Bukan Mistis, Sering Lihat Penampakan Tanda Masalah Otak?
Cerupon.web.id – Pernahkah Anda merasakan embusan angin dingin yang tiba-tiba, melihat bayangan melintas di sudut mata, atau merasa merinding seolah ada yang sedang mengawasi?
Fenomena paranormal dan kisah mistis selalu berhasil menarik perhatian masyarakat global. Ada kelompok yang sangat meyakini keberadaan makhluk halus, sementara kelompok skeptis menganggapnya sebagai sekadar imajinasi.
Namun, bagaimana sains modern memandang fenomena ini?
Ternyata, misteri dunia lain ini dapat dijelaskan secara rasional melalui kacamata neurosains dan psikologi. Para ilmuwan mengungkapkan bahwa pengalaman “bertemu hantu” sering kali merupakan hasil dari cara kerja otak manusia yang sangat kompleks, namun terkadang mengalami gangguan sementara.
Otak Manusia, Mesin Penafsir yang Subjektif.
Melissa Maffeo, seorang Profesor Psikologi di Wake Forest University, Amerika Serikat, menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat subjektif dalam menerjemahkan apa yang mereka alami.
Otak kita terus-menerus bekerja keras untuk menyusun informasi dari dunia luar agar menjadi sebuah narasi yang masuk akal. Sayangnya, sistem ini tidak sempurna.
“Otak manusia sangat mungkin menciptakan pengalaman supernatural hanya karena salah menafsirkan stimulus atau informasi di sekitarnya,” ungkap Maffeo, seperti yang dilansir dari Live Science.
Salah satu pemicu utama dari kesalahan interpretasi ini adalah adanya gangguan kecil pada sistem saraf atau neurologis kita.
Misteri Temporoparietal Junction dan Sosok Bayangan.
Dalam dunia medis, para peneliti sering kali menemukan hal-hal tak terduga saat melakukan prosedur klinis penanganan saraf. Salah satunya adalah efek stimulasi listrik ringan pada area otak tertentu yang mampu memicu ilusi visual dan sensasi fisik yang sangat nyata.
Sebuah studi penting dalam bidang neurosains yang juga pernah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Nature oleh neurosaintis Olaf Blanke menunjukkan bahwa ada area spesifik di otak yang bertanggung jawab atas persepsi diri kita. Area tersebut dinamakan temporoparietal junction (TPJ).
TPJ bertugas menyatukan berbagai informasi sensorik, seperti posisi tubuh, keseimbangan, dan indra penglihatan, untuk menciptakan kesadaran penuh bahwa kita berada di dalam tubuh kita sendiri. Ketika area TPJ ini terganggu akibat kelelahan, stres, atau stimulasi elektrik, distorsi persepsi yang luar biasa bisa terjadi:
- Ilusi Sosok Bayangan (Shadow Person): Pasien yang area TPJ-nya diberikan stimulasi listrik melaporkan melihat sesosok bayangan hitam yang meniru setiap gerakan mereka, bahkan terkadang terasa mengganggu fisik mereka.
- Pengalaman Keluar dari Tubuh (Out-of-Body Experience): Gangguan pada integrasi sensorik ini juga dapat membuat seseorang merasa jiwanya melayang dan terlepas dari raga fisik mereka.
Ketika otak gagal menyinkronkan data internal (seperti rasa kendali diri) dengan data eksternal (posisi tubuh), otak akan memproyeksikan sensasi tersebut sebagai kehadiran “entitas lain” di dekatnya.
Fenomena Sleep Paralysis, Saat Mimpi Bocor ke Dunia Nyata.
Bentuk “gangguan hantu” yang paling sering dialami masyarakat di seluruh dunia adalah sleep paralysis, atau yang di Indonesia populer dengan istilah “ketindihan” atau “rep-repan”.
Secara ilmiah, fenomena ini terjadi selama fase tidur REM (Rapid Eye Movement). Pada fase inilah mimpi-mimpi paling aktif dan jelas terjadi.
Sebagai mekanisme pertahanan tubuh agar kita tidak mempraktikkan gerakan di dalam mimpi yang bisa membahayakan diri sendiri, otak melepaskan senyawa kimia yang melumpuhkan sementara otot-otot rangka tubuh kita. Namun, masalah terjadi ketika terjadi ketidaksinkronan transisi tidur.
“Sebagian orang terbangun secara mental ketika tubuh mereka masih berada dalam kondisi kelumpuhan REM. Akibatnya, mereka sadar tetapi tidak bisa bergerak sama sekali,” jelas Melissa Maffeo.
Di saat yang bersamaan, sisa-sisa mimpi dari fase REM masih berjalan. Hal ini menghasilkan halusinasi hipnagogik atau hipnopompik yang sangat nyata seperti melihat sosok menyeramkan di dada, mendengar suara langkah kaki, atau merasakan kehadiran monster di kamar tidur.
Peran Rasa Takut yang Memperkuat Ilusi.
Ketika seseorang mengalami ketidaksesuaian sensorik, baik karena gangguan TPJ maupun sleep paralysis, reaksi pertama tubuh adalah memicu respons stres (panik dan takut).
Ketiadaan informasi sensorik yang jelas membuat otak langsung mengaktifkan mode bertahan hidup. Rasa takut ini akhirnya memaksa pikiran kita untuk meyakini bahwa halusinasi visual atau auditori yang kita alami adalah ancaman nyata berupa makhluk gaib.
Kesimpulan.
Melihat sosok, mendengar suara, atau merasa ada “kehadiran” saat tidur tidak serta-merta menunjukkan adanya masalah otak. Fenomena tersebut dapat terjadi pada sleep paralysis, ketika kesadaran kembali muncul sementara kelumpuhan otot khas tidur REM masih berlangsung. Halusinasi visual, suara, rasa tertekan di dada, dan sensasi adanya seseorang di dekat penderita dapat menyertai kondisi ini.
Penelitian neurosains juga menunjukkan bahwa gangguan pada integrasi informasi tubuh di area temporoparietal junction dapat memunculkan sensasi adanya sosok lain maupun pengalaman keluar dari tubuh. Namun, temuan tersebut berasal dari eksperimen dan kasus neurologis tertentu, sehingga tidak berarti setiap orang yang melihat “penampakan” mengalami gangguan otak.
Sumber & Referensi.
- Blanke O, Ortigue S, Landis T, Seeck M. Stimulating illusory own-body perceptions. Nature. 2002;419:269–270. nature.com
- Arzy S, Seeck M, Ortigue S, Spinelli L, Blanke O. Induction of an illusory shadow person. Nature. 2006;443:287. DOI: 10.1038/443287a. nature.com
- Prevalence and Clinical Characteristics of Sleeping Paralysis: A Systematic Review and Meta-Analysis. 2024. PubMed.
- Sharpless BA, Barber JP. A clinician’s guide to recurrent isolated sleep paralysis. Neuropsychiatric Disease and Treatment. 2017;13:255–262. PMC.
- Recent Insights Into Sleep Paralysis: Mechanisms and Management. Cureus. 2024. PubMed.
- Baier B, et al. The felt-presence experience: from cognition to the clinic. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 2023. PubMed.
- Associations between sleep variables and ostensibly paranormal experiences and paranormal beliefs: A scoping review. British Journal of Psychology. 2023. PubMed.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














