10 Negara Terbaik untuk Work-Life Balance, Bikin Hidup Lebih Tenang

Cerupon.web.id – Kesuksesan dalam bekerja tidak selalu diukur dari panjangnya jam kerja atau seberapa sering seseorang lembur. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance semakin dipandang sebagai bagian penting dari kesejahteraan pekerja.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menemukan bahwa jam kerja yang terlalu panjang dan tidak sesuai dengan kebutuhan pekerja dapat mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi. Sebaliknya, pengurangan jam kerja dan pengaturan kerja yang lebih fleksibel berpotensi memberikan manfaat bagi pekerja maupun perusahaan.

Sejumlah negara memiliki kebijakan ketenagakerjaan, waktu kerja, cuti, dan fleksibilitas yang menarik untuk dipelajari. Berikut 10 negara work-life balance.

1. Norwegia.

Norwegia memiliki aturan normal kerja hingga 40 jam per minggu dan 9 jam per hari dalam ketentuan umum. Dalam praktiknya, sebagian pekerja dapat memiliki jam kerja lebih pendek berdasarkan kontrak atau perjanjian kolektif.

Dari sisi libur, seluruh pekerja berhak mendapatkan sedikitnya 25 hari kerja cuti setiap tahun berdasarkan Holiday Act. Perlu dicatat, dalam aturan Norwegia hari Sabtu juga dihitung sebagai working day, sehingga 25 hari tersebut secara umum setara dengan empat minggu dan satu hari kalender kerja.

Norwegia juga memiliki ketentuan mengenai waktu istirahat dan lembur untuk membatasi beban kerja berlebihan.

2. Belanda.

Belanda dikenal dengan pola kerja yang relatif fleksibel dan tingginya penggunaan pekerjaan paruh waktu. Aturan cutinya juga cukup jelas: pekerja berhak atas minimal empat kali jumlah jam kerja mingguan sebagai cuti tahunan.

Artinya, seseorang yang bekerja 40 jam per minggu memperoleh sedikitnya 160 jam atau sekitar 20 hari cuti per tahun. Perusahaan dapat memberikan cuti tambahan di luar batas minimum tersebut.

Belanda juga konsisten menjadi salah satu negara dengan jam kerja aktual yang relatif rendah dalam perbandingan OECD. Karena itu, negara ini sering menjadi contoh dalam pembahasan keseimbangan waktu kerja dan kehidupan pribadi.

3. Swedia.

Swedia memiliki sistem ketenagakerjaan yang memberikan perhatian besar terhadap keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga. Dalam kerangka hukum nasional, durasi kerja dan waktu istirahat diatur untuk melindungi pekerja dari jam kerja yang berlebihan.

Pekerja di Swedia juga mendapatkan hak 25 hari cuti tahunan berdasarkan Annual Leave Act.

Fleksibilitas kerja dan budaya yang mendorong pemisahan antara kehidupan profesional dan pribadi turut membuat Swedia sering dibahas dalam kajian kesejahteraan pekerja.

4. Finlandia.

Finlandia menetapkan waktu kerja reguler maksimal 8 jam per hari dan 40 jam per minggu dalam aturan umum. Pengaturan kerja lainnya dapat dilakukan melalui kesepakatan dan aturan yang berlaku pada masing-masing pekerjaan.

Baca Juga:  Terbukti! Orang Kesepian Lebih Berisiko Tinggi Serangan Jantung

Hak cuti di Finlandia bergantung pada masa kerja. Pekerja memperoleh dua hari cuti untuk setiap bulan yang memenuhi ketentuan masa kerja pada tahun pertama, kemudian meningkat menjadi 2,5 hari per bulan setelah masa kerja tertentu. Dengan demikian, jumlah cuti hingga 30 hari dapat dicapai dalam kondisi tertentu, bukan otomatis menjadi hak semua pekerja.

5. Denmark.

Denmark menarik perhatian karena standar kerja mingguan yang umum adalah sekitar 37 jam, biasanya dari Senin hingga Jumat. Pemerintah Denmark juga menekankan fleksibilitas dan kemandirian pekerja dalam mengatur pekerjaan sebagai bagian dari budaya tempat kerja.

Untuk liburan, pekerja penuh waktu berhak mendapatkan setidaknya lima minggu cuti berbayar per tahun.

Kombinasi jam kerja relatif pendek, cuti yang panjang, dan fleksibilitas membuat Denmark sering menjadi salah satu contoh menarik dalam pembahasan work-life balance.

6. Swiss.

Swiss tidak memiliki jam kerja rata-rata seragam untuk semua jenis pekerjaan karena aturan berbeda berdasarkan sektor dan kontrak. Namun, Employment Act menetapkan batas maksimum mingguan 45 jam untuk kelompok pekerjaan tertentu dan 50 jam untuk kelompok lainnya.

Dari sisi liburan, pekerja hingga usia 20 tahun mendapatkan sedikitnya lima minggu cuti berbayar per tahun, sedangkan pekerja lainnya minimal empat minggu. Swiss juga memiliki aturan mengenai lembur dan kompensasi yang membantu membatasi beban kerja berlebihan.

7. Prancis.

Prancis terkenal dengan aturan 35 jam per minggu sebagai durasi kerja legal standar bagi pekerja penuh waktu. Namun, angka tersebut bukan berarti semua karyawan selalu bekerja maksimal 35 jam karena lembur dan pengaturan berdasarkan kesepakatan kerja tetap dimungkinkan.

Pekerja di Prancis juga mendapatkan setidaknya lima minggu cuti berbayar dalam kerangka hukum ketenagakerjaan.

