Jangan Telat! Ini Alasan Wajib Skrining Kanker dari Sekarang
Cerupon.web.id – Kanker masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius di Indonesia. Salah satu tantangan terbesar adalah banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika kanker sudah berada pada stadium lanjut.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa deteksi kanker sedini mungkin menjadi bagian penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Pesan tersebut disampaikan dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 di Jakarta. Menurut Budi, lebih dari 80% pasien kanker di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium tiga atau empat.
“Kunci utama penanggulangan kanker adalah deteksi cepat dan pengobatan cepat. Jika diketahui pada stadium satu, peluang kesembuhan dengan teknologi yang ada saat ini sangat tinggi,” ujar Budi.
Mengapa Skrining Penting?
Skrining dilakukan untuk menemukan tanda atau penyakit sebelum seseorang mengalami gejala. Tujuannya bukan memeriksa semua jenis kanker sekaligus, melainkan mendeteksi jenis kanker tertentu pada kelompok yang memang direkomendasikan untuk menjalani pemeriksaan.
WHO menyebut banyak jenis kanker memiliki peluang sembuh yang tinggi apabila ditemukan lebih awal dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Karena itu, menunggu munculnya gejala bukan selalu pilihan terbaik.
Kapan Harus Mulai Skrining?
Tidak ada satu usia yang berlaku untuk semua jenis kanker. Waktu skrining bergantung pada jenis kanker, usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, faktor risiko, dan pedoman yang digunakan.
Sebagai contoh, American Cancer Society merekomendasikan skrining kanker kolorektal bagi orang dengan risiko rata-rata mulai usia 45 tahun, sedangkan skrining kanker payudara dan serviks memiliki jadwal yang berbeda. Orang dengan risiko tinggi juga dapat membutuhkan pemeriksaan lebih dini.
Karena itu, pernyataan bahwa semua orang otomatis “wajib skrining kanker mulai usia 40 tahun” terlalu umum.
Di Indonesia sendiri, pemerintah telah memasukkan deteksi dini kanker ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis, termasuk layanan yang disesuaikan dengan usia dan faktor risiko. Kemenkes sebelumnya menjelaskan bahwa skrining gratis tersebut diberikan sebagai hadiah ulang tahun dan diarahkan untuk mendeteksi penyakit sejak dini. (kemkes.go.id)
Bagaimana dengan Orang yang Sudah Mengalami Gejala?
Skrining ditujukan terutama untuk orang yang belum memiliki gejala. Jika seseorang sudah mengalami benjolan yang mencurigakan, perdarahan yang tidak biasa, penurunan berat badan tanpa sebab, batuk berkepanjangan, atau keluhan lain yang mengarah pada kanker, pemeriksaan tersebut bukan lagi sekadar skrining.
Orang tersebut membutuhkan evaluasi diagnostik untuk mencari penyebab keluhannya. Perbedaan ini penting karena pemeriksaan dan tindak lanjutnya dapat berbeda.
Pola Hidup Juga Berpengaruh.
Deteksi dini bukan satu-satunya cara mengurangi beban kanker. WHO memperkirakan sekitar 30–50% kematian akibat kanker dapat dicegah dengan menghindari atau mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Beberapa di antaranya adalah penggunaan tembakau, berat badan berlebih, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, serta infeksi tertentu yang dapat dicegah melalui vaksinasi.
Karena itu, skrining sebaiknya berjalan beriringan dengan pencegahan. Pola makan yang sehat, misalnya, dapat membantu menurunkan risiko sejumlah penyakit kronis. WHO menganjurkan pola makan yang cukup, seimbang, beragam, dan mengutamakan makanan minim proses.
Jangan Takut Melakukan Pemeriksaan.
Kemenkes juga mengimbau masyarakat tidak menghindari pemeriksaan karena takut jika hasilnya ternyata menunjukkan kanker. Pada Februari 2026, Budi kembali menekankan bahwa kanker dapat ditangani dan peluang hasil pengobatan menjadi lebih baik ketika penyakit ditemukan lebih awal. Pemerintah juga terus memperluas layanan deteksi dini di fasilitas kesehatan.
Yang penting, masyarakat memahami bahwa skrining bukan berarti seseorang pasti menemukan kanker. Justru tujuan utamanya adalah menemukan perubahan atau penyakit pada tahap ketika penanganannya masih lebih memungkinkan.
Kesimpulan.
Skrining kanker penting, tetapi waktunya tidak sama untuk setiap orang. Jenis kanker, usia, faktor risiko, riwayat keluarga, dan pedoman medis menentukan kapan seseorang sebaiknya melakukan pemeriksaan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi persoalan besar di Indonesia. Lebih dari 80 persen pasien kanker disebut baru terdiagnosis pada stadium tiga atau empat, sehingga deteksi lebih awal menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Selain mengikuti skrining sesuai rekomendasi, masyarakat dapat mengurangi risiko kanker dengan tidak merokok, menjaga berat badan, aktif bergerak, mengonsumsi makanan sehat, membatasi alkohol, serta mendapatkan vaksinasi yang relevan.
Jangan menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kanker. Pemeriksaan yang tepat pada waktu yang tepat dapat membantu menemukan penyakit lebih awal dan memberikan kesempatan penanganan yang lebih baik.
Sumber & Rerefensi.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tekan Angka Kematian Kanker, Kemenkes Tempuh Strategi Ini (12 Juli 2026). kemkes.go.id.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes Ajak Masyarakat Tak Takut Skrining: Kanker Bisa Disembuhkan (4 Februari 2026). kemkes.go.id.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Skrining Kesehatan Gratis Berdasarkan Usia, Hadiah Spesial Setiap Hari Ulang Tahun (31 Oktober 2024). kemkes.go.id.
- World Health Organization (WHO). Cancer. who.int.
- World Health Organization (WHO). Cancer – Fact Sheet (2026). who.int.
- American Cancer Society. Cancer Screening Recommendations by Age. cancer.org.
- American Cancer Society. Cancer Screening Guidelines: Detecting Cancer Early. cancer.org.
- World Health Organization (WHO). Healthy Diet (26 Januari 2026). who.int.
- BAPETEN. BAPETEN Hadir dalam Indonesia-China Cancer Forum 2026 (13 Juli 2026). Konfirmasi penyelenggaraan ICCF 2026 di Mega Kuningan, Jakarta, serta kehadiran Menteri Kesehatan dan para ahli onkologi Indonesia-Tiongkok. bapeten.go.id.
* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi tenaga medis profesional.














