang berpotensi memicu gagal ginjal.

Topik ini mencuat di Indonesia setelah sebuah kasus viral di media sosial, seorang pelari kolaps hingga harus menjalani cuci darah karena fungsi ginjalnya terganggu setelah mengikuti sebuah event lari.

Fenomena “ginjal kolaps” ini seringkali menjadi ancaman nyata, terutama bagi para pelari pemula. Menurut dr. Tunggul Situmorang, Sp.PD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, penyebab utamanya terletak pada kurangnya persiapan tubuh.

“Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual,” jelas dr. Tunggul.

Kenapa Olahraga Bisa Berubah Berbahaya?

Untuk memahami rhabdomyolysis, penting dipahami dulu bahwa olahraga pada dasarnya memang bertujuan “merusak” otot, tapi dalam skala kecil dan terkendali. Saat berlari atau berlatih beban, otot mengalami robekan mikroskopis (mikrotrauma). Selama fase istirahat, tubuh memperbaiki robekan ini sehingga otot tumbuh lebih kuat.

Masalahnya muncul ketika olahraga dilakukan terlalu intens, mendadak, atau dipaksakan melebihi kapasitas tubuh, proses adaptasi gagal total. Alih-alih robekan kecil yang bermanfaat, yang terjadi justru kehancuran sel-sel otot secara masif dan melepaskan protein mioglobin serta elektrolit ke aliran darah dalam jumlah besar, yang pada akhirnya membebani juga merusak ginjal.

Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan di jurnal ilmiah (dirangkum PubMed) terhadap 772 kasus rhabdomyolysis akibat olahraga menemukan bahwa 54,3% di antaranya terjadi pada pelari, termasuk pelari maraton, jauh lebih tinggi dibanding olahraga lain seperti angkat beban 14,8%.

Baca Juga:  Awas, 3 Kebiasaan Sehari-hari Ini Merusak Ginjal Diam-diam

Bukan Cuma Pemula, Atlet Berpengalaman Pun Berisiko.

Dr. Tunggul menegaskan bahwa baik pemula maupun atlet profesional, jika tidak mempersiapkan diri dengan baik sebelum bertanding, sama-sama berpotensi mengalami rhabdomyolysis.

“Kemarin itu ada, pelari maraton yang berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya, sangat eksesif, sangat berat, mendadak,” jelasnya.

Dehidrasi, dan Satu Hal yang Sering Terlewat.

Selain intensitas dan persiapan yang kurang, dehidrasi turut memicu rhabdomyolysis.

“Kekurangan cairan memang salah satu faktor penting, meski bukan satu-satunya penyebab utama,” kata dr. Tunggul.

Dehidrasi sendiri dapat menyebabkan Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan gagal ginjal akut, sehingga kurangnya hidrasi saat berolahraga tidak hanya memperburuk kondisi otot yang rusak, tapi juga bisa secara langsung memicu atau memperparah gangguan pada ginjal. Kombinasi ini diperparah kondisi cuaca panas ekstrem, terutama jika seseorang memaksakan diri melampaui batas kemampuan tubuhnya.

Risikonya bukan cuma soal kurang minum. Penelitian pada pelari ultra-endurance juga mengidentifikasi exercise-associated hyponatremia (EAH), kondisi kadar natrium darah yang terlalu rendah akibat minum air berlebihan tanpa penggantian elektrolit yang seimbang, sebagai faktor yang justru bisa ikut memicu kerusakan sel otot dan gagal ginjal. Artinya, solusinya bukan sekadar “minum sebanyak-banyaknya,” melainkan hidrasi yang seimbang dengan elektrolit yang memadai.

Satu Kebiasaan Berisiko, Obat Pereda Nyeri.

