Penyebab Tersembunyi Pekerja Usia 30-an RI Kena Hipertensi-Diabetes
Cerupon.web.id – Belakangan ini, isu kesehatan di kalangan pekerja usia produktif tengah menjadi perhatian serius. Fenomena pekerja berusia 30-an yang didiagnosis mengidap penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi kini kian marak ditemukan.
Padahal, usia kepala tiga idealnya menjadi fase keemasan bagi seseorang untuk mencapai puncak karier secara produktif. Lantas, mengapa tren penyakit yang dahulu identik dengan kelompok lanjut usia (lansia) kini mulai bergeser menyerang generasi muda?
Menanggapi hal ini, dr. Muchammad Arief Gunawan, SpOK, seorang Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi, menjelaskan bahwa banyak pekerja yang terjebak dalam ilusi kesehatan. Mereka merasa tubuhnya bugar hanya karena masih sanggup menjalani aktivitas harian tanpa hambatan.
Padahal, berbagai faktor risiko penyakit kronis sering kali berkembang secara perlahan di dalam tubuh tanpa menunjukkan gejala awal yang nyata. Dahulu kala, kasus hipertensi dan diabetes umumnya didominasi oleh mereka yang berusia di atas 40 tahun. Namun sekarang, trennya bergeser ke usia 30-an.
Pemicu utamanya bervariasi, mulai dari pola hidup yang tidak sehat, kurang istirahat, hingga tingkat stres yang tinggi,” ungkap dr. Arief.
Bahaya Gaya Hidup Sedentari bagi Pekerja Kantoran.
Ia juga menyoroti bahwa pekerja kantoran yang menjalani sistem kerja work from office (WFO) sangat rentan terhadap sedentary lifestyle alias gaya hidup kurang bergerak. Minimnya aktivitas fisik harian ini secara signifikan meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan hipertensi.
Menurut dr. Arief, perusahaan perlu menerapkan program kesehatan kerja yang tepat sasaran.
“Program kesehatan yang efektif sebaiknya disusun berdasarkan hasil medical check-up (MCU) karyawan. Dengan begitu, langkah pencegahan atau intervensi medis yang diambil bisa lebih spesifik dan tentunya lebih efisien secara biaya,” tambahnya.
Dampak Stres Kerja yang Tidak Terkelola.
Selain kurang gerak, pengelolaan stres yang buruk juga menjadi musuh dalam selimut bagi organ tubuh. Tekanan bisa berasal dari beban pekerjaan, target yang tinggi, maupun masalah personal di luar lingkungan kantor.
“Stres sebenarnya dibutuhkan dalam batas wajar untuk memicu motivasi dan produktivitas kerja yang optimal. Namun, jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan, stres berlebih akan memicu kejenuhan ekstrem atau burnout yang merusak kesehatan fisik,” jelas dr. Arief.
Pentingnya Deteksi Dini Melalui Medical Check-Up (MCU).
Untuk mengantisipasi ancaman ini, dr. Arief menekankan krusialnya tindakan preventif, salah satunya dengan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up setidaknya setahun sekali. Langkah ini sangat penting untuk mendeteksi potensi penyakit sebelum kondisinya memburuk.
Kesehatan kerja tidak melulu soal menghindari kecelakaan di tempat kerja saja. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan kondisi mental dan fisik karyawan berada dalam status prima agar mereka bisa bekerja secara maksimal, tegasnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa investasi pada kesehatan karyawan akan membawa dampak positif yang besar.
“Saat pekerja sehat lahir dan batin, produktivitas kerja otomatis melonjak, dan kualitas hidup mereka pun akan meningkat secara keseluruhan,” pungkasnya.
Kurang Tidur karena Pekerjaan.
Pekerja usia 30-an sering berada pada fase kehidupan dengan banyak tuntutan pekerjaan, keluarga, target karier, hingga aktivitas sosial. Tidak sedikit yang akhirnya mengorbankan waktu tidur. Padahal, tidur yang cukup merupakan bagian penting dari kesehatan metabolik dan kardiovaskular.
Kurang tidur atau memiliki kualitas tidur yang buruk secara terus-menerus dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, gangguan metabolisme glukosa, dan peningkatan risiko hipertensi. Kondisinya bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus. Kurang tidur membuat tubuh terasa lelah – aktivitas fisik berkurang – pilihan makanan kurang sehat semakin mudah – berat badan meningkat – risiko gangguan metabolik ikut bertambah.
Karena itu, tidur bukan sekadar waktu istirahat setelah menyelesaikan pekerjaan. Tidur merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Berat Badan Bertambah Sedikit Demi Sedikit.
Kenaikan berat badan sering terjadi secara perlahan. Misalnya, berat badan bertambah satu atau dua kilogram dalam setahun. Angka tersebut mungkin terlihat kecil dan tidak langsung dianggap sebagai masalah. Namun, jika terus terjadi selama beberapa tahun, perubahan tersebut dapat menjadi signifikan.
Kelebihan berat badan dan obesitas berhubungan erat dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, serta berbagai gangguan metabolik lainnya. Karena itu, jangan hanya memperhatikan angka timbangan ketika berat badan sudah melonjak drastis. Lingkar pinggang, pola makan, aktivitas fisik, tekanan darah, serta pemeriksaan metabolik juga dapat menjadi bagian dari evaluasi kesehatan.
Merokok dan Kebiasaan Tidak Sehat Lainnya.
Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting penyakit kardiovaskular. Zat-zat dalam asap rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke. Merokok juga dapat memperburuk berbagai faktor risiko kesehatan lainnya.
Selain rokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan buruk, dan kurang aktivitas fisik dapat semakin memperbesar risiko penyakit kronis. Karena itu, menjaga kesehatan di usia produktif sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu kebiasaan. Yang paling berpengaruh adalah kombinasi kebiasaan yang dilakukan setiap hari selama bertahun-tahun.
Kesimpulan.
Hipertensi dan diabetes tipe 2 tidak lagi dipandang sebagai penyakit yang hanya mengancam orang lanjut usia. Pekerja usia 30-an pun dapat memiliki risiko, terutama ketika gaya hidup sedentari, pola makan tidak sehat, kurang tidur, stres berkepanjangan, dan kenaikan berat badan berlangsung selama bertahun-tahun.
Yang membuat masalah ini semakin berbahaya adalah hipertensi dan diabetes dapat berkembang tanpa gejala yang pasti. Karena itu, merasa masih kuat bekerja bukanlah bukti bahwa tubuh sepenuhnya sehat. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, berat badan, dan faktor risiko lainnya dapat membantu menemukan masalah lebih awal.
Menjaga kesehatan sejak usia produktif bukan hanya tentang memperpanjang usia, tetapi juga mempertahankan kualitas hidup dan kemampuan bekerja dalam jangka panjang.
Sumber & Referensi.
- World Health Organization (WHO). Hypertension. who.int.
- World Health Organization (WHO). Diabetes. who.int.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Prediabetes and Type 2 Diabetes. cdc.gov.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About High Blood Pressure. cdc.gov.
- American Heart Association. Life’s Essential 8. heart.org.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Sleep and Your Heart Health. cdc.gov.
- World Health Organization (WHO). Physical activity. who.int.
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Risk Factors for Type 2 Diabetes. niddk.nih.gov.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














