Rahasia Pemulihan Kanker Payudara Usai Mastektomi

Cerupon.web.id – Bagi penyintas kanker payudara, perjalanan tidak berakhir saat operasi mastektomi selesai. Fase pemulihan justru menandai babak baru yang menuntut dukungan menyeluruh, fisik maupun emosional.

“Mastektomi bukanlah akhir dari perjalanan pasien kanker payudara, melainkan awal dari proses adaptasi terhadap perubahan fisik dan emosional, serta pemulihan kualitas hidup,” kata dr. Dharmayanti Francisca Badudu, Sp.B(K)Onk, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi di Mayapada Hospital Bandung.

Minggu Pertama, Pemulihan Fisik Dasar.

Fokus utama pasca operasi adalah penyembuhan luka bedah, manajemen nyeri, serta memulihkan pergerakan lengan dan bahu. Pengawasan medis berkala di fase ini penting untuk memastikan penyembuhan berjalan baik sekaligus mendeteksi komplikasi sejak dini.

Komplikasi yang Sering Terlewati, Limfedema.

Ini bagian yang penting namun sering tidak dibahas tuntas, jika kelenjar getah bening di ketiak turut diangkat saat operasi (prosedur umum untuk memeriksa penyebaran kanker), risiko limfedema, pembengkakan kronis pada lengan akibat gangguan aliran cairan getah bening meningkat, bahkan berpotensi berlangsung seumur hidup.

Gejala yang perlu diwaspadai:

  • Lengan, tangan, atau area dada terasa berat, kencang, atau bengkak.
  • Cincin, jam tangan, atau lengan baju terasa lebih sempit dari biasanya.
  • Bahu terasa kaku atau nyeri yang tidak kunjung membaik.

Limfedema tidak selalu muncul, bisa berkembang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah operasi, termasuk setelah terapi radiasi yang juga bisa memicu jaringan parut di saluran getah bening. Fisioterapi dengan teknik lymphatic drainage massage serta latihan peregangan-penguatan lengan (biasanya dimulai 4-6 minggu pasca operasi, dengan pendampingan fisioterapis) adalah langkah pencegahan dan penanganan utama.

Untuk kasus yang lebih berat, prosedur bedah mikro seperti lymphaticovenous anastomosis (LVA) kini juga tersedia di beberapa rumah sakit di Indonesia.

Menentukan Terapi Lanjutan.

Setelah fase pemulihan awal, pasien menjalani evaluasi klinis komprehensif untuk menentukan kebutuhan terapi tambahan, kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, atau terapi target.

“Setiap rencana perawatan disusun personal, mempertimbangkan jenis kanker, stadium, hasil patologi, serta profil unik setiap pasien,” jelas Dr. Francisca.

Peran Pencitraan dalam Memantau Hasil Terapi.

Dr. Lim Andreas, Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa pada kasus tertentu, teknologi pencitraan seperti PET-CT Scan atau SPECT-CT Scan berperan penting mengevaluasi respons tubuh terhadap terapi sekaligus mendeteksi potensi kekambuhan atau penyebaran baru.

Secara umum, PET-CT dan SPECT-CT menawarkan whole-body imaging yang lebih tajam dibanding pencitraan konvensional, dan sebelumnya sering membuat pasien Indonesia mencari layanan ini ke luar negeri.

Saat ini teknologi tersebut sudah tersedia di sejumlah rumah sakit dalam negeri, salah satu contohnya Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Meski jumlah fasilitas yang menyediakannya di Indonesia secara nasional masih terbatas.

Adaptasi Fisik dan Psikologis.

Perubahan fisik pasca mastektomi kerap membawa dampak psikologis yang tidak kalah besar dari pemulihan fisik itu sendiri. Sebagian pasien mempertimbangkan rekonstruksi payudara untuk mengembalikan kontur tubuh, waktu pelaksanaannya bervariasi dan memerlukan konsultasi mendalam sesuai kondisi dan preferensi masing-masing pasien.

Bagi yang memilih tidak menjalani rekonstruksi, penggunaan prostesis payudara (bentuk payudara buatan yang diletakkan di dalam bra) adalah opsi lain untuk mengembalikan bentuk tubuh dan rasa percaya diri.

Dukungan berkelanjutan selama masa adaptasi ini, baik dari tenaga kesehatan, kelompok sesama penyintas, keluarga, maupun pendamping pasien (patient navigator) di rumah sakit tempat menjalani perawatan, berperan besar membantu pasien merasa tidak sendirian menghadapi prosesnya.

Bukan Hanya untuk yang Mampu ke Rumah Sakit Premium.

Penting dipahami, penanganan kanker payudara, termasuk mastektomi, kemoterapi, radioterapi, hingga sebagian prosedur rekonstruksi pada dasarnya termasuk dalam layanan yang dapat ditanggung BPJS Kesehatan di rumah sakit rujukan berjenjang, bukan eksklusif hanya di rumah sakit swasta premium. Bagi pasien yang mempertimbangkan opsi perawatan, ada baiknya menanyakan ke dokter atau petugas BPJS di faskes rujukan soal cakupan spesifik sesuai kondisi masing-masing.

Kesimpulan.

Pemulihan pasca mastektomi adalah proses bertahap yang melibatkan lebih dari sekadar penyembuhan luka, mulai dari pemantauan komplikasi seperti limfedema, pengambilan keputusan terapi lanjutan, hingga adaptasi psikologis dan pertimbangan rekonstruksi.

Memahami tahapan ini membantu pasien dan keluarga tahu apa yang perlu diwaspadai dan didiskusikan dengan tim medis di sepanjang perjalanan pemulihan.

Sumber & Referensi.

  • detikHealth, “Setelah Mastektomi, Bagaimana Proses Pemulihan Kanker Payudara?” (19 Juni 2026). health.detik.com.
  • Mandaya Hospital Group, penjelasan limfedema dan LVA pasca mastektomi. mandayahospitalgroup.com.
  • Kompas.com, “Bukan Akhir Perjalanan, Ini Pentingnya Perawatan Tepat Setelah Mastektomi” – kutipan Dr. Dharmayanti Francisca Badudu (19 Juni 2026). health.kompas.com.
  • BPJS Kesehatan. Pedoman Manfaat Pelayanan Kanker bagi Peserta JKN. (12 November 2025). bpjs-kesehatan.go.id.

* Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Artikel ini terakhir diperbarui pada: WIB.

Mengkaji secara kritis dampak kehidupan siber terhadap psikologi modern. Artikel-artikelnya berfokus pada fenomena kecemasan akibat validasi media sosial (seperti obsesi terhadap metrik engagement dan click-through rate), bahaya doomscrolling, serta panduan detoks digital untuk menjaga kesehatan mental.