Diet Tinggi Protein Merusak Ginjal? Ini Penjelasan Dokter
Cerupon.web.id – Pola makan tinggi protein kini tengah naik daun. Mulai dari pelaku diet penurunan berat badan hingga pencinta kebugaran yang ingin membentuk massa otot, banyak yang mengandalkan asupan protein dalam porsi besar.
Namun, di balik popularitasnya, muncul sebuah pertanyaan penting, bagaimana dampak pola makan ekstrem ini terhadap kesehatan ginjal kita?
Ginjal adalah organ vital yang bekerja tanpa henti untuk menyaring darah. Ketika kita mengonsumsi protein secara berlebihan tanpa mengindahkan kondisi tubuh, beban kerja ginjal dapat meningkat secara drastis.
Bagaimana Ginjal Merespons Asupan Protein Tinggi?
Setiap kali Anda mengonsumsi protein, tubuh akan memecahnya menjadi zat-zat yang dibutuhkan. Proses metabolisme ini menghasilkan produk sampingan berupa limbah nitrogen yang harus disaring dan dibuang oleh ginjal melalui urine.
Menurut studi yang dirilis oleh National Kidney Foundation, peningkatan asupan protein memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk membuang limbah tersebut. Kondisi ini memicu fenomena medis yang dikenal sebagai hiperfiltrasi glomerulus yaitu peningkatan laju penyaringan di dalam ginjal.
Bagi individu dengan kondisi ginjal yang sepenuhnya sehat, peningkatan beban kerja ini umumnya bersifat sementara dan dapat ditoleransi dengan baik. Namun, ceritanya akan sangat berbeda bagi mereka yang memiliki faktor risiko tertentu.
Siapa Saja Kelompok yang Rentan Diet Tinggi Protein?
Bagi sebagian orang, memaksakan diet tinggi protein tanpa pengawasan medis bisa menjadi bumerang. Kelompok orang yang memiliki riwayat kesehatan berikut sangat rentan mengalami penurunan fungsi ginjal akibat diet ekstrem:
- Penderita diabetes
- Penderita tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Orang dengan riwayat batu ginjal berulang
- Individu yang sudah mengalami penurunan fungsi ginjal (Penyakit Ginjal Kronis)
Dr. Srivatsa A, seorang Konsultan Neurologis dan Dokter Spesialis Transplantasi dari RS Apollo, Bengaluru, India, mengingatkan bahwa pola makan ekstrem dapat memicu masalah serius.
“Dampak dari diet ini sangat bergantung pada rasio protein, asupan garam, hidrasi (cairan), serta kondisi kesehatan ginjal dasar yang dimiliki seseorang,” jelasnya melalui laporan Times of India.
Oleh karena itu, meniru mentah-mentah program diet para atlet profesional atau fitness influencer di media sosial bukanlah langkah yang bijak. Setiap individu memiliki kebutuhan kalori, tingkat aktivitas fisik, dan kapasitas fungsi organ yang berbeda.
Rendah Serat dan Tinggi Natrium.
Sering kali, diet tinggi protein yang tidak seimbang juga diiringi dengan konsumsi makanan olahan yang tinggi natrium (garam) serta minim asupan serat dari sayur dan buah. Kombinasi ini membuat bom waktu bagi ginjal.
Kurangnya cairan dan serat, ditambah tingginya natrium, dapat mempercepat terbentuknya batu ginjal dan memperberat kerja sistem filtrasi tubuh.
Meskipun penelitian pada orang dewasa yang sehat belum membuktikan secara konsisten bahwa protein tinggi secara langsung menyebabkan penyakit ginjal kronis, konsumsi dalam jumlah berlebih tanpa batas tetap tidak direkomendasikan secara medis.
Solusi Aman dan Rekomendasi Ahli.
Bagi Anda yang ingin mengadopsi diet tertentu, langkah preventif adalah kunci utama. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) sangat menyarankan agar penderita gangguan ginjal atau mereka yang berisiko tinggi selalu berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter spesialis.
Profesional medis dapat membantu menyusun menu dengan takaran protein, natrium, dan cairan yang presisi demi menjaga fungsi ginjal tetap optimal.
Kesimpulan.
Diet tinggi protein memang efektif untuk menurunkan berat badan dan membangun otot, namun efektivitas ini harus diimbangi dengan kesadaran akan kapasitas organ ginjal masing-masing individu. Bagi orang dengan ginjal sehat, diet ini relatif aman dalam jangka pendek asalkan kebutuhan cairan dan serat terpenuhi.
Kewaspadaan lebih diperlukan pada orang yang sudah mengalami penyakit ginjal kronis, diabetes, hipertensi, atau memiliki faktor risiko lainnya. Pada kelompok tersebut, jumlah protein perlu disesuaikan berdasarkan kondisi medis dan hasil pemeriksaan.
Jadi, jangan sekadar mengejar protein sebanyak-banyaknya. Jumlah yang sesuai, sumber protein yang baik, pola makan seimbang, dan kondisi ginjal masing-masing jauh lebih penting daripada mengikuti diet tinggi protein secara ekstrem.
Sumber & Referensi.
- Kidney International / PubMed. Dietary protein intake and renal function: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials (2020). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- Nutrients / PubMed. Dietary Protein Intake and the Risk of Chronic Kidney Disease: A Systematic Review and Meta-Analysis of Prospective Cohort Studies (2019). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Eating, Diet, and Nutrition for Chronic Kidney Disease. niddk.nih.gov.
- NIDDK. Preventing Chronic Kidney Disease. niddk.nih.gov.
- Journal of the International Society of Sports Nutrition / PubMed. International Society of Sports Nutrition Position Stand: protein and exercise (2017). pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- Journal of Renal Nutrition / PubMed. Dietary protein intake and the development of kidney stones. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov.
- National Kidney Foundation. Nutrition and Kidney Disease, Stages 1–5 (Not on Dialysis). kidney.org.
- World Health Organization (WHO). Sodium reduction. who.int
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














