Awas! 4 Tanda Kanker Usus Tersembunyi di Balik Kram Perut Biasa Anda
Cerupon.web.id – Kanker kolorektal, atau kanker usus besar, tidak lagi hanya menjadi momok bagi kalangan lanjut usia. Data medis terkini menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan, peningkatan signifikan kasus kanker mematikan ini pada individu di bawah usia 50 tahun.
Kanker usus besar kini menduduki posisi teratas sebagai penyebab utama kematian akibat kanker pada pria remaja, dan peringkat kedua untuk wanita remaja dengan prediksi para ahli menempatkan penyakit ini sebagai pembunuh nomor satu di kelompok usia dewasa dalam waktu dekat.
“Penting bagi setiap individu, terlepas dari usianya, untuk memahami bahwa beberapa gejala bisa menjadi indikator adanya kanker kolorektal,” tegas Peter Liang, MD, MPH, peneliti dari NYU Langone Health yang laboratoriumnya (Liang Lab) berfokus khusus pada pencegahan kanker kolorektal.
Racun Bakteri E. Coli Sejak Masa Kanak-Kanak.
Selama ini, penyebab pasti pergeseran tren kanker usus besar ke usia lebih muda masih jadi misteri medis. Namun, terobosan penting datang dari studi yang dipublikasikan di jurnal Nature pada April 2025 oleh tim peneliti internasional yang dipimpin University of California San Diego (UC San Diego), didanai Cancer Research UK.
Tim ini mengidentifikasi colibactin, racun yang diproduksi strain tertentu bakteri E. coli yang hidup di usus, kemungkinan kunci penjelasan.
“Paparan colibactin di awal kehidupan bisa menempatkan seseorang pada jalur menuju kanker kolorektal sejak usia muda,” jelas Ludmil Alexandrov, profesor bioteknik di UC San Diego yang memimpin studi ini.
Setelah menganalisis 981 genom kanker kolorektal dari pasien di 11 negara, tim menemukan bahwa pola mutasi DNA terkait colibactin 3,3 kali lebih umum ditemukan pada orang dewasa yang didiagnosis sebelum usia 40 tahun dibanding mereka yang didiagnosis setelah usia 70 tahun. Mutasi terkait colibactin ini bahkan menyumbang sekitar 15% dari mutasi APC, salah satu perubahan genetik paling awal yang mendorong perkembangan kanker kolorektal.
Yang membuat temuan ini penting, bakteri penghasil colibactin ini berbeda dari strain E. coli penyebab keracunan makanan. Ia bisa hidup di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala sama sekali, sehingga sulit diketahui seseorang pernah terpapar atau tidak. Studi ini juga menunjukkan mutasi terkait colibactin umumnya terjadi di usia sepuluh tahun, artinya paparan di masa kanak-kanak berpotensi membuat seseorang “lebih cepat” puluhan tahun dalam perjalanan menuju kanker, berkembang di usia 40-an.
Para peneliti sendiri menekankan ini baru potensi keterkaitan, bukan bukti sebab-akibat langsung yang sudah final. Riset lanjutan masih diperlukan untuk memastikan bagaimana anak-anak terpapar bakteri ini dan apakah intervensi seperti probiotik bisa membantu mencegahnya.
Faktor Lain yang Turut Diduga Berperan.
Selain colibactin, beberapa faktor lain juga jadi fokus dugaan ilmuwan dalam pergeseran tren ini:
Perubahan mikrobioma usus.
Konsumsi berlebihan makanan olahan serta penggunaan antibiotik yang tidak bijak dapat mengubah keseimbangan mikrobioma (komunitas bakteri baik) dalam usus. Ketidakseimbangan ini diduga memicu peradangan kronis yang menjadi cikal bakal perkembangan kanker.
Paparan pestisida dalam makanan.
Kaitan antara paparan pestisida pada bahan pangan dengan munculnya kanker kolorektal di usia muda juga masih dalam tahap penelitian intensif, meski buktinya belum sekuat temuan colibactin.
Kenapa Kaum Remaja Sering Terlambat Terdiagnosis?
Kaum remaja cenderung mengabaikan gejala awal karena merasa tubuhnya masih prima, sebuah asumsi yang justru berbahaya. Studi yang menelusuri riwayat medis pasien CRC menemukan bahwa proporsi signifikan pasien sebenarnya sudah merasakan setidaknya satu tanda peringatan jauh sebelum diagnosis resmi.