Ini bagian yang tidak dibahas dr. Tunggul secara eksplisit, tapi penting ditambahkan dari literatur medis, penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen yang sering dikonsumsi pelari jarak jauh untuk mengantisipasi atau meredakan nyeri otot sebelum/selama lomba, justru teridentifikasi sebagai salah satu faktor yang dapat memperberat risiko gagal ginjal pada kasus rhabdomyolysis, khususnya bagi pelari jarak jauh. Kombinasi dehidrasi, kerusakan otot, dan NSAID sama-sama membebani kerja ginjal dalam waktu bersamaan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai, Tidak Selalu Muncul Saat Berlari.

Salah satu sinyal paling penting yang wajib dikenali menurut dr. Tunggul adalah munculnya rasa lelah akut yang tetap dipaksakan.

“Dipaksakan kok itu, udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia,” katanya.

Gejala rhabdomyolysis tidak selalu langsung terasa saat berlari. Beberapa tanda justru baru muncul satu hingga tiga hari setelah kerusakan otot terjadi. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi tubuh sangat lelah, nyeri atau lemah otot, mual, dehidrasi, buang air kecil berkurang, hingga urine berwarna lebih gelap dari biasanya, tanda keberadaan mioglobin (pecahan protein otot) dalam urine.

Kabar Baiknya, Umumnya Bisa Pulih Jika Cepat Ditangani.

Meski terdengar menakutkan, dr. Tunggul menjelaskan bahwa kerusakan ginjal akibat rhabdomyolysis pada dasarnya bersifat reversible jika ditangani cepat dan tepat. Ia menjelaskan sistem staging AKI.

“Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, itu sudah harus dialisis. Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible,” katanya.

Cara Berlari Lebih Aman.

Merangkum penjelasan dr. Tunggul dan literatur kedokteran olahraga, berikut langkah konkret mengurangi risiko:

  • Pemanasan bertahap (gradual), bukan langsung tancap gas meski merasa sudah terbiasa berolahraga.
  • Kenali dan hormati sinyal kelelahan tubuh, bukan dipaksakan terus.
  • Hidrasi seimbang, bukan sekadar banyak minum tanpa memperhatikan asupan elektrolit.
  • Hindari konsumsi NSAID/ibuprofen berlebihan sebelum atau selama lari jarak jauh.
  • Waspadai gejala susulan hingga 1-3 hari pascalari, terutama urine yang gelap dan buang air kecil yang berkurang drastis.
  • Segera cari pertolongan medis jika gejala di atas muncul.
Baca Juga:  Waspada! Ini 3 Tanda Penyakit Ginjal Stadium Lanjut yang Muncul di Kulit

Kesimpulan.

Rhabdomyolysis bukan risiko khusus pelari pemula, meski merekalah yang paling sering terdampak akibat kurangnya persiapan bertahap. Dengan tren lari maraton dan olahraga intensitas tinggi seperti hyrox yang terus berkembang di Indonesia, memahami batas kemampuan tubuh, mendengarkan sinyal kelelahan, dan mengenali gejala susulan yang bisa muncul beberapa hari setelah berlari adalah kunci untuk tetap menikmati olahraga tanpa membahayakan ginjal.

Sumber & Referensi.

  • “Exertional Rhabdomyolysis in the Athlete: A Clinical Review.” PMC, National Library of Medicine (NIH). pmc.ncbi.nlm.nih.gov.
  • “Exertional Rhabdomyolysis in Athletes: Systematic Review and Current Perspectives.” PubMed, 2023. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
  • Studi hiponatremia dan rhabdomyolysis pada ultra-endurance racers. PMC/NIH. pmc.ncbi.nlm.nih.gov.
  • Profil dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH – Siloam Hospitals. siloamhospitals.com.
  • detikHealth, “Pelari Pemula Lebih Rentan Terkena Rhabdomyolysis, Dokter Ungkap Alasannya” (21 Juni 2026). health.detik.com.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada liputan mendalam dan berita medis terkini. Berbekal pemahaman mengenai administrasi rumah sakit dan alur kerja klinis, artikel-artikelnya menyajikan informasi yang akurat seputar inovasi fasilitas pelayanan pasien, standar keperawatan, dan isu-isu krusial di dunia medis.