Waspada! Ini 3 Tanda Penyakit Ginjal Stadium Lanjut yang Muncul di Kulit
Cerupon.web.id – Penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas, terutama pada tahap awal. Namun, ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan berat, perubahan pada kulit dapat muncul sebagai salah satu keluhan.
American Academy of Dermatology (AAD) menyebut kulit sangat kering, rasa gatal yang berat, serta luka atau bekas garukan sebagai beberapa masalah kulit yang dapat dialami penderita penyakit ginjal lanjut. Kondisi tersebut paling sering menjadi perhatian pada pasien dengan penyakit ginjal tahap akhir.
Meski demikian, perubahan kulit tidak dapat digunakan untuk menentukan stadium penyakit ginjal. Keluhan tersebut juga bisa disebabkan oleh banyak kondisi lain.
1. Gatal Hebat yang Sulit Dikendalikan.
Rasa gatal merupakan salah satu masalah kulit yang cukup sering dialami pasien dengan penyakit ginjal kronis, terutama mereka yang sudah mengalami penyakit ginjal lanjut atau menjalani hemodialisis.
Kondisi ini dikenal sebagai chronic kidney disease-associated pruritus (CKD-aP). Gatal dapat muncul di satu bagian tubuh atau menyebar ke banyak area. Pada sebagian pasien, rasa gatal bisa berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas maupun tidur. AAD juga menyebut rasa gatal berat sebagai salah satu masalah kulit yang umum pada penyakit ginjal stadium lanjut.
Penyebabnya tidak sederhana. Penelitian menunjukkan bahwa CKD-aP kemungkinan melibatkan beberapa mekanisme sekaligus, termasuk penumpukan zat tertentu dalam tubuh, gangguan sistem imun dan peradangan, perubahan sistem saraf, serta gangguan fungsi pelindung kulit.
Jadi, gatal pada pasien penyakit ginjal bukan sekadar akibat “racun yang keluar melalui kulit”. Mekanismenya jauh lebih kompleks.
2. Kulit Sangat Kering dan Kasar.
Selain gatal, penderita penyakit ginjal kronis dapat mengalami xerosis, yaitu kondisi ketika kulit menjadi sangat kering. AAD menjelaskan bahwa kulit pada penyakit ginjal stadium akhir dapat menjadi kasar, bersisik, mudah pecah, bahkan tampak seperti sisik ikan.
Penelitian pada pasien anak dengan CKD juga menemukan bahwa kulit kering cukup sering terjadi. Dalam studi terhadap 103 anak dengan CKD stadium 3–5, xerosis ditemukan lebih sering pada pasien yang menjalani dialisis, yakni 67,6%, dibandingkan kelompok yang mendapat pengobatan konservatif sebesar 42,1%.
Gangguan lapisan pelindung kulit sendiri dapat memperburuk rasa gatal. Review terbaru menyebut perubahan fungsi skin barrier merupakan salah satu bagian dari mekanisme yang mungkin berperan dalam CKD-associated pruritus.
3. Luka dan Bekas Garukan pada Kulit.
Gatal yang berlangsung terus-menerus sering membuat penderita menggaruk kulit berulang kali. Akibatnya dapat muncul goresan, luka terbuka, kerak, penebalan kulit, maupun benjolan akibat garukan kronis. AAD memasukkan bekas garukan dan luka sebagai salah satu manifestasi kulit yang dapat ditemukan pada pasien penyakit ginjal.
Masalahnya, semakin sering kulit digaruk, semakin besar kerusakan pada lapisan pelindung kulit. Kulit yang terluka juga menjadi lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi.
Pedoman Clinical Kidney Journal 2025 menyebut lesi akibat garukan seperti ekskoriasi, kerak, impetigo, likenifikasi, dan prurigo dapat muncul pada pasien dengan CKD-associated pruritus. Karena itu, mengatasi penyebab gatal dan merawat lapisan kulit menjadi bagian penting dari penanganan.
Mengapa Penyakit Ginjal Bisa Memengaruhi Kulit?
