5 Tanda Tubuh Anak Butuh Cek Urine, Orang Tua Jangan Lengah

Cerupon.web.id – Ketika memantau kesehatan anak, sebagian besar orang tua cenderung lebih fokus pada gejala fisik yang kasatmata. Misalnya, mengukur suhu tubuh saat demam, mengamati munculnya ruam di kulit, atau mengkhawatirkan penurunan berat badan.

Padahal, ada satu sistem organ penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu saluran kemih. Perubahan pada karakteristik urine maupun kebiasaan buang air kecil (BAK) anak sebenarnya merupakan indikator sensitif terhadap kondisi kesehatan internal mereka.

Deteksi dini melalui skrining atau tes urine sangat krusial untuk mencegah kerusakan organ yang lebih serius, seperti infeksi ginjal kronis. Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A, menjelaskan bahwa meskipun tes urine adalah prosedur medis yang sederhana, tindakan ini tidak perlu dilakukan secara acak pada semua anak.

Namun, ada kondisi-kondisi spesifik di mana pemeriksaan urine bersifat wajib dan mendesak. Berikut adalah 5 tanda anak harus periksa urine:

1. Demam Tinggi Tanpa Penyebab yang Jelas.

Demam adalah reaksi alami tubuh saat melawan infeksi. Namun, jika anak tiba-tiba demam tinggi tanpa disertai gejala batuk, pilek, diare, atau bintik merah, orang tua harus waspada.

“Tidak semua anak perlu dilakukan pemeriksaan urine. Indikasi pertama adalah jika anak mengalami demam dengan penyebab yang tidak jelas,” ujar dr. Reza.

Menurut panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP), demam tanpa fokus infeksi yang jelas pada bayi dan balita sering kali merupakan gejala tunggal dari Infeksi Saluran Kemih (ISK). Tanpa penanganan tepat, ISK dapat naik ke ginjal (pielonefritis) dan memicu luka parut pada organ penyaring darah tersebut.

Baca Juga:  Waspada Diabetes Anak: Gejala Awal, Perbedaan Tipe, dan Penanganannya

2. Perubahan Karakteristik Urine (Warna, Bau, dan Konsistensi).

Orang tua disarankan untuk sesekali memperhatikan urine anak saat mereka buang air kecil. Perubahan fisik pada urine bisa menjadi sinyal kuat adanya masalah kesehatan:

  • Warna Kemerahan atau Teh Pekat: Mengindikasikan adanya sel darah merah dalam urine (hematuria), yang bisa dipicu oleh infeksi, batu ginjal, atau peradangan ginjal (glomerulonefritis).
  • Urine Berbusa: Ini merupakan tanda awal proteinuria, yaitu adanya kandungan protein berlebih dalam urine yang menandakan gangguan pada fungsi penyaringan ginjal.
  • Bau Menyengat atau Busuk: Bau urine yang sangat tajam dan tidak biasa sering kali menandakan adanya aktivitas bakteri di saluran kemih.

3. Perubahan Pola dan Kebiasaan Buang Air Kecil.

Jika anak Anda menunjukkan perubahan perilaku saat berkemih, ini adalah alarm bagi orang tua. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Anak tiba-tiba sering mengompol padahal sudah lulus toilet training.
  • Mengeluh nyeri, perih, atau panas saat pipis (disuria).
  • Menjadi lebih sering ke toilet (frekuensi meningkat) atau sebaliknya, kesulitan menahan buang air kecil (urgensi).

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan bahwa gangguan berkemih seperti ini merupakan gejala klasik dari gangguan saluran kemih bawah yang memerlukan evaluasi medis segera.

4. Nyeri di Area Perut atau Pinggang yang Samar.

Anak-anak, terutama yang masih balita, sering kali kesulitan mendeskripsikan rasa sakit mereka secara spesifik. Mereka mungkin hanya akan mengeluh “sakit perut” sambil menunjuk area sekitar pusar atau perut bagian bawah.

Jika nyeri perut ini terjadi berulang tanpa disertai masalah pencernaan seperti sembelit atau diare, pemeriksaan urine sangat disarankan untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi atau sumbatan pada saluran kemih.

5. Memiliki Riwayat Penyakit Sistemik atau Kronis.

Tes urine tidak hanya mendeteksi infeksi lokal, tetapi juga berfungsi sebagai alat pemantau (screening) bagi anak-anak yang mengidap penyakit kronis tertentu.

Dr. Reza memaparkan bahwa anak-anak dengan kondisi sistemik seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes anak, atau penyakit autoimun (seperti Lupus/SLE) wajib menjalani tes urine secara berkala. Langkah ini penting untuk mendeteksi sedini mungkin apakah penyakit tersebut mulai merusak organ ginjal mereka.

Hindari Diagnosis Mandiri.

Meskipun tes urine kini mudah diakses di berbagai laboratorium, dr. Reza mengimbau para orang tua agar tidak melakukan diagnosis atau interpretasi hasil laboratorium secara mandiri.

Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu. Dokter akan menentukan parameter tes urine yang tepat (apakah urine lengkap atau kultur urine) serta membaca hasilnya secara akurat demi memberikan penanganan yang aman dan sesuai bagi Si Kecil.

Baca Juga:  Kupas Tuntas Mitos Operasi Mata Juling yang Bikin Orang Takut

Kesimpulan.

Pemeriksaan urine pada anak merupakan metode deteksi dini yang sangat efektif untuk mengidentifikasi berbagai masalah kesehatan, mulai dari Infeksi Saluran Kemih (ISK) hingga gangguan fungsi ginjal akibat penyakit kronis.

Orang tua dituntut untuk peka terhadap sinyal tubuh anak, seperti demam tanpa sebab, perubahan fisik urine, nyeri perut, dan gangguan pola berkemih. Guna memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal, hindari melakukan diagnosis mandiri dan selalu konsultasikan setiap gejala serta hasil pemeriksaan medis langsung dengan dokter spesialis anak terpercaya.

Sumber & Referensi.

  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Symptoms & Causes of Bladder Infection (Urinary Tract Infection-UTI) in Children. niddk.nih.gov.
  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Kidney Disease in Children. niddk.nih.gov.
  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Considerations for Pediatric Patients – Evaluation of CKD. niddk.nih.gov.
  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Lupus & Kidney Disease (Lupus Nephritis). niddk.nih.gov.
  • National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Urinary tract infection in under 16s: diagnosis and management (NG224). Updated guidance 2022. nice.org.uk.
  • American Academy of Pediatrics. Urinary Tract Infection: Clinical Practice Guideline for the Diagnosis and Management of the Initial UTI in Febrile Infants and Children 2-24 Months. Pediatrics. 2011; reaffirmed 2016, retired May 2021. AAP.
  • National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Nephrotic Syndrome in Children. niddk.nih.gov.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Fokus pada gaya hidup sehat bagi para profesional di era digital. Memahami tingginya beban mental pada profesi yang menuntut fokus tinggi seperti pengembangan perangkat lunak, liputannya secara khusus membahas pencegahan burnout, ergonomi, dan cara menjaga kesehatan fisik serta mental saat terlalu lama berada di depan layar.