Anak Tantrum? Jangan Dimarahi, Lakukan Trik Ampuh Ini Moms!

Cerupon.web.id – Anak menangis, berteriak, membanting barang, atau menolak mengikuti arahan memang bisa menguras kesabaran orang tua. Namun, menghadapi tantrum dengan langsung memarahi anak belum tentu menjadi solusi.

Psikolog Juli Fraga, Psy.D., mengatakan bahwa perilaku sulit pada anak dapat menjadi cara mereka menyampaikan emosi yang belum mampu diungkapkan dengan kata-kata.

“Misbehaving is a normal part of childhood. And it’s a form of communication,” tulis Fraga.

Menurut Fraga, orang tua dapat mencoba melihat perilaku tersebut sebagai petunjuk untuk memahami apa yang sedang dirasakan anak. Pendekatan ini bukan berarti membiarkan anak berperilaku sesuka hati, melainkan memahami emosinya sambil tetap memberikan batasan yang jelas.

Berikut lima hal yang dapat dilakukan saat menghadapi tantrum.

1. Tenangkan Diri Sebelum Menghadapi Anak.

Ketika anak berteriak, orang tua mungkin secara spontan ikut meninggikan suara. Fraga menyarankan untuk berhenti sejenak dan mengambil beberapa napas dalam sebelum merespons.

Sikap orang tua penting karena anak belajar mengelola emosi melalui apa yang mereka lihat. Orang tua yang berusaha tetap tenang dapat memberikan contoh bagaimana menghadapi perasaan yang kuat tanpa langsung melampiaskannya.

2. Cari Tahu Penyebabnya, Jangan Langsung Menghakimi.

Alih-alih langsung berkata “Jangan begitu!” atau “Berhenti menangis!”, cobalah mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Fraga menyarankan orang tua menggunakan rasa ingin tahu seperti seorang “detektif”: apa yang membuat anak bereaksi seperti itu?

Anak bisa saja sedang takut, malu, kecewa, frustrasi, atau membutuhkan lebih banyak kemandirian. Mengetahui pemicunya dapat membantu orang tua menentukan respons yang lebih tepat.

Namun, memahami alasan tantrum bukan berarti semua perilaku harus dibiarkan. Batasan tetap diperlukan, terutama jika anak memukul, menggigit, menyakiti orang lain, atau melakukan sesuatu yang berbahaya.

Baca Juga:  Gadget Anak Mulai Berbahaya? Psikolog Beberkan Tanda Bahayanya!

3. Bantu Anak Memberi Nama pada Perasaannya.

Anak tidak selalu mampu mengatakan “Saya kecewa” atau “Saya takut”. Emosi tersebut bisa keluar dalam bentuk menangis, berteriak, menolak, atau menarik diri. Orang tua dapat membantu dengan pertanyaan sederhana seperti:

“Kamu sedang marah?”

“Kamu kecewa karena mainannya diambil?”

“Ada sesuatu yang membuat kamu takut?”

American Academy of Pediatrics juga menganjurkan orang tua membantu anak mengakui, menamai, dan memvalidasi emosi, sambil tetap membedakan bahwa perasaan boleh muncul tetapi perilaku yang menyakiti orang lain tetap tidak boleh dilakukan.

4. Orang Tua Juga Perlu Bercermin.

Tantrum anak terkadang membuat orang tua menyadari bahwa mereka sendiri sedang kelelahan atau mudah terpancing emosi. Fraga mendorong orang tua melihat kembali bagaimana mereka biasanya menghadapi marah, takut, atau stres. Apakah langsung berteriak? Memendam emosi? Atau justru menghindari pembicaraan?

