Pemulihan Ginjal Pasca Rhabdomyolysis: Mungkinkah Terjadi?

Cerupon.web.id – Sebuah kisah viral di media sosial belakangan ini menyita perhatian, seorang pelari harus menjalani cuci darah setelah kolaps dalam sebuah event perlombaan. Kondisi di baliknya bernama rhabdomyolysis, kerusakan jaringan otot rangka yang bisa membebani ginjal hingga menyebabkan gagal ginjal akut. Pertanyaan yang paling banyak muncul dari pasien dan keluarga, kalau ginjal sudah terlanjur rusak karena ini, bisakah pulih seperti semula?

Apa Sebenarnya yang Terjadi di Dalam Tubuh?

Rhabdomyolysis adalah kondisi medis serius berupa kerusakan cepat pada jaringan otot rangka. Saat otot rusak, kandungan di dalam sel otot, terutama protein mioglobin dan elektrolit bocor ke aliran darah. Ginjal yang berfungsi normal sebenarnya mampu menyaring kelebihan mioglobin ini keluar lewat urine. Masalahnya, dalam jumlah besar, mioglobin justru membebani dan merusak ginjal, sekaligus berisiko memicu gangguan irama jantung akibat lonjakan kadar kalium dalam darah.

Menurut ulasan di Jurnal Biomedik (JBM) terbitan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), rhabdomiolisis dapat berujung pada komplikasi serius termasuk gagal ginjal akut hingga disseminated intravascular coagulation (DIC) bila tidak tertangani, namun jurnal yang sama menekankan bahwa diagnosis dini dan penanganan segera sangat menentukan prognosis pasien, sekaligus mengingatkan bukan cuma tenaga medis, tapi juga instruktur olahraga dan gym perlu waspada terhadap gejalanya.

Sinyal Tubuh yang Paling Sering Diabaikan, Kelelahan Akut.

Ini bagian yang sering terlewat di artikel soal rhabdomyolysis, padahal justru paling actionable. dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi lulusan Universitas Indonesia, menyebut sinyal paling umum yang harusnya jadi alarm adalah rasa lelah akut yang tetap dipaksakan. Pola yang berulang ia temukan pada pasien, tubuh sudah memberi sinyal lelah, tapi tetap dipaksa.

Baca Juga:  6 Kebiasaan Sepele yang Merusak Ginjal Tanpa Anda Sadari

Ironisnya, ini bukan cuma soal pemula. dr. Tunggul mencontohkan kasus pelari maraton berpengalaman yang sudah biasa menempuh jarak penuh 42K, namun tetap mengalami rhabdomyolysis ketika memaksakan diri secara ekstrem dan mendadak melebihi kebiasaannya. Artinya, pengalaman saja tidak cukup, yang menentukan adalah seberapa jauh seseorang mengabaikan sinyal kelelahan tubuhnya sendiri.

Bukan Cuma Lari, Olahraga Intensitas Tinggi Lain Juga Berisiko.

dr. Tunggul menyebut risiko serupa juga berlaku pada olahraga lain yang melibatkan kerja otot masif dalam intensitas tinggi, termasuk hyrox, kombinasi latihan fungsional dan lari yang belakangan makin populer. Prinsipnya sama, semakin ekstrem, berat, dan mendadak pembebanan pada otot, semakin besar risikonya, tidak peduli jenis olahraganya apa.

Meski begitu, pemula tetap punya risiko tambahan tersendiri, menurut dr. Tunggul, penyebab yang sering luput pada pemula adalah pemanasan yang tidak dilakukan secara gradual, banyak yang merasa sudah terbiasa dengan aktivitas fisik lalu langsung memaksakan intensitas tinggi tanpa persiapan otot yang memadai.

Dehidrasi dan Cuaca Panas, Pemicu.

Faktor signifikan lain adalah status hidrasi. dr. Tunggul menjelaskan dehidrasi bukan satu-satunya penyebab utama, tapi berperan ganda, dehidrasi sendiri bisa memicu gangguan ginjal akut, sekaligus memperberat kondisi rhabdomyolysis yang mungkin sudah terjadi. Ditambah cuaca panas ekstrem, risiko heatstroke meningkat, kombinasi yang memperburuk kondisi ginjal saat seseorang mendorong batas kemampuan tubuhnya.

Sejalan dengan ini, edukasi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) yang disampaikan dr. Mutiara Rizki Haryati, Sp.PD, K-GH, FINASIM turut menekankan pentingnya memahami batas kemampuan fisik saat berolahraga sebagai kunci pencegahan komplikasi fatal, sejalan dengan apa yang disampaikan dr. Tunggul.

Kabar Baiknya, Kerusakan Ginjal Ini Berpotensi Pulih Total.

Ini poin sentral yang membuat kondisi ini tidak seburuk kedengarannya di awal. Menurut dr. Tunggul, meski rhabdomyolysis yang menyerang ginjal terdengar menakutkan, kondisi ini pada dasarnya reversible alias bisa kembali ke keadaan semula, dengan syarat penanganan medis dilakukan cepat dan tepat. Ia merinci berdasarkan derajat Acute Kidney Injury (AKI):

Derajat AKIPrognosis
Grade 1 dan 2Umumnya bisa pulih tanpa perlu cuci darah
Grade 3Cuci darah menjadi langkah yang tak terhindarkan

Prinsip utamanya, semakin dini tindakan medis diambil, semakin besar peluang kondisi ini reversible. Ini juga dikonfirmasi terpisah oleh dokter spesialis penyakit dalam lain, dr. Jonny, SpPD-KGH, MKes, MM, DCN, FINASIM, yang menyebut bila penanganan kurang cepat, gangguan ginjal akut bisa mencapai stadium 3 yang memerlukan tindakan dialisis, sejalan dengan penjelasan dr. Tunggul.

Baca Juga:  Bahaya Rhabdomyolysis di Marathon: Otot Rusak, Ginjal Gagal!

Cara Mengurangi Risiko.

Merangkum rekomendasi dari berbagai sumber medis:

  • Lakukan pemanasan bertahap, jangan langsung memaksakan intensitas tinggi meski merasa sudah terbiasa berolahraga.
  • Kenali dan hormati sinyal kelelahan akut, jangan dipaksakan terus, sekalipun sudah berpengalaman.
  • Jaga hidrasi, selama, dan sesudah aktivitas fisik berat.
  • Perhatikan cuaca, waspadai risiko tambahan saat berolahraga ekstrem di bawah terik matahari.
  • Kenali tanda peringatan seperti urine berwarna gelap seperti teh/cola, nyeri otot hebat, dan kelemahan otot signifikan segera cari pertolongan medis bila muncul.

Kesimpulan.

Rhabdomyolysis memang bisa terdengar menakutkan, apalagi setelah kasus viral yang membuatnya jadi perbincangan luas. Tapi kabar baiknya, ini bukan vonis permanen dengan pengenalan sinyal tubuh yang tepat dan penanganan medis yang cepat, ginjal punya peluang besar untuk pulih sepenuhnya.

Yang menentukan bukan seberapa berpengalaman seseorang berolahraga, melainkan seberapa jujur ia mendengarkan sinyal kelelahan yang dikirim tubuhnya sendiri.

Sumber & Referensi.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada gaya hidup sehat bagi para profesional di era digital. Memahami tingginya beban mental pada profesi yang menuntut fokus tinggi seperti pengembangan perangkat lunak, liputannya secara khusus membahas pencegahan burnout, ergonomi, dan cara menjaga kesehatan fisik serta mental saat terlalu lama berada di depan layar.