Selain itu, Prancis dikenal dengan konsep right to disconnect, yaitu upaya memberikan ruang kepada pekerja untuk tidak terus-menerus terhubung dengan komunikasi pekerjaan di luar jam kerja.

8. Italia.

Italia memiliki jam kerja normal sekitar 40 jam per minggu, sementara aturan nasional menetapkan batas rata-rata waktu kerja termasuk lembur dalam kerangka tertentu.

Pekerja berhak mendapatkan sedikitnya empat minggu cuti berbayar setiap tahun. Dua minggu di antaranya harus digunakan pada tahun diperolehnya cuti sesuai ketentuan nasional, sementara sisanya dapat digunakan dalam periode yang ditentukan hukum dan perjanjian kerja.

Budaya Italia juga dikenal dengan kehidupan sosial yang kuat di luar tempat kerja, tetapi tradisi seperti aperitivo merupakan kebiasaan budaya dan bukan kebijakan work-life balance yang diwajibkan negara.

9. Spanyol.

Spanyol memiliki standar umum 40 jam kerja per minggu secara rata-rata tahunan dalam kerangka ketenagakerjaannya. Aturan juga membatasi kerja lembur hingga 80 jam per tahun dalam kondisi normal, dengan sejumlah pengecualian.

Pekerja berhak atas sekurang-kurangnya 30 hari kalender cuti tahunan berbayar.

Selain kebijakan resmi, pola kehidupan sosial di Spanyol yang cukup kuat di luar pekerjaan juga sering menjadi bagian dari pembahasan mengenai kualitas hidup dan keseimbangan kehidupan pribadi.

10. Hungaria.

Hungaria menerapkan standar kerja penuh waktu sekitar 40 jam per minggu, sedangkan hak cuti tahunan dimulai dari jumlah dasar tertentu dan dapat meningkat berdasarkan usia serta kondisi pekerja.

Dalam hukum ketenagakerjaan Hungaria, hak cuti dasar dan cuti tambahan diatur secara terpisah. Karena itu, angka cuti tidak selalu sama untuk setiap pekerja.

Baca Juga:  Terjebak Toxic Relationship? Dokter Jelaskan Trauma Bonding Ini

Seperti negara lainnya, keseimbangan kehidupan kerja di Hungaria tidak hanya bergantung pada jam kerja, tetapi juga pada waktu istirahat, cuti, kondisi kerja, dan fleksibilitas yang diberikan perusahaan.

Apa yang Membuat Work-Life Balance Berjalan Baik?

Tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua negara. ILO menekankan bahwa keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi dipengaruhi oleh jumlah jam kerja sekaligus bagaimana jadwal tersebut diatur. Fleksibilitas, kerja jarak jauh, waktu istirahat, dan pembatasan jam kerja yang berlebihan juga dapat berperan penting.

Karena itu, negara dengan jam kerja lebih pendek belum tentu otomatis memiliki kondisi terbaik bagi setiap pekerja. Pendapatan, keamanan kerja, akses layanan publik, transportasi, biaya hidup, budaya perusahaan, serta fleksibilitas juga ikut menentukan pengalaman work-life balance seseorang.

Kesimpulan.

Work-life balance tidak hanya ditentukan oleh sedikitnya jam kerja, tetapi juga oleh hak cuti, waktu istirahat, fleksibilitas, dan perlindungan pekerja. Sejumlah negara seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Prancis memiliki kebijakan yang menarik untuk dipelajari, meskipun sistem setiap negara berbeda.

OECD sendiri tidak menetapkan satu ranking resmi “10 negara terbaik” untuk work-life balance karena Better Life Index dapat memberikan bobot berbeda pada setiap indikator. Karena itu, membandingkan kebijakan dan kondisi kerja antarnegara lebih tepat daripada menyebut daftar tersebut sebagai peringkat resmi OECD.

Sumber & Referensi.

  • Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). OECD Well-being Data Monitor / Better Life Index. oecd.org.
  • International Labour Organization (ILO). Working Time and Work-Life Balance Around the World. 2023. ilo.org.
  • International Labour Organization (ILO). Flexible working hours can benefit work-life balance, businesses and productivity. ilo.org.
  • Norwegian Labour Inspection Authority. Working hours. arbeidstilsynet.no.
  • Norwegian Labour Inspection Authority. Holiday. arbeidstilsynet.no.
  • Government of the Netherlands. Taking holiday hours. government.nl.
  • Suomi.fi. Working time, annual holidays and time off. suomi.fi.
  • Suomi.fi. Earning annual holiday. suomi.fi.
  • Work in Denmark. Workplace culture in Denmark. workindenmark.dk.
  • Work in Denmark. Holiday allowance in Denmark. workindenmark.dk.
  • Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO). Posting: regulation of working hours. seco.admin.ch.
  • French Government, Service-Public.fr. Durée du travail d’un salarié à temps plein. service-public.fr.
  • Italian Ministry of Labour and Social Policies. Annual leave. lavoro.gov.it.
  • Government of Spain, BOE. Estatuto de los Trabajadores. boe.es.
  • Ministry of Family, Labour and Social Policy of Poland. Standards and quantities of working time. gov.pl

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada gaya hidup sehat bagi para profesional di era digital. Memahami tingginya beban mental pada profesi yang menuntut fokus tinggi seperti pengembangan perangkat lunak, liputannya secara khusus membahas pencegahan burnout, ergonomi, dan cara menjaga kesehatan fisik serta mental saat terlalu lama berada di depan layar.