Deteksi dini tetap jadi pilar utama keberhasilan pengobatan sebelum sel kanker menyebar lebih luas dan inilah kenapa mengenali gejala di usia remaja, jadi sangat krusial.
Indikator yang Harus Selalu Diperhatikan.
Berdasarkan literatur medis, mengalami satu dari gejala berikut meningkatkan risiko kanker kolorektal, kombinasi dua gejala meningkatkan risiko lebih jauh, dan tiga gejala sekaligus meningkatkannya secara signifikan.
1. Anemia.
Kelelahan ekstrem dan napas pendek yang tanpa alasan gamblang bisa jadi pertanda anemia. Ini didukung literatur medis yang kuat, tinjauan di jurnal PMC (National Library of Medicine) mencatat bahwa anemia adalah manifestasi ekstraintestinal paling umum pada pasien kanker kolorektal, disebabkan pendarahan mikroskopis kronis di saluran cerna yang perlahan menguras cadangan zat besi tubuh, bahkan pada kasus tertentu yang total kehilangan darahnya 3 ml per hari.
2. Perubahan warna feses atau adanya darah.
Tumor atau polip di usus besar dapat menyebabkan pendarahan, bermanifestasi sebagai feses berwarna hitam gelap atau cokelat tua. Namun perlu diingat, pendarahan kadang sangat minimal sehingga darah tidak terlihat secara kasat mata pada feses, inilah mengapa tes darah samar tinja (FOBT) tetap penting sebagai alat skrining, bukan sekadar mengandalkan pengamatan visual.
3. Perubahan pola BAB dan diare kronis.
Peradangan atau penyumbatan akibat pertumbuhan tumor dapat memicu diare berkepanjangan, sembelit kronis, atau perubahan bentuk feses menjadi pipih dan tipis. Pasien juga mungkin merasakan sensasi tidak tuntas setelah BAB, seolah usus belum sepenuhnya kosong.
4. Nyeri perut.
Jangan abaikan nyeri perut yang tak kunjung reda, bisa berupa kram hebat atau nyeri tajam yang menetap. Dalam konteks kanker kolorektal, nyeri ini umumnya terlokalisasi di sisi kiri perut.
“Pemeriksaan skrining adalah langkah krusial yang tidak boleh ditunda,” tegas Dr. Liang, menekankan pentingnya respons cepat begitu gejala-gejala di atas muncul dan menetap.
Kesimpulan.
Ini menjadikan kewaspadaan terhadap empat gejala di atas jauh lebih penting bagi kelompok usia 20-45 tahun di Indonesia, karena kelompok ini, karena mengenali sinyal tubuh sendiri yang menjadi lini pertahanan pertama.
Kanker kolorektal pada usia remaja bukan lagi kasus langka yang bisa diabaikan begitu saja. Dengan mekanisme biologis seperti paparan colibactin sejak masa kanak-kanak mulai terungkap secara ilmiah, dan mengingat kelompok usia produktif belum tercakup skrining rutin di Indonesia, mengenali empat tanda peringatan, anemia tanpa sebab jelas, perubahan warna feses, perubahan pola BAB, dan nyeri perut menjadi sinyal yang dimiliki siapa pun di bawah 50 tahun, bukan cuma lanjut usia.
Sumber & Referensi.
- Alexandrov L, dkk. “Colibactin-related mutational signature in early-onset colorectal cancer.” Nature, 23 April 2025. today.ucsd.edu.
- Cancer Research UK, “E. coli toxin could be linked to rising rates of bowel cancer in younger adults.” news.cancerresearchuk.org.
- UC San Diego Today, “Childhood Exposure to Bacterial Toxin May Be Triggering Colorectal Cancer Epidemic Among the Young.” today.ucsd.edu.
- “Flipside of the Coin: Iron Deficiency and Colorectal Cancer.” PMC, National Library of Medicine (NIH). pmc.ncbi.nlm.nih.gov.
- Liang Lab, NYU Langone Health – profil riset Peter S. Liang, MD, MPH. med.nyu.edu.
- Cancer Research Institute, data proporsi kasus CRC pada dewasa muda (dirujuk Newsweek, laporan Mayo Clinic). newsweek.com.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