Ginjal yang mengalami gangguan berat tidak lagi menjalankan fungsi pembuangan zat sisa dan pengaturan keseimbangan tubuh sebaik ginjal yang sehat. Pada CKD-associated pruritus, para peneliti menduga ada beberapa mekanisme yang saling berhubungan, antara lain:
- Penumpukan zat uremik.
- Perubahan sistem kekebalan dan peradangan.
- Gangguan sistem saraf yang memproses sensasi gatal.
- Serta kerusakan skin barrier.
Karena mekanismenya kompleks, tidak semua pasien mengalami gatal dengan pola yang sama. Bahkan, rasa gatal pada pasien penyakit ginjal tetap perlu dibedakan dari penyakit kulit, alergi, efek obat, gangguan hati, maupun penyebab lain.
Apakah Kulit Kering Berarti Ginjal Sudah Gagal?
Belum tentu. Ini bagian yang sangat penting.
AAD memang menyebut kulit sangat kering dan gatal lebih sering ditemukan pada penyakit ginjal lanjut, tetapi perubahan tersebut bukan tanda khusus yang dapat memastikan seseorang mengalami gagal ginjal.
Bahkan penelitian pada anak dengan CKD menemukan xerosis sudah dapat muncul pada stadium yang belum mencapai gagal ginjal. Dengan demikian, seseorang yang mengalami kulit kering atau gatal tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa fungsi ginjalnya sudah sangat buruk.
Kapan Sebaiknya Memeriksakan Diri?
Jika gatal dan kulit kering terjadi terus-menerus tanpa penyebab yang jelas, terutama jika disertai gejala lain seperti:
- Pembengkakan kaki atau wajah.
- Perubahan jumlah urine.
- Urine berbusa.
- Mudah lelah.
- Mual.
- Tekanan darah tinggi.
- atau memiliki diabetes maupun hipertensi,
Sebaiknya lakukan pemeriksaan medis. Diagnosis penyakit ginjal memerlukan pemeriksaan yang sesuai, seperti kreatinin dan eGFR dalam darah serta albumin urine, bukan hanya melihat kondisi kulit.
Bagi pasien yang memang sudah memiliki CKD dan mengalami gatal berat, dokter dapat menentukan penyebab serta terapi yang sesuai. Penanganannya dapat mencakup perawatan kulit, pengobatan khusus untuk CKD-associated pruritus, hingga terapi lain seperti fototerapi pada kasus tertentu.
Kesimpulan.
Perubahan kulit memang dapat muncul pada penyakit ginjal kronis lanjut, terutama berupa gatal hebat, kulit sangat kering, serta luka atau bekas garukan. Kondisi tersebut cukup sering ditemukan pada pasien dengan CKD lanjut dan mereka yang menjalani dialisis.
Namun, kulit kering atau gatal bukan tanda pasti gagal ginjal dan tidak dapat digunakan untuk menentukan stadium penyakit ginjal. Berbagai penyakit kulit dan kondisi sistemik lain juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
Jika perubahan kulit berlangsung terus-menerus atau disertai gejala yang mengarah pada gangguan ginjal, pemeriksaan medis lebih penting daripada mencoba menebak penyebabnya dari kondisi kulit saja.
Sumber & Reformasi.
- American Academy of Dermatology (AAD). Kidney disease: 11 ways it can affect your skin. aad.org.
- Clinical Kidney Journal. CKD-associated pruritus in haemodialysis: a road map for diagnosis and treatment (2025). academic.oup.com.
- Renal Failure. Zeng F, Zhu C, Ding L, Yang B, Liu N. Chronic kidney disease-associated pruritus: a perspective on skin barrier damage (2026). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- Pediatric Nephrology. Wojtowicz-Prus E, et al. Disturbed skin barrier in children with chronic kidney disease (2015). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- Clinical Kidney Journal. Skin barrier: new therapeutic targets for chronic kidney disease-associated pruritus – a narrative review (2024). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- Clinical Kidney Journal. Difelikefalin in Chinese patients with chronic kidney disease-associated pruritus (2026). academic.oup.com.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














