Kata Dokter: Cegah Mata Tua! Ini Kebiasaan Penting Anda Tahu

Cerupon.web.id – Presbiopia, atau yang akrab disebut “mata tua”, adalah kondisi penglihatan umum yang berkaitan dengan proses penuaan alami tubuh. Gangguan ini secara bertahap mengurangi kemampuan mata untuk fokus dengan jelas pada objek yang berada dalam jarak dekat. Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai merasakan kesulitan membaca huruf kecil, menjahit, atau melakukan aktivitas lain yang memerlukan fokus jarak dekat.

Menurut dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, spesialis mata dari Mayapada Eye Centre, mekanisme di balik presbiopia terletak pada otot-otot di bola mata yang bertanggung jawab mengatur fokus. Otot-otot ini berperan krusial dalam memfokuskan cahaya, baik saat kita melihat objek jauh maupun dekat. Namun, seiring perjalanan waktu dan usia, elastisitas otot-otot vital ini mengalami penurunan.

“Layaknya lutut yang mulai terasa nyeri atau punggung yang kian kaku seiring penuaan, mata kita pun mengalami perubahan serupa,” jelas dr. Zoraya dalam Media Gathering bersama Mayapada Eye Centre di Jakarta Pusat, akhir Juni 2026.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Mata Kita?

Penjelasan dr. Zoraya soal “otot yang kehilangan elastisitas” sejalan dengan mekanisme yang dijelaskan literatur medis internasional secara lebih rinci. Menurut StatPearls, basis data klinis dari National Library of Medicine (NIH) Amerika Serikat, presbiopia pada dasarnya adalah penurunan bertahap kemampuan akomodasi lensa kristalin mata. Akomodasi sendiri adalah proses di mana otot siliaris (ciliary muscle) berkontraksi untuk mengubah bentuk dan posisi lensa mata, sehingga cahaya bisa difokuskan dengan tepat baik untuk objek dekat maupun jauh.

Tinjauan sistematis yang dipublikasikan di Clinical Ophthalmology menjelaskan akar masalahnya lebih spesifik, presbiopia terjadi akibat penebalan bertahap dan hilangnya elastisitas alami lensa mata. Kehilangan elastisitas ini diduga disebabkan oleh proses oksidasi gugus sulfhidril protein di dalam sel-sel serat lensa, yang membentuk ikatan silang antarprotein (cross-link) dan seiring waktu, ikatan ini membuat lensa semakin kaku sehingga kemampuan akomodasinya menurun. Inilah sebabnya presbiopia bukan penyakit, melainkan perubahan fisiologis bertahap yang pada akhirnya dialami hampir setiap orang.

Seberapa Besar Skala Masalah Ini Secara Global?

Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Ophthalmology dan dirujuk luas dalam literatur oftalmologi, risiko presbiopia meningkat sekitar 16% setiap tahun pada rentang usia 40 hingga 50 tahun, artinya begitu memasuki usia 40-an, hampir semua orang akan mengalaminya cepat atau lambat. Sebagian besar individu mulai menunjukkan gejala presbiopia pada usia 50 tahun.

Skala globalnya sangat besar, diperkirakan 1,8 miliar orang di dunia hidup dengan presbiopia. Yang lebih memprihatinkan, sekitar 826 juta di antaranya mengalami gangguan penglihatan dekat akibat presbiopia yang tidak terkoreksi dengan baik, mencerminkan kesenjangan kebutuhan (unmet need) sebesar 45% secara global. Kesenjangan ini jauh lebih parah di negara berpenghasilan rendah-menengah, di mana keterbatasan akses layanan mata dan kacamata menyebabkan kawasan ini menanggung lebih dari 90% dari total beban gangguan penglihatan akibat presbiopia di dunia. Presbiopia yang tak terkoreksi bahkan diperkirakan menyebabkan kerugian produktivitas global senilai 25 hingga 54 miliar dolar AS per tahun.

Faktor Genetik dan Kebiasaan.

Proses penuaan pada mata dipengaruhi oleh beragam faktor. Dr. Zoraya mengungkapkan bahwa faktor genetik dan kebiasaan sehari-hari turut memainkan peran penting. Beberapa penelitian mengindikasikan adanya hubungan antara kebiasaan melihat dekat secara intensif dan risiko peningkatan mata tua. Kendati demikian, ia menekankan bahwa diperlukan riset lebih lanjut untuk memperkuat pembuktian keterkaitan ini, catatan kehati-hatian ilmiah yang penting dan patut diapresiasi, karena tidak semua hubungan yang tampak logis otomatis terbukti secara kausal dalam riset klinis.

Literatur medis memang mengonfirmasi beberapa faktor risiko presbiopia di luar usia. Tinjauan sistematis di Clinical Ophthalmology mencatat bahwa penderita hiperopia (rabun dekat) cenderung mengalami presbiopia lebih cepat, karena mereka sudah menggunakan sebagian kapasitas matanya lebih awal untuk mengatasi hiperopia itu sendiri. Studi di Iran juga menemukan perempuan cenderung memiliki prevalensi presbiopia lebih tinggi dan mengalami peningkatan lebih cepat seiring usia dibanding laki-laki. Menariknya, orang dengan postur tubuh lebih pendek juga ditemukan mengalami presbiopia lebih awal, kemungkinan karena jarak kerja (working distance) yang lebih pendek sehingga membutuhkan akomodasi mata lebih besar.