Ini bukan berarti setiap tantrum merupakan kesalahan orang tua. Namun, cara orang tua merespons emosi dapat menjadi contoh yang diamati anak. American Academy of Pediatrics juga menekankan bahwa anak belajar banyak melalui perilaku orang tua. Ketika orang tua menunjukkan cara menenangkan diri dan mengelola emosi secara sehat, anak mendapatkan contoh nyata untuk ditiru. (healthychildren.org)

5. Cek Apakah Anak Sedang Lapar, Marah, Kesepian, atau Lelah.

Fraga menyarankan menggunakan kerangka H.A.L.T., yaitu:

H – Hungry: lapar
A – Angry: marah
L – Lonely: kesepian
T – Tired: lelah

Kondisi sederhana seperti belum makan, kelelahan, atau membutuhkan perhatian dapat membuat anak lebih sulit mengendalikan emosinya. American Academy of Pediatrics juga menyebut bahwa rasa lelah dan lapar termasuk pemicu tantrum yang cukup umum pada anak kecil. Jika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, lihat apakah perilaku anak kemudian berubah.

Tetap Berikan Batasan.

Memahami emosi anak bukan berarti orang tua harus selalu menuruti keinginannya. Misalnya, anak menangis karena tidak diperbolehkan mengambil barang berbahaya. Orang tua dapat mengatakan:

“Mama tahu kamu marah karena tidak boleh mengambilnya. Tapi barang itu berbahaya, jadi tetap tidak boleh.”

Dengan cara tersebut, emosi anak tetap diakui sementara batasan tetap dipertahankan. CDC menyarankan orang tua memberikan konsekuensi yang jelas dan konsisten terhadap perilaku yang tidak sesuai, kemudian kembali menggunakan komunikasi positif setelah anak mulai tenang.

Kapan Tantrum Perlu Diperhatikan Lebih Lanjut?

Tantrum merupakan bagian umum dari perkembangan anak, terutama pada usia balita. American Academy of Pediatrics menyebut tantrum paling sering terjadi sekitar usia 1-3 tahun.

Baca Juga:  Gadget Anak Mulai Berbahaya? Psikolog Beberkan Tanda Bahayanya!

Namun, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional bila perilaku anak sangat berat, sering membahayakan diri sendiri atau orang lain, atau menimbulkan kekhawatiran terhadap perkembangan dan fungsi sehari-harinya.

Kesimpulan.

Anak tantrum tidak selalu berarti anak “nakal”. Ledakan emosi dapat menjadi salah satu cara anak menunjukkan perasaan yang belum mampu mereka sampaikan dengan baik.

Lima pendekatan yang disarankan Juli Fraga adalah menenangkan diri terlebih dahulu, mencari tahu penyebab perilaku, membantu anak mengenali emosinya, melakukan refleksi terhadap respons orang tua, serta mengecek kebutuhan dasar melalui H.A.L.T.

Pendekatan tersebut bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Orang tua tetap perlu memberikan batasan yang konsisten, terutama terhadap perilaku yang membahayakan.

Pada akhirnya, tujuan menghadapi tantrum bukan sekadar membuat anak berhenti menangis secepat mungkin, tetapi membantu mereka belajar memahami emosi dan mengelolanya secara bertahap.

Sumber & Referensi.

  • CNBC. Juli Fraga, Psy.D. Parents who are really good at handling tantrums do 5 things-their kids become more emotionally intelligent, says psychologist. CNBC.
  • Juli Fraga, Psy.D. Profil resmi psikolog dan parent educator, termasuk informasi mengenai bukunya Parents Have Feelings, Too. Situs resmi Juli Fraga
  • Penguin Random House. Parents Have Feelings, Too – Hilary Jacobs Hendel & Juli Fraga. Penguin Random House
  • American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org. Screen Time & Temper Tantrums: Helpful Tips for Parents. HealthyChildren.org.
  • American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org. Healthy Mental & Emotional Development: 4 Key Building Blocks. HealthyChildren.org.
  • American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org. Top Tips for Surviving Tantrums. HealthyChildren.org.
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Tips for Responding to Behavior – Essentials for Parenting Toddlers. CDC.
  • American Academy of Pediatrics / HealthyChildren.org. How to Shape & Manage Your Young Child’s Behavior. HealthyChildren.org

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Menelusuri kaitan erat antara stabilitas hidup sehari-hari dan kesehatan mental. Liputannya sering mengupas bagaimana tekanan eksternal, seperti perencanaan keuangan pribadi hingga dinamika investasi saham, memengaruhi tingkat stres psikologis, sekaligus membagikan strategi untuk mencapai keseimbangan hidup.