Waspada! Gejala Kanker Usus Ini Sering Disangka Maag Biasa
Cerupon.web.id – Perut kembung, begah, nyeri perut, atau rasa tidak nyaman setelah makan sering kali langsung dianggap sebagai maag. Tidak sedikit orang memilih mengonsumsi obat lambung dan menunggu sampai keluhan mereda.
Padahal, gangguan pencernaan memiliki banyak kemungkinan penyebab. Keluhan seperti nyeri perut, perubahan pola buang air besar, dan kembung tidak selalu berasal dari lambung. Dalam kondisi tertentu, gejala tersebut juga dapat ditemukan pada penyakit usus, pankreas, empedu, atau bahkan kanker kolorektal.
Masalahnya, kanker kolorektal pada tahap awal tidak menimbulkan gejala yang jelas. Ketika keluhan mulai muncul, gejalanya pun dapat menyerupai berbagai masalah pencernaan yang lebih umum. American Cancer Society mencatat bahwa tanda kanker kolorektal dapat berupa perubahan kebiasaan buang air besar, darah pada tinja, rasa tidak nyaman di perut, kelelahan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Karena itu, keluhan pencernaan yang menetap atau terus berulang sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai maag biasa.
Mengapa Kanker Usus Bisa Terlihat Seperti Gangguan Lambung?
Saluran pencernaan bekerja sebagai satu sistem yang saling berhubungan. Ketika terdapat gangguan pada usus besar, seseorang bisa mengalami keluhan yang dirasakan sebagai masalah perut secara umum. Rasa begah, penuh, kram, atau perubahan pola buang air besar misalnya, dapat disebabkan oleh banyak kondisi. Kanker kolorektal hanyalah salah satu kemungkinan.
Inilah alasan self-diagnosis dapat menjadi masalah. Gejala yang membaik setelah minum obat lambung juga belum tentu membuktikan bahwa penyebabnya adalah gastritis. Keluhan dapat berkurang sementara, sementara penyebab sebenarnya belum teridentifikasi.
Kasus yang dikutip dari Malaysia juga menunjukkan persoalan tersebut. Dr. Nurhashim Haron, konsultan bedah kolorektal di Tawakkal Specialist Hospital Kuala Lumpur, mengatakan:
“sekitar 40%-50% pasien kanker kolorektal yang dirujuk kepadanya mengira keluhan mereka hanyalah gastritis. Ia juga menyebut banyak pasien baru melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah gejalanya menetap.”
Kasus pada Usia Lebih Muda Mulai Mendapat Perhatian.
Kanker kolorektal memang lebih sering ditemukan pada usia lanjut, tetapi kasus pada orang yang lebih muda juga menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Dalam laporan yang mengutip data Registri Kanker Nasional Malaysia periode 2017–2021, Dr. Nurhashim mengatakan kasus kini semakin banyak terlihat pada kelompok usia 40-an, bahkan lebih muda.
Data Kementerian Kesihatan Malaysia juga menunjukkan kanker kolorektal tetap menjadi salah satu kanker yang paling sering ditemukan di negara tersebut. Laporan yang memuat data registri 2017-2021 menyebut kanker kolorektal menyumbang 18,8% kasus kanker pada pria Malaysia, naik dari 14,8% pada periode 2012–2016.
Meski demikian, peningkatan atau perubahan pola kasus setiap remaja dengan kembung atau nyeri perut mengalami kanker. Gejala pencernaan memiliki banyak penyebab yang jauh lebih umum. Yang penting adalah mengenali kapan keluhan perlu diperiksa lebih lanjut.
Bagaimana Dokter Memastikan Apakah Itu Kanker?
Tidak ada satu gejala yang dapat memastikan seseorang menderita kanker usus besar. Dokter biasanya akan mempertimbangkan riwayat kesehatan, gejala, usia, riwayat keluarga, serta faktor risiko lainnya. Bila diperlukan, dokter dapat meminta pemeriksaan darah, pemeriksaan tinja untuk mendeteksi darah yang tidak terlihat, atau pemeriksaan lebih lanjut seperti kolonoskopi.
Kolonoskopi memungkinkan dokter melihat bagian dalam usus besar secara langsung dan mengambil jaringan bila ditemukan area mencurigakan. Pemeriksaan ini juga dapat menemukan polip yang berpotensi menjadi kanker dan memungkinkan polip tertentu diangkat sebelum berkembang lebih jauh.
Jangan Takut dengan Kolonoskopi Sampai Menunda Pemeriksaan.
Kolonoskopi memang merupakan prosedur medis dan membutuhkan persiapan. Namun, ketakutan terhadap pemeriksaan sebaiknya tidak membuat seseorang mengabaikan gejala yang menetap. Yang juga penting, kolonoskopi bukan satu-satunya metode skrining kanker kolorektal.
Pedoman American Cancer Society yang diperbarui pada 2026 merekomendasikan orang dewasa dengan risiko rata-rata mulai menjalani skrining kanker kolorektal pada usia 45 tahun. Pilihan skrining dapat berupa pemeriksaan visual seperti kolonoskopi maupun beberapa jenis pemeriksaan berbasis tinja.
Namun, skrining berbeda dengan pemeriksaan diagnostik. Orang yang sudah memiliki gejala bukan sekadar membutuhkan skrining rutin, dokter perlu menentukan pemeriksaan diagnostik yang sesuai untuk mencari penyebab gejalanya.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Jangan menunggu terlalu lama jika mengalami:
- darah pada tinja atau perdarahan dari anus.
- perubahan BAB yang berlangsung lebih dari beberapa hari dan tidak membaik.
- tinja terus-menerus menjadi lebih sempit.
- rasa BAB tidak pernah benar-benar tuntas.
- nyeri perut yang menetap atau semakin berat.
- penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
- kelelahan yang tidak biasa.
- kombinasi beberapa gejala sekaligus.
Jika perdarahan dalam jumlah banyak, tubuh terasa sangat lemah, pusing berat, atau muncul gejala lain yang mengarah pada keadaan darurat, pertolongan medis segera diperlukan.
Bukan Berarti Setiap Sakit Perut Adalah Kanker.
Peringatan mengenai kanker kolorektal tidak berarti masyarakat harus panik setiap kali mengalami kembung atau sakit perut. Sebagian besar keluhan seperti gas berlebih, begah, sembelit, atau nyeri perut memiliki penyebab lain yang lebih umum.
Yang perlu diubah adalah kebiasaan menganggap semua keluhan yang menetap sebagai maag tanpa mencari penyebabnya. Jika keluhan hanya sesekali dan jelas berkaitan dengan pola makan tertentu, situasinya tentu berbeda dengan keluhan yang terus berulang, semakin berat, atau disertai darah dalam tinja dan perubahan pola BAB. Mengenali perbedaan tersebut jauh lebih berguna daripada mencoba mendiagnosis kanker sendiri dari satu gejala.
Kesimpulan.
Perut kembung, begah, nyeri, atau gangguan pencernaan tidak otomatis berarti kanker usus besar. Namun, keluhan yang terus berulang dan disertai perubahan pola buang air besar, darah pada tinja, rasa BAB tidak tuntas, kelelahan, atau penurunan berat badan perlu diperiksa.
Kanker kolorektal memang dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini memiliki peranan penting. Selain itu, pemeriksaan skrining dapat menemukan kanker lebih awal atau bahkan menemukan polip sebelum berubah menjadi kanker.
Di sisi lain, keluhan yang terasa seperti “maag” juga dapat berasal dari kondisi lain, termasuk batu empedu atau gangguan saluran pencernaan lainnya. Karena gejalanya bisa tumpang tindih, diagnosis sebaiknya tidak dilakukan sendiri.
Jadi, bila sakit perut atau perubahan BAB tidak kunjung membaik, jangan hanya mengandalkan obat maag yang dibeli sendiri. Pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab sebenarnya lebih cepat dan menentukan penanganan yang tepat.
Sumber & Referensi.
- American Cancer Society. Colorectal Cancer Signs and Symptoms. cancer.org.
- National Cancer Institute (NCI). Colon Cancer Treatment (PDQ®) – Patient Version. cancer.gov.
- American Cancer Society. Colorectal Cancer Screening Guideline (2026). cancer.org.
- American Cancer Society. Can Colorectal Polyps and Cancer Be Found Early? cancer.org
- Bernama. Gastric Pain May Signal Serious Health Issue. bernama.com.
- Kementerian Kesihatan Malaysia. Keratan Akhbar – Colorectal Cancer. moh.gov.my.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