Faktor genetik menjadi salah satu aspek yang sulit dikendalikan dalam kaitannya dengan presbiopia. Jika seseorang memiliki riwayat genetik penuaan mata dini, kondisi presbiopia dapat muncul lebih cepat, bahkan meskipun gaya hidup yang diterapkan sudah tergolong sangat baik.

Kenapa Presbiopia Kini Muncul Lebih Muda?

Menariknya, saat ini presbiopia juga semakin sering didiagnosis pada individu berusia lebih muda.

“Meski demikian, studi lebih mendalam masih dibutuhkan untuk memahami fenomena ini, sekali lagi menunjukkan kehati-hatian ilmiah yang tepat, karena tren ini bisa dipengaruhi banyak faktor sekaligus (termasuk yang murni soal kesadaran/deteksi, bukan cuma perubahan biologis),” tambah dr. Zoraya.

Meski begitu, StatPearls (NIH) turut mencatat bahwa peningkatan penggunaan smartphone dan layar digital secara terus-menerus memperbesar tekanan pada kerja penglihatan jarak dekat, sehingga manajemen presbiopia menjadi isu yang semakin relevan di era digital, konteks yang sejalan dengan observasi dr. Zoraya, meski belum tentu membuktikan hubungan sebab-akibat langsung antara screen time dan percepatan presbiopia itu sendiri.

Teknik 20-20-20, Cara Sederhana Meredakan Ketegangan Mata.

Untuk menjaga kesehatan mata di tengah intensitas aktivitas visual jarak dekat, dr. Zoraya membagikan tips sederhana namun efektif, Teknik 20-20-20. Teknik ini dirancang khusus untuk memberi istirahat pada mata ketika terlalu lama terpaku pada objek dekat, seperti saat bekerja di depan layar laptop.

Caranya, setelah 20 menit melihat objek dekat, alihkan pandangan untuk melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

“Dengan mengalihkan fokus pandangan ke jarak jauh, otot-otot mata kita dapat berelaksasi. Hal ini setidaknya dapat mengurangi risiko computer vision syndrome atau kelelahan mata akibat intensitas menatap dekat dalam jangka waktu yang panjang,” pungkasnya.

Teknik ini membantu meredakan kelelahan mata akibat aktivitas jarak dekat, bukan mencegah presbiopia itu sendiri secara biologis, karena seperti dijelaskan di atas, presbiopia pada dasarnya adalah proses penuaan lensa yang tidak sepenuhnya bisa dihindari.

Setelah Presbiopia Muncul, Apa Solusinya?

Karena presbiopia adalah bagian dari penuaan alami yang dialami hampir semua orang, pertanyaan yang lebih relevan bagi kebanyakan orang bukan “bagaimana mencegahnya selamanya”, melainkan “bagaimana mengelolanya dengan baik”. Beberapa opsi koreksi yang tersedia secara medis meliputi kacamata baca, lensa progresif/multifokal (mengoreksi penglihatan jauh dan dekat sekaligus dalam satu lensa), lensa kontak multifokal, hingga prosedur bedah refraktif berbasis laser bagi kandidat yang memenuhi syarat dan ingin mengurangi ketergantungan pada kacamata.

Mengingat besarnya kesenjangan koreksi presbiopia secara global, khususnya di negara berkembang, langkah paling penting yang bisa dilakukan siapa pun adalah tidak menunda pemeriksaan mata rutin begitu mulai merasakan kesulitan fokus jarak dekat, alih-alih menganggapnya sekadar gangguan sementara yang akan hilang sendiri.

Kesimpulan.

Presbiopia bukan penyakit yang bisa dicegah sepenuhnya, melainkan proses penuaan alami yang dialami hampir setiap orang, cepat atau lambat. Yang bisa dikendalikan adalah bagaimana kita meresponsnya, mengelola kelelahan mata melalui kebiasaan seperti teknik 20-20-20, memahami bahwa faktor genetik berperan besar dan berada di luar kendali kita, serta yang terpenting, tidak menunda koreksi penglihatan begitu gejalanya mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mengingat data global menunjukkan hampir separuh kasus presbiopia di dunia masih belum terkoreksi dengan baik.

Sumber & Referensi.

  • “Presbyopia.” StatPearls, National Library of Medicine (NCBI Bookshelf), NIH, 2025. ncbi.nlm.nih.gov.
  • Berdahl J, dkk. “Patient and Economic Burden of Presbyopia: A Systematic Literature Review.” Clinical Ophthalmology, 2020. PMC/NIH.
  • Fricke TR, dkk. “Global Prevalence of Presbyopia and Vision Impairment from Uncorrected Presbyopia.” Ophthalmology, 2018. healio.com.
  • “Potential Productivity Loss from Uncorrected and Under-Corrected Presbyopia in Low- and Middle-Income Countries.” PMC/NIH, 2022. ncbi.nlm.nih.gov.
  • Profil dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M — Mayapada Eye Centre. mayapadaeyecentre.com.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dokter mata profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Mengkaji secara kritis dampak kehidupan siber terhadap psikologi modern. Artikel-artikelnya berfokus pada fenomena kecemasan akibat validasi media sosial (seperti obsesi terhadap metrik engagement dan click-through rate), bahaya doomscrolling, serta panduan detoks digital untuk menjaga kesehatan mental.