Benarkah Wortel Bisa Kurangi Mata Minus? Ini Fakta Medisnya
Cerupon.web.id – Hampir setiap orang Indonesia pernah mendengar nasihat ini dari orang tua semasa kecil: “makan wortel yang banyak biar mata minus kamu sembuh.” Kepercayaan ini begitu mengakar hingga generasi sekarang pun masih meneruskannya ke anak-anak mereka. Tapi benarkah rutin mengonsumsi sayuran oranye ini bisa menyembuhkan atau mengurangi minus pada mata?
Penjelasan Langsung dari Dokter Spesialis Mata.
Menjawab mitos yang sudah bertahan puluhan tahun ini, dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), spesialis mata dari Mayapada Eye Centre, memberikan penjelasan tegas dalam sesi Health Talk Mayapada Eye Centre di Jakarta Pusat, akhir Juni 2026.
“Wortel kalau mau makan mah makan aja, itu untuk menjaga kesehatan mata kita, tapi apakah minusnya bisa dihalangin tidak nambah lagi? Tidak,” ujarnya.
Dr. Ucok, yang juga memegang sertifikasi LASIK dan transplantasi kornea dari Singapore National Eye Center, serta pernah menjalani fellowship di Jepang dan India, menegaskan bahwa wortel memang sangat baik untuk menjaga kesehatan organ penglihatan secara umum.
Namun, ia menekankan wortel tidak memiliki kemampuan untuk menurunkan atau menghentikan pertambahan minus mata. Mengonsumsi wortel sangat dianjurkan demi menutrisi mata, tetapi tidak akan memberikan efek penyembuhan pada kondisi miopi (mata minus).
Kenapa Wortel Tidak Bisa Menyembuhkan Mata Minus?
Untuk memahami kenapa klaim ini keliru, kita perlu memahami dulu apa sebenarnya yang terjadi pada mata minus (miopia). Secara medis, miopia terjadi ketika bentuk bola mata terlalu panjang dari depan ke belakang (sumbu anterior-posterior), atau kornea/lensa mata memiliki kelengkungan yang terlalu kuat.
Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tidak jatuh tepat di retina seperti pada mata normal, melainkan terfokus di depan retina, inilah yang membuat objek jauh terlihat buram.
Vitamin A yang terkandung dalam wortel memang berperan penting bagi mata, tapi perannya adalah membantu fungsi sel-sel fotoreseptor di retina (termasuk pembentukan rhodopsin, pigmen yang penting untuk penglihatan dalam kondisi minim cahaya) dan menjaga permukaan mata seperti kornea dan konjungtiva tetap lembap dan sehat.
Yang tidak bisa dilakukan vitamin A adalah mengubah struktur fisik bola mata atau memperbaiki kelengkungan kornea yang sudah terbentuk. Karena akar masalah miopia ada di struktur anatomis mata, bukan di kekurangan nutrisi retina.
Penelitian Juga Menguatkan Bantahan Ini.
Ini bukan cuma opini satu dokter. Studi oleh Ng dan koleganya (2020) yang menelusuri asupan vitamin A sejak masa remaja hingga dewasa muda tidak menemukan hubungan signifikan antara total asupan vitamin A dengan kelainan miopia, setelah dikontrol dengan faktor-faktor lain.
Penelitian lain oleh Xiao dkk. (2024) pada 1.620 remaja di Amerika Serikat juga menunjukkan hal serupa vitamin A, vitamin C, vitamin D, vitamin E, alfa-karoten, beta-karoten, lutein, maupun zeaxanthin, semuanya tidak berhubungan signifikan dengan penurunan risiko miopia. Dengan kata lain, sudah ada bukti dari dua studi berbeda yang memperkuat apa yang disampaikan dr. Ucok secara klinis.
Dari Genetik ke Gaya Hidup Digital.
Bagian penjelasan dr. Ucok yang tidak kalah penting adalah soal pergeseran pemicu utama mata minus. Menurutnya, jika dahulu faktor keturunan atau genetik memegang peranan paling besar, kini gaya hidup digital dan tingginya durasi penggunaan gawai (screen time) menjadi penyebab utamanya. Kebiasaan menatap layar dalam jarak dekat untuk waktu yang lama di era modern ini dinilai jauh lebih memengaruhi peningkatan mata minus ketimbang faktor genetika saja.
Data di Indonesia menguatkan pergeseran ini secara nyata. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 3,6 juta anak di Indonesia mengalami gangguan refraksi, dengan prevalensi gangguan penglihatan pada anak usia sekolah (5-19 tahun) diperkirakan mencapai 10% secara nasional. Di Jakarta, situasinya lebih mengkhawatirkan lagi, data terbaru mencatat 40% anak SD mengalami gangguan penglihatan, melonjak tajam dari 13%-15% pada masa pandemi.
Riset lain bahkan mencatat kenaikan prevalensi mata minus pada anak sekolah Indonesia mencapai 20%, artinya sekitar 10 hingga 15 dari 40 anak di setiap ruang kelas membutuhkan alat bantu penglihatan.
Ketua PERDAMI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengonfirmasi tren ini semakin terlihat jelas terutama setelah pandemi COVID-19, ketika aktivitas anak lebih banyak dilakukan di dalam rumah. Bukan cuma jumlah kasus yang meningkat, kecepatan pertambahan minus pada anak-anak pun kini berlangsung lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu.
Secara global, situasinya juga sama mengkhawatirkannya. WHO mencatat sekitar 65 juta anak di dunia menderita miopia, dengan proyeksi meningkat drastis menjadi 275 juta pada 2050. Bahkan diperkirakan sekitar 40% populasi dunia (3,3 miliar orang) akan mengalami miopia pada 2030, dan lebih dari separuh populasi dunia (4,8 miliar orang) pada 2050.
Kenapa Screen Time Lebih Berbahaya dari yang Dikira.
Mekanismenya berkaitan dengan dua hal sekaligus, aktivitas jarak dekat yang berkepanjangan, dan berkurangnya waktu di luar ruangan. Paparan sinar matahari alami diketahui membantu pelepasan dopamin di retina, senyawa yang berperan menghambat pertumbuhan bola mata secara berlebihan.
Saat anak lebih banyak menatap layar di dalam ruangan dan lebih sedikit terpapar cahaya alami, mekanisme perlindungan alami ini pun berkurang. Pada masa pertumbuhan, struktur mata anak masih berkembang, sehingga jauh lebih rentan mengalami perubahan akibat aktivitas visual jarak dekat yang terus-menerus dibanding mata orang dewasa.
Rekomendasi Dokter Mata.
Karena wortel bukan solusinya, berikut yang menurut para spesialis mata benar-benar terbukti membantu mengelola risiko dan progresivitas mata minus:
1. Terapkan aturan 20-20-20.
Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (± 6 meter). Teknik sederhana ini membantu mengurangi kelelahan mata akibat fokus jarak dekat yang terus-menerus.
2. Perbanyak waktu di luar ruangan.
Spesialis mata menyarankan anak-anak mendapat waktu bermain di luar ruangan setidaknya dua jam setiap hari untuk memperoleh paparan cahaya alami yang cukup, bukan berarti gadget harus direbut sepenuhnya, tapi diimbangi dengan aktivitas luar ruangan yang memadai.
3. Periksa mata secara rutin, terutama pada anak.
Banyak kasus baru terdeteksi setelah minus sudah cukup tinggi. Orang tua sebaiknya tidak menganggap remeh jika anak mulai mengeluh pandangan kabur, atau duduk terlalu dekat dengan layar.
4. Untuk penanganan medis, tersedia berbagai pilihan sesuai kebutuhan.
Mulai dari kacamata, terapi khusus kontrol progresivitas miopia pada anak, hingga tindakan koreksi berbasis laser (LASIK) untuk orang dewasa yang memenuhi syarat. Di Indonesia, layanan khusus penanganan miopia secara menyeluruh berdasarkan tingkat kebutuhan pasien sudah mulai tersedia di sejumlah rumah sakit mata, mencerminkan semakin seriusnya isu ini ditangani secara medis.
Kesimpulan.
Wortel memang bergizi dan baik untuk kesehatan mata secara umum, vitamin A di dalamnya mendukung fungsi retina dan permukaan mata. Tapi soal menyembuhkan atau menghentikan pertambahan mata minus, ini murni mitos yang tidak didukung bukti medis maupun ilmiah, sebagaimana ditegaskan langsung oleh dokter spesialis mata dan diperkuat oleh penelitian ilmiah.
Dengan meningkatnya kasus mata minus pada anak-anak Indonesia akibat gaya hidup digital, fokus yang lebih tepat bukan pada jenis makanan tertentu, melainkan pada manajemen screen time, waktu di luar ruangan yang cukup, dan pemeriksaan mata rutin sejak dini.
Sumber & Referensi.
- Profil dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K) – Mayapada Eye Centre. mayapadaeyecentre.com.
- detikHealth, “Rajin Makan Wortel Bikin Minus Berkurang? Begini Faktanya Menurut Dokter Mata” – Health Talk Mayapada Eye Centre, 20 Juni 2026. health.detik.com.
- ANTARA News, data prevalensi gangguan penglihatan anak Indonesia – Kemenkes RI, Hari Penglihatan Sedunia 2024. antaranews.com.
- Kompas.com (Bandung), data 40% anak SD Jakarta alami gangguan penglihatan, metode 20-20-20. bandung.kompas.com.
- VOI.id, pernyataan dr. Julie Dewi Barliana (Ketua PERDAMI Jakarta), Myopia Summit 2026. voi.id.
- Medcom.id, proyeksi WHO soal prevalensi miopia global 2030 dan 2050. medcom.id.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dokter mata profesional